Covid-19 Ditinjau Dari Aspek Agama dan Budaya

Redaksi 23 November 2020 | 21:46 196
Covid-19 Ditinjau Dari Aspek Agama dan Budaya

Ritami Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry

Oleh Ritami
Mahasiswi Prodi Sosiologi Agama
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat
UIN Ar-Raniry

CoronaVirus adalah Virus yang sedang mewabah di  masyarakat, dapat menyerang manusia dan hewan dan diketahui dapat menyebabkan injeksi saluran pernapasan mulai dari baruk dan pilek hingga yang paling serius yang menyebabkan Coronavirus seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) Coronavirus jenis baru yang ditemukan menyebabkan penyakit COVID-19. COVID-19 ini adalah penyakit menular yang ditemukan pada akhir tahun 2019 di Wuhan, China.   

Coronavirus ini dapat menular dari kontak fisik atau sentuhan pada benda benda. Menurut penelitian coronavirus ini tidak menyebar melalui udara umumnya menular melalui kontah dengan percikan dari saluran pernapasan. 

Pandemi coronavirus ini sangat rentan tertular, diketahui data penyebaran virus ini sudah sampai disejumlah negara seperti Italia, Korea, Malaysia, Singapure, negara negara Asia dan bahkan sudah hampir diseluruh belahan dunia.   

Merujuk pada laman Covid19.go.id konfirmasi keseluruhan positif Coronavirus pada (09/05/2020) secara global, negara atau kawasan yang terjangkit sebanyak 215 negara, kasus terkonfirmasi sebanyak 3.862.676 jiwa, kematian sebanyak 265.961 jiwa. Di Indonesia sendiri penyebaran ini sangat cepat terjadi, positif sebanyak 12.071 jiwa, sembuh 2.197 dan meninggal 872. Angka ini terus meningkat sejak pertama dikonfirmasi Conavirus memasuki Indonesia. 

Pemberlakuan lockown disejumlah negara adalah untuk mengurangi penyebaran Coronavirus ini. Sama halnya di Indonesia surat edaran dari pemerintah mulai diterapkan pada pertengahan Maret lalu dan berlangsung sampai saat ini. Ditengah pandemi ini pemerintah memerintahkan lockdown bagi seluruh masyarakat. Sekolah-sekolah diliburkan proses tatap muka, dan berlangsung secara online, yang tidak ada keperluan dilarang keluar rumah, tempat tempat perbelanjaan sepi karena pandemi. 

Indonesia termasuk negara yang cepat memberlakukan lockdown tetapi karena masyarakat tidak melaksanakan seperti perintah angka kematian dan positif Coronavirus terus meningkat. Angka nilai bisa saja terus meningkat apabila kesadaran kita sebagai masyarakat tidak dibenah.  

Pemerintah terus berupaya keras dan berharap puncak pandemi Covid-19 akan segera menurun, sehingga kehidupan masyarakat bisa normal kembali. Namun, kata beberapa ahli ketika kasusnya sudah turun tidak6 langsung landai atau nol tapi bisa fluktuatif. bisa naik atau turun lagi. Artinya sampai ditemukannnya vaksin yang efektif kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan.

Sejak awal pemerintah memilih kebijakan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) mayarakat masih bisa beraktivitas akan tetapi sedikit dibatasi, dibatasi disini seperti kegiatan diluar rumah dan tempat tempat keramaian. Upaya tersebut dilakukan untuk menghambat penyebaran Covid-19, tetapi roda perekonomian tetap berjalan. Karena itulah masyarakat masih bisa beraktivitas secara terbatas tetapi harus disiplin mematuhi protokol kesehatan. 

Kedisiplinan kita dalam menjalani protokol. kedisiplinan warga serta kedisiplinan dan peran aparat yang bekerja tepat dan mengatur masyarakat. Dikutip dari Instagram Jokowi pada Kamis (7/5) lalu. Kalau kita lihat pemerintah kita memberlakukan PSBB yang berarti masyarakat masih bisa beraktivitas hanya saja dibatasi, tidak seperti negara negara lain seperti malaysia dan sinagapure yang memberlakukan lockdown secara keseluruhan.

Namun tingkat angka kematian sangat tinggi di negara kita daripada negara tetangga, hal ini terjadi bisa dikarenakan kurang tanggapnya masyarakat dalam menerapkan himbauan pemerintah. Kehidupan sosial manusia tidak pernah lepas dari budaya, politik, ras, suku bangsa, Agama, dan bagaimana mereka menjalani kehidupannya. 

Budaya menjadi hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia karena budaya tersebutlah yang menjadi dasar atau pegangan kehidupan manusia. Virus Covid-19 bisa semakin parah di desa-desa juga karena budaya yang diterapkan di desa masih sangat minim, Oleh karenanya sangat penting untuk mengetahui bagaimana seharusnya budaya mempengaruhi kehidupan masyarakat di desa terlepas dari agama juga menjadi pedoman dalamy menyikapi kasus corona virus yaang sedang terjadi saat ini. 

Kehidupan yang dijalani oleh kebanyakan masayarakat Indonesia dinilai tidak terlau efektif dalam mencegah penyebaran virus Corona. Oleh karenanya PSBB yang diterapkan menghimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk tetap dirumah saja, Dinilai dari aspek agama, PSBB yang melarang masyarakat untuk tidak ke tempat ibadah merupakan salah satu tindakan untuk mengurangi virus, dan ibadah masih bisa dilakukan meskipun dirumah.

Selanjutnya dari segi budaya yang berlaku di Indonesia, penyebaran virus ini bisa semakin cepat karena kebanyakan mayarakat Indonesia menerapkan budaya berjabat tangan, dengan begitu maka akan semakin cepat penularan virus corona. 

Dalam kasus seperti di atas maka tidak ke tempat ibadah. Apalagi di desa dengan segala keterbatasan yang ada seperti minim ilmu kesehatan terkait Covid-19. dari aspek budaya tidak melakukan jabat tangan merupakan tindakan yang sangat tepat, karena Indonesia masih dalam keadaan yang sangat tidak stabil. Dari segi agama maupun budaya tidak masalah jika pengambilan kepitusan yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama.

Hal-hal yang termasuk di dalam budaya yaitu suatu nilai, sikap, dan aspek material budaya itu sendiri. Salah satu istilah yang digunakan untuk menggambarkan budaya secara keseluruhan dan secara kolektif disebut dengan pola budaya. 

Budaya merujuk pada salah satu situasi yang berkontribusi dan bagaimana cara yang dilakukan oleh setiap anggota di dalam sebuah organisasi atau komunitas tertentu, dan bagaimana cara pandang mereka dan cara berpikir terhadap virus corona yang sedang terjadi di seluruh dunia.

Jadi dapat dijelaskan secara keseluruhan bahwa dari aspek agama dan budaya, dalam rangka meminimalkan kasus covid-19 maka tidak masalah untuk tidak menerapkan praktek agama maupun budaya ditengah situasi yang tidak stabil seperti saat ini. Semoga!