Maraknya KDRT di Tengah Pandemi

Redaksi 30 November 2020 | 23:51 71
Maraknya KDRT di Tengah Pandemi

Muyassir Mahasiswa UINĀ Ar-Raniry Banda Aceh Prodi Sosiologi Agama

Oleh Muyassir
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Prodi Sosiologi Agama

Covid-19 bukan lagi wabah yang menyebabkan kita jatuh sakit mulai dari sesak nafas, batuk-batuk hingga meninggal dunia. Ia lebih dari itu melainkan seperti monster yang sudah merasuki ke dalam banyak masyarakat terutama keluarga yang kurang mampu, di sebabkan banyak yang di PHK, krisis ekonomi  karena hilangnya pekerjaan yang menjadi penopang hidup bagi mereka.

Di Aceh dampak yang paling tragis adalah krisisnya ekonomi, banyak masyarakat kehilangan atau menurunnya omset pendapatan mereka disebabkan karena diberlakukannya lockdown oleh pemerintah. Warung-warung kecil yang biasanya kebanyakan pembeli hanya sisiwa dan mahasiswa kini berubah drastis menjadi 180º akibat diliburkannya sekolah dan kampus.

Di sisi lain dampak dari pandemic juga menyebabkan banyaknya kasus KDRT. Ibu rumah tangga yang harus mampu melakukan berbagai peran membagi waktu mengurus anak, mengerjakan pekerjaaan diluar dan melayani suaminya dirumah. Diketika semua itu tidak terpenuhi maka rentan menjadi target tindak kekerasan. Di Indonesia, perempuan dianggap bertanggung jawab dalam menyiapkan dan menyediakan makanan. Namun, nyatanya pandemic inilah yang membuat perempuan kesulitan untuk memenuhi tanggung jawab tersebut.

Dilansir dari Serambinews.com Aceh menduduki urutan ke-9 (298 kasus) pada 2020, sebelumnya pada urutan ke-16 (167 kasus) pada 2019, dan urutan ke-14 pada 2018 (290 kasus) tingkat kekerasan berbasis gender di Indonesia.
Dari data ini kita tahu, kelompok yang rentan terhadap kekerasan dalam rumah tangga adalah perempuan dan anak. Mereka menjadi objek atau tempat menuangkan kekesalah laki-laki yang dianggap sebagai kepala keluarga.

Karena kepala keluarga merasa dirinya menguasai istri dan anak, dengan sangat mudah laki-laki menyakiti mereka. Kita tahu memang sebagian laki-laki masih menganggap perempuan sebagai asset yang bisa dimainkan sesuka hati empunya.

Dalam keadaan seperti ini, bentuk atau sikap membenci perempuan dengan drastis bertambah. Korban yang mengalami ketidakdilan juga cenderung tidak punya keberanian melapor tindak kekerasan tersebut. Alhasil, mereka korban tergangu secara psikologi dan berpotensi mengalami gangguan mental.

Pandemi ini telah menyebabkan banyak orang mengalami pemotongan gaji bahkan kehilangan pekerjaan. Ketika pendapatan rumah tangga berkurang maka ketegangan pun akan meningkat dalam keluarga. Si ibulah yang menjadi sasaran utama oleh suami menjadikan finansial sebagai alasan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan.

Kita sering kali melihat bahwa korban KDRT berasal dari rumah tangga miskin. Tekanan demi tekanan terus menimpa dari sisi kesehatan maupun ekonomi ditambah lagi pemerintah menerapkan anjuran protocol kesehatan dimanapun kita berada. Dan konflik pun terjadi dengan begitu banyaknya beban yang menimpanya. Ketika perempuan menjadi rentan karena meningkatnya beban domestic dan kesulitan ekonomi, kebijakan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19 justru menyebabkan perempuan kesulitan untuk mencari bantuan ketika mengalami kekerasan.   

Dari banyaknya tindak kekerasan yang terjadi di Aceh, justru banyak perempuan akhirnya lebih memilih jalan ke pengadilan dengan melakukan gugatan cerai. Sebagian melaporkan karena sering terjadinya tindak kekerasan ada juga yang melaporkan dengan alasan tidak bisa membiayai hidup keluarga karena hilangnya pekerjaan si suami.
Akhir-akhir ini yang terjadi di Aceh malahan gugatan cerai terjadi disebabkan gara-gara suami terlalu berlalu lalang dengan game Chip Domino.

Dilansir dari Kabar Aceh, Tiga perkara gugatan cerai oleh istri dikarenakan akibat suami kecanduan bermain game high domino, sehingga sering membeli chip domino dan melupakan kebutuhan keluarganya. 

