Oleh: Yusrizal Ibrahim Lamno*
Berita mengejutkan datang dari Istana pada peringatan Hari Pahlawan lalu. Presiden Prabowo menetapkan sepuluh tokoh baru sebagai Pahlawan Nasional. Di antara nama-nama besar yang diumumkan -- mulai dari tokoh hukum Mochtar Kusumaatmadja hingga aktivis buruh Marsinah -- ada satu nama yang tak muncul, padahal sempat sangat diharapkan: seorang pejuang asal Aceh, kakek dari seorang wakil menteri aktif di kabinet sekarang.
Masyarakat Aceh terperanjat. Mereka yakin usulan tersebut bakal mulus, karena nama besar keluarga sang cucu yang kini duduk di lingkaran kekuasaan. Apalagi, ketika melihat seorang tokoh yang juga mantan mertua presiden -- yang sempat menuai kontroversi historis -- justru berhasil lolos dan dinobatkan sebagai pahlawan nasional. Maka wajar bila sebagian publik bertanya sinis: “Kalau mertua boleh, kenapa kakek tidak?”
Namun, di sinilah politik simbolik bekerja. Ada yang membaca keputusan itu sebagai tanda kecil dari sebuah perlawanan halus terhadap budaya nepotisme yang sudah menahun. Bahwa, meskipun nepotisme belum benar-benar sirna, ia kini -- mungkin -- mulai “dikelola” dengan etika tertentu. Sebuah bentuk “nepotisme baru yang adil dan beradab,” kalau istilah tersebut tidak terlalu menyakitkan telinga.
Bayangan KKN di Balik Gelar Kehormatan
Spekulasi pun beredar di ruang publik. Ada yang berbisik bahwa nama calon pahlawan dari Aceh itu sengaja tidak disertakan karena berpotensi menimbulkan kesan “nepotisme berjamaah.” Sebab, di antara para kandidat tahun ini, terdapat pula tokoh lain -- kakek dari seorang menteri koordinator yang juga merupakan mertua mantan presiden. Bila keduanya lolos bersamaan, bayangan KKN versi sejarah bisa saja mencoreng upacara kenegaraan yang sakral tersebut.
Dengan demikian, tidak meloloskan satu di antaranya mungkin menjadi semacam langkah kompromi. Sebuah kalkulasi politik untuk menjaga “jarak moral” dari tuduhan publik, tanpa harus sepenuhnya melepaskan diri dari tradisi patrimonial yang sudah mengakar di tubuh birokrasi Indonesia sejak lama itu.