Refleksi 76 Tahun Indonesia Merdeka, Belajar Dari Sejarah

Redaksi 16 Agustus 2021 | 21:28 44
Refleksi 76 Tahun Indonesia Merdeka, Belajar Dari Sejarah

Oleh: Nursanjaya

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Sejarah bukan hanya sekedar rekam jejak atau peristiwa pada masa lampau yang berlalu begitu saja tanpa makna. Apalagi hanya sekedar ditanggapi biasa-biasa saja. Terlebih jika sejarah itu berhubungan dengan masa depan Islam yang menjadi kunci kebahagiaan dunia dan akhirat, tentu usaha memahaminya menjadi semakin penting. Sejarah dan peradaban Islam merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam. Dengan memahami sejarah Islam secara benar, umat Islam bisa bercermin untuk mengambil pelajaran berharga dan melakukan berbagai perubahan serta perbaikan untuk menuju kejayaan dan kemuliaan dunia dan akhirat.

Abdullah bin Mas’ud pernah mengungkapkan bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami orang lain (HR. Muslim, no. 2645). Karenanya, bangga dengan sejarah kegemilangan masa lalu atau bersedih karena terbawa kisah duka jangan sampai melupakan diri dari tujuan membaca atau menelaah rekaman berbagai peristiwa di masa lalu. Tidak semua kisah ataupun sejarah masa lalu, apalagi yang berkaitan dengan Islam, bisa diterima begitu saja. Perlu adanya penelitian dengan fakta yang benar-benar nyata.
Islam dan kaum Muslimin Indonesia memiliki peranan yang tidak main-main dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Islam masuk dan datang langsung dari tempatnya bermula, Makkah dan Madinah, datang pada abad pertama tahun Hijriyah (abad 7 Masehi).

Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara, salah seorang pakar sejarah dari Universitas Padjadjaran Bandung, mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup. Bahkan Hamka menuliskan, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan pernah datang ke tanah Jawa dan menjadi duta dakwah untuk kerajaan Kalingga.
Untuk melacak sejarah masuknya Islam ke Indonesia memang tidak mudah. Ada 3 (tiga) teori yang menjelaskan kedatangan Islam di Indonesia. Teori pertama, diusung oleh Snouck Hurgronje (Yahudi dari Belanda) yang mengatakan bahwa Islam masuk Indonesia dari wilayah anak benua