Stand Subulussalam di Acara Aceh Culinary Festival Tidak Wajar, Yapkessi Akan Surati Walikota Subulussalam 

Redaksi 07 Juli 2019 | 08:04 123
Stand Subulussalam di Acara Aceh Culinary Festival Tidak Wajar, Yapkessi Akan Surati Walikota Subulussalam 

(Foto Ist)

Koran Independen.co. Banda Aceh - Yayasan Pelestarian Kebudayaan Suku Singkil (Yapkessi) menyayangkan kinerja PKK Kota Subulussalam serta Dinas terkait yang terlibat dalam acara Aceh Culinary Festival (ACF) di Banda Aceh, 06/07/2019. 

Wakil Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan (Yapkessi) Muzir Maha menilai sebagian sajian kuliner Subulussalam ditampilkan oleh Stand Kota Subulussalam sungguh tidak mencerminkan kekhasan makanan Subulussalam. Saat ia berkunjung ia menemukan ada makanan khas daerah lain disana seperti Peleung yang notabenenya merupakan masakan khas Pakpak. "Peleng, itu bukan makanan khas kita orang Singkil, itu kuliner dari Kabupaten Pakpak, Sumut. Sejatinya kita sangat toleransi dengan suku lain, tapi tolong jangan kangkangi etnis Singkil yang ada di Kota Subulussalam ini, kan makanan Pelleung di kota asalnya memang sudah terkenal." Ujar Muzir.

Tapi saya kira kalo misal Pelleung itu kita klaim masakan Khas Subulussalam (Aceh) saya rasa pasti saudara kita di Pakpak, Dairi tidak sepakat karena itu makanan khas dari leluhur meraka, begitu juga dengan warga asli Subulussalam, Aceh itukan ada lembaga MAA yang mengurusi bidang adat kebudayaan kan konyol jika masakan daerah lain nyasar ke daerah kita," Katanya.

Begitu juga dengan Pakaiannya adat yang di kenakan oleh duta wisata Subulussalam pada even tersebut bukanlah pakaian adat suku Singkil, Muzir menilai ini sangat melukai hati masyarakat asli kota Subulussalam, yang mayoritas suku Singkil.

Kita tahu memang Walikota kita H. Affan Alfian Bintang kalo tidak salah merupakan suku Pakpak namun harapan kita terkait masalah identitas daerah tolong jangan di preteli, bisa menyebabkan konflik antar suku jadinya, ini sangat sensitif karena ini jati diri sebuah daerah, saya rasa kita bukan alergi dengan suku lain, namun ini kan menyangkut marwah daerah, karena sebelumnya dalam even yang sama tidak pernah ada makanan Peleung tampil, kok sekarang sudah ada, pasti orang lain menilai kita tidak konsisten makanan apa sebenarnya yang berasal dari Subulussalam.

Mestinya kegiatan Aceh Culinary Festival ini tujuannya adalah mempromosikan dan melestarikan kuliner khas Aceh ke masyarakat luar baik dalam maupun luar negeri, kegiatan even bertaraf internasional ini seharusnya menjadi momen penting bagi kota Subulussalam untuk menunjukkan jati diri daerah, bawaannya kota Subulussalam juga memiliki masakan khas yang tak kalah enak nya dengan masakan daerah lainya. 

"Itu artinya kita harus pandai meletakkan sesuatu pada tempatnya, jika alasannya karena di Subulusalam ada suku Pakpak kenapa tidak dengan makanan atau adat khas suku Jawa, makanan khas Aceh, makanan atau adat khas suku Nias toh juga meraka ada di sana" lanjut Muzir.

Pihaknya nanti akan segera menyurati Walikota Subulussalam dan dinas terkait dalam waktu dekat ini, terkait kekeliruan yang terjadi saat acara Aceh Culinary Festival berlangsung. 

Muzir juga berharap kegiatan-kegiatan selanjutnya harus ada regulasi yang mengikat agar setiap pagelaran tidak asal caplok.  Adat dan budaya setempat yang harus ditampilkan yaitu adat budaya kita  Suku Singkil. (Red)