Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Kemakmuran Umat Islam

Redaksi 08 November 2019 | 09:23 126
Menjadikan Masjid Sebagai Pusat Kemakmuran Umat Islam

Ist

Oleh  Hamdani,SE,M.Si
Jamaah Masjid Nurul Huda, Peunyerat, Banda Aceh dan Dosen Politeknik Kutaraja, Banda Aceh


“Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS, At-Taubah (9:18)

Masjid sebagai salah satu pusat kegiatan ummat menempati peranan sangat penting dalam proses perubahan sosial, terutama membangun aspek moral dan perilaku islami.

Sejak dulu masjid telah menjadi salah satu pilar kekuatan masyarakat Indonesia dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam di Aceh. Masjid adalah simbul sebuah masyarakat, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Semangat masyarakat Islam bukan hanya di Aceh bahkan di sejumlah daerah untuk membangun masjid sangat tinggi. Hal ini terbukti hampir seluruh kota dan gampong (baca: desa) di Aceh berdiri masjid dengan berbagai ukuran dan keindahannya. Hingga Aceh dijuluki dengan negeri sejuta masjid.

Tetapi semangat membangun masjid secara fisik belum diikuti dengan semangat memakmurkannya. Walaupun masjidnya terlihat besar dan megah, namun minim diisi oleh jamaah shalat dan sepi dari berbagai kegiatan yang bersifat membangun rohani ummat.

Kondisi ini patut disayangkan, oleh karena itu strategi untuk mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat seperti zaman Rasulullah Saw patut dipikirkan bersama. Masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk memakmurkan masjid-masjid yang ada disekitarnya. Menghidupkan suasana masjid tersebut dengan pendidikan, pengajian, dan dengan berbagai ibadah lainnya.

Karena itu strategi pengelolaan masjid merupakan suatu hal yang perlu mendapatkan perhatian secara terus menerus baik oleh pengelola maupun jama’ah sehingga kehadiran masjid dapat dirasakan manfaatnya secara signifikan oleh jama’ah terlebih lagi dalam menyahuti perkembangan masyarakat yang senantiasa dinamis dan kompleks.
Pengelolaan masjid atau diistilahkan dengan manajemen masjid penting dilakukan untuk mengoptimalkan seluruh potensi yang ada baik aset maupun sumber daya umat.

Sehingga strategi pencapaian kemakmuran masjid bagi kepentingan umat dan lingkungannya akan terwujud melalui tata kelola yang baik. Misalnya bagaimana manajemen masjid diterapkan pada bidang pembiayaan, pengelolaan dana umat, pembangunan masjid, ekonomi masjid, dan aspek pendidikan bagi masyarakat dan para jamaah.

Semua itu memerlukan sebuah upaya yang terus menerus serta konsisten dilakukan. Jika zaman dulu manajemen masjid sudah pernah dilakukan oleh negara-negara Islam seperti Turki, Saudi Arabia, Cordova, dan Mesir (sebagian masih eksis), lalu mengapa sekarang justru mengalami kemunduran?

Kini saatnya masjid-masjid di gampong-gampong yang sudah berdiri megah dengan arsitektur pembangunannya yang indah harus berperan lebih besar, pengelolaan masjid oleh pengurus yang diberikan amanah semestinya melakukan terobosan-terobosan sehingga kehadiran masjid dapat dirasakan secara signifikan manfaatnya oleh para jamaah terlebih lagi dalam bulan ramadan seperti ini.

Salah satu manfaat yang paling diharapkan perannya dari masjid adalah mampu menjadi pengawal dan kontrol sosial, pembinaan akhlak umat ditengah-tengah degradasi moral dewasa ini. Terbinanya iman seorang muslim merupakan modal dasar bagi terbentuknya masyarakat muslim. Karena itu, pembinaan pribadi muslim harus ditindaklanjuti ke arah pembinaan suatu masyarakat yang Islam dalam berbagai aspek. Termasuk masjid dapat menjalankan program-program ekonomi ummat.

Di dalam upaya pembinaan pembangunan, kemakmuran dan pemeliharaan yang lebih efektif dan efisien, diperlukan adanya pengurus yang mampu mengelola kegiatan kemasjidan secara menyeluruh dan bertanggung jawab. Pengurus dimaksud ditemukan hampir di setiap masjid, berbentuk badan yang bernama Badan Kemakmuran Masjid (BKM).

Apabila dilihat dari fungsinya, idealnya Badan Kemakmuran Masjid (BKM) berfungsi sebagai salah satu lembaga yang membina dan membentuk masyarakat agar mempunyai sikap keagamaan yang tinggi dan memiliki akhlak yang baik.
Jika melihat data yang dikeluarkan oleh Kemenag Aceh di laman resminya (2015), jumlah masjid paling banyak di Aceh terdapat di Kabupaten Aceh Timur yang mencapai 372 unit, kemudian disusul Aceh Utara dan Aceh Barat masing-masing 328 unit dan 290 unit.

Kabupaten/kota yang paling sedikit masjid adalah di Kota Sabang hanya 21 unit. Bila keseluruhan 23 kab/kota di Aceh, maka total berjumlah 3.928 masjid.Dengan begitu banyak masjid yang ada, barangkali belum semuanya sudah memiliki BKM. BKM adalah suatu organisasi keislaman yang selama ini aktif di tengah- tengah masyarakat yang terkait dengan kegiatan keislaman.

Kegiatannya adalah sebagai mediator pembangunan masjid, kegiatan-kegiatan keislaman yang rutin misalnya tadarus, tahlilan, mujahadah, diskusi keislaman dan pengajian umum serta mencakup kegiatan keislaman lainnya.

BKM merupakan badan atau lembaga resmi yang dibentuk oleh Departemen Agama untuk meningkatkan peranan dan fungsi masjid sebagai tempat ibadah dan sarana pembinaan umat Islam. Melalui peran BKM mari kita menghadirkan masjid yang benar-benar memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat. Karena fungsi masjid bukan hanya untuk ibadah shalat dan zikir saja tapi juga termasuk ada fungsi pendidikan dan peradaban Islam.

Hal ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Kakamenag wilayah Aceh, Drs. H.M. Daud Pakeh.
Menurutnya, peran dan fungsi masjid sangat banyak ragamnya, bukan hanya tempat ibadah tapi juga tempat pembinaan umat dan generasi seterusnya, selain itu kita juga membangun ahklak para pengurus masjid, Nah!