S2-SHaF Kritisi Sajian Makanan Khas Subulussalam Dalam Even ACF 2019

Redaksi 07 Juli 2019 | 08:10 126
S2-SHaF Kritisi Sajian Makanan Khas Subulussalam Dalam Even ACF 2019

(Foto Ist)

Koran Independen.co. - Subulussalam -  Sanggar Seni Shekh Hamzah Fansuri (S2-SHaF) Banda Aceh menyayangkan tampilan dan sajian khas daerah Subulussalam pada acara Aceh Culinary Festival 2019 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh 5-7 Juli 2019. 

Ogek Liza Delima selaku pendiri S2-SHaF melihat tampilan stand kota Subulussalam sangat jauh berbeda mulai dari segi orname  yang di pakai dalam anjungan hingga makanan yang disajikan. hal ini disampaikan sabtu 06-07-2019

"Makanan khas Subulussalam yang mestinya dapat dijual tidak ada dalam bentuk kemasan seperti Lompong sagu, Nditak, Delawakh Manuk, Ikan Itu kekhah, mestinya makanan ini yang harus di promosikan," pungkas Ogek Delima.

Menurut Ogek Delima makanan yang di sajikan stand Subulussalam dalam Aceh Culinary Festival itu tidak seperti menonjolka ciri khas daerah Subulussalam malahan yang menonjol lebih ke daerah Pakpak salah satunya Pelleng disini kita berbicara tradisional daerah atau etnik, maka sebutan dan sajian daerah itu jangan dihilangkan. 

"Ketika semalam saya berkunjung ke anjungan Subulussalam saya juga  mendengarkan musik yang memang tidak identik dengan masyarakat kota Subulussalam yaitu musik menortokh, ini kan bukan musik biasa yang sering kita dengarkan di Subulusalam Singkil, kenapa bukan medendang atau gambus, ini menjadi sebuah kekeliruan dan pendangkalan sejarah adat Suku Singkil," lanjutnya.

Jika pemerintah atau dinas terkait tidak paham dengan adat budaya daerah Subulussalam seharusnya sosialisasikan terlebih dahulu pada tokoh-tokoh adat Budaya yang mengerti makanan khas Subulussalam yang mayoritas suku Singkil, kira-kira apa saja makanan/kuliner daerah yang wajar di tampil untuk menjaga jati diri masyarakat Singkil, semoga pemerintahan kedepan lebih bijak dalam menjaga identitas daerah agar kerukunan dan kedamaian bermasyarakat dapat selalu terjaga. (Red)