Aktivis SPMA Katakan PLTA Lae Sokhaya Adalah Proyek Strategis, Konyol Jika Ditolak

Redaksi 01 Juli 2019 | 09:21 206
Aktivis SPMA Katakan PLTA Lae Sokhaya Adalah Proyek Strategis, Konyol Jika Ditolak

Foto : Muzir Maha

Koran Independen.co - Subulussalam - Banyak yang asal ceplas ceplos dan salah persepsi terkait rencana pemerintah kota Subulussalam akan pemberian izin pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau energi terbarukan dengan pihak PT. ADE bersama Konsorsium Hyundai Enginering dan Conructions. Sebagian tidak memahami prosudural langsung mengatakan menolak. Pernyataan ini disampaikan aktivis Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Muzir Maha (01/07/2019)

"Kapan kita maju jika terus membuat kontra yang saya rasa itu merugikan kita dengan potensi alam yang begitu besar lalu kita sia-siakan kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup masyarakat kita, kita harus banyak membaca dan melihat informasi di luar, negara lain sudah menikmati dari dulu bagaimana cina menjadi produsen tenaga air terbesar yaitu 920 TWh atau 16, 9% dari kebutuhan listrik domestik, begitu juga di daerah lain di Indonesia sperti PLTA Kota Panjang provinsi Riau lalu kemudian di Aceh ada PLTA yang berada di Woyla Kab. Meulaboh dan beberapa tempat lain.' Ujar Muzir.

Kita harus pandai memilah jangan semua kita sama ratakan, Pembangkit Listrik Tenaga Air ini tidak seperti pembangkit listrik Batubara atau pembangkit berbahan bakar fosil lainnya, yang tidak dapat diperbaharui. Ongkos listrik tenaga air lebih rendah, dan tidak akan menghabiskan air, karena PLTA hanya mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik. 

"Agar kita tahu Aceh sampai saat ini masih defisit energi listrik, mestinya kita harus memberikan ruang ketika ada investor yang ingin berinvestasi di tempat kita, dengan investasi sekitar 3.6 triliun dapat menghasilkan daya hingga 126 MW. Tentunya dengan cukupnya pasokan listrik di Aceh khususnya Subulussalam mendapatkan ke untungan bagi kita yaitu berkembang nya industri rumahan atau industri skala kecil lainya, akibat lancar nya pasokan listrik, sehingga ekonomi masyarakat pun meningkat tajam," sebut Muzir yang juga merupakan mahasiswa asal Sultan Daulat. 

Ia juga menyampaikan, jangan sedikit-sedikit kita selalu mengaitkan dengan persoalan lingkungan padahal sebenarnya tidak terlalu urgent, perusahaan itu juga memiliki aturan dan prospek kerja, mereka tentunya lebih paham akan dampak sosial dan lingkungan sekitar dan mereka pastinya memiliki keahlian di bidang itu. Kita harus paham tanggungan perusahaan itu jelas pertama Lingkungan kedua Ekonomi dan terakhir Sosial, jadi tak perlu terlalu lebay untuk mengkhawatirkan. 

Muzir beranggapan, alasan hutan lindung  bukanlah pokok permasalahan, sehingga terhentinya proyek strategis ini, sebagai mana di atur dalam Undang-undang pemerintah Republik Indonesia nomor 24 tahun 2010 tentang penggunaan kawasan hutan. Di dalam pasal 4 poin satu dijelaskan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan diluar kegiatan kehutanan dapat dilakukan untuk kegiatan yang memiliki tujuan strategis. Dan upaya pembangunan PLTA tersebut saya kira sah-sah aja, kali ini saya mendukung pemerintah kota Subulussalam, bukankan dengan adanya perusahaan tersebut pekerjaan kita lebih terjamin, ya tentu saja secara otomatis pihak perusahaan akan memakai masyarakat sekitar untuk bekerja di perusahaan tersebut sesui amanah UUD 1945.

Malah Muzir lebih sepakat HGU perkebunan kelapa sawit yang bermasalah di Subulusalam agar di cabut izin nya, coba kita saksikan berapa puluh ribu hektare hutan kita yg sudah di rusak, meskipun ia hutan produksi tapi dampak nyatanya bisa kita lihat dan rasakan, pembukaan lahan dengan alat berat tanpa melihat sumber kehidupan di dalam nya, bahkan sungai-sungai yang dulunya jernih dan bersih kini berlumpur dan tak layak untuk di minum salah satunya sungai Rikit yang berada di desa Namo Buaya kini air tersebut tercemar akibat pembukaan lahan perusahaan kelapa sawit di hulu, bahkan ketika saya mengecek langsung ke perkebunan tersebut Daerah Aliran Sungai dan mata air yang dulunya rimbun dengan pohon besar kini datar dengan tanah, kenapa tidak itu yang kita persoalkan padahal dampak nya sudah nyata. (MM)