Dengan segala permasalahan yang ada, baik yang disebabkan oleh terpuruknya ekonomi di tengah pandemi, atau kekerasan yang disebabkan oleh arogansi kaum laki-laki. Tidak bisa dibiarkan begitu saja, karena perempuan sudah lama menjadi kaum tertindas, mereka hidup dalam usaha memerdekaan dirinya. Kendati peradaban telah curang kepada mereka perempuan, tetap mereka adalah pahlawan keadilan.

Terlepas dari semua tindak kekerasan yang terjadi di masa pandemic, bukan berarti pandemilah penyebab utamanya. Dalam gambaran sejarah kita tahu bahwa perempuan selalu menjadi korban ketidakadilan, seperti penglabelan negative terhadap mereka, akses ruang public yang terbatas, hingga masalah keadilan dalam rumah tangga.
Seolah-olah perempuanlah yang mempunyai tanggung jawab mengurus keluarga, mendidik anak, hingga kegiatan bersih-bersih rumah, segala jenis ketidakadilan ini direkam sejarah sebagai pembelajaran penting tentang keadialan.
Menurut saya, system peradaban yang memasang budaya patriarki sudah selayak di tinggalkan.

Apalagi di tengah perkembangan zaman yang sedemikian pesat ini. Jangan sampai kita tertinggal karena buta huruf tentang sejarah ketidakdilan. Bahkan, dalam ajaran agamapun perempuan memang tidak untuk ditindas, kita setara sebagai manusia.

Seperti kata Najwa Shihab ‘’Perempuan sebenarnya multi peran dan semuanya hadir dengan tuntutan, tidak ada satupun perempuan yang kekurangan pekerjaan bisa menjadi pengurus komite di sekolah, pengajian ibu-ibu, menjadi istri, dan sebaginya. Di era digital ini perempuan pun bisa bekerja dengan berbagai variasi dengan kemampuan yang dimiliki. Dan bisa kita lihat dengan begitu bahwa jumlah perempuan luar biasa begitu banyaknya.

Tapi dukungan yang diberikan baik dari lingkungan maupun kebijakan sering kali tidak sepadan dengan kontribusi yang diberikan. Apapun karya yang dilakukan diluar dari peran sebagai ibu terkadang memunculkan kekhawatiran. Sudahkah menjadi ibu yang baik? Padahal ibu yang bekerja berapapun waktunya jelas tetap ibu sepenuh waktu’’

Cara pandang dunia seperti itulah terhadap perempuan yang membuat mereka tertindas seolah-olah perempuan tidak bisa berbuat apa-apa cukup hanya menjadi istri yang baik dan patuh terhadap suaminya. Dengan demikian, perempuan terus dijadikan monument dalam rumah tangga. Ia tidak bebas melakukan apa yang ia kehendaki. Alhasil, perempuan-perempuan terus terbelenggu dalam arogansi laki-laki.

Sampai kapankah fenomena ini terus berlanjut, tentu ini menjadi tugas kita semua. Bukan sekedar memberi jawaban akan tetapi menjadi jawaban atas permasalahan ini.

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari permasalahan ini, haruslah menjadi sebuah titik-tolak untuk kita dapat mengubah keadaan.  Jadi bukan Cuma tugas perempuan, namun tugas kita bersama dalam melahirkan keadilan bagi peradaban. Pemerintah juga harus turun-tangan mengatasi masalah ini, agar segala jenis ketidakadilan pada perempuan dan anak dapat dihentikan dengan segera mungkin. 

Pemerintah tidak boleh apatis terhadap permasalahan yang sudah menjadi tanggung jawab Negara untuk melindungi segenap bangsa dan diiringi dengan sikap keberanian perempuan untuk mendobrak permasalahan yang sudah menjadi kultur peradaban kuno ini.

Memang bukanlah hal yang mudah karena tekanan muncul bukan hanya dari lingkungan sekitar bahkan terdekat tapi juga dari keraguan dalam diri yang kerap membuat perempuan merasa bersalah. Wajar memang jika tetap masih ada keraguan, keputusan seorang perempuan biasanya didasari oleh pertimbangan yang sangat berat.

Semakin berat pertimbangannya semakin tidak merdeka perempuan dalam mengambil sikap.Memang sebagian perempuan munkin punya kemerdekan tapi dunia terus berputar, ada sebagian perempuan yang masih terus dikekang, dibatasi kemerdekaannya.

Tugas perempuan yang diberkahi hanya cukup dengan kemerdekaan dan mendorong perempuan lain untuk lebih berani dalam menunjukkan sikap. Mari!