Tim Aswaja Sepakati Base Jam Tak Tampil Tapi Dialihkan ke Promosi Kuliner Aceh

Redaksi 07 Juli 2019 | 12:42 194
Tim Aswaja Sepakati Base Jam Tak Tampil Tapi Dialihkan ke Promosi Kuliner Aceh

(Foto Ist)

Koran Independen.co. Banda Aceh - Jagad Maya Aceh dihebohkan oleh rencana penampilan grup band asal ibukota,  Base Jam di perhelatan tahunan Aceh Culinary Festival (ACF) 2019.

Festival kuliner terbesar di Aceh ini diselenggarakan 5 - 7 Juli 2019 mendatang, acara ACF dipusatkan di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh.

Protes warganet bermula dari desain poster yang beredar di berbagai platfrom media sosial Aceh dengan posisi karikatur Mesjid Raya Baiturrahman di bawah personil grup band yang tidak berbusana sesuai dengan peraturan daerah Aceh yang menerapkan syariat Islam.

Dari pertemuan dinas Budpar Aceh bersama tim ahlussunah waljamaah (aswaja) Aceh di salah satu warung di Banda Aceh, diketahui desain poster tersebut, di buat oleh tim kreatif Generasi Pesona Indonesia (GenPI) di bawah Kementerian Parawisata (Kemenpar) Republik Indonesia, bukan desain dinas Budpar Aceh.

"Dan untuk itu, Budpar Aceh sudah meminta  mencabut konten tersebut, Kemenpar sudah meminta maaf atas kekhilafan tim mereka." terang Ust Umar Rafsanjani selaku ketua tim Aswaja Aceh.

Sesuai kesepakatan Tim aswaja dengan kadis budpar Aceh meminta Base Jam tidak tampil dengan iringan musik pada malam penutupan ACF, Namun hanya meng-endorse dan mempromosikan Kuliner Aceh di tingkat nasional dan manca negera.

Jamaluddin, Kadis Budpar mengapresiasi kedatangan tokoh-tokoh peduli agama dan syariat, pemerintah memang harus berkoordinasi baik antara ulama dan umara sesuai perintah UU atau Qanun Aceh.

Dalam pertemuan singkat itu FPI Banda Aceh juga mengeluarkan sikap, "Bila kesepatakan tersebut tidak diindahkan atau dilanggar jika terjadi keributan malam penutupan, itu diluar tanggung jawab kami."  Demikian kata Dedi Mubarak dan kawan-kawan.

Di tempat terpisah Tgk Mustafa Woyla Jubir DPP Ikatan Sarjana Alumni Dayah (ISAD) Aceh, kearifan lokal ureung Aceh, gröp, jungkat-jungkat, jampu inong agam sep brat pantang (goyang, jingkrak-jingkrak, campur laki perempuan, pantangan besar) apalagi di malam hari.

Maka semestinya, semua stakeholder pemerintah pusat, menghormati perda Aceh yang menerapkan syariat islam secara kaffah. Layaknya menghormati Bali dengan bentuk adat istiadatnya.

"Kita berharap cukup kali ini yang terakhir kealpaan stakeholder pemerintah pusat terkait event musik, konser atau unsur lain yang melanggar syariat islam. Juga kepada semua pemerintah Kabupaten Kota agar menghindari membuat konser di malam hari. Karena peluang maksiat sangatlah besar jika bukan siang hari." tutup Mustafa Woyla yang jubir FPI Aceh.

Dalam pertemuan singkat itu dihadiri oleh Tgk Umar Rafsanjani, Lc,. MA, Ketua Tastafi Banda Aceh, perwakilan FPI Banda Aceh, perwakilan dayah, mesjid dan masyarakat yang di dampingi oleh Tgk Muhammad Balia. [Red/Mustafa W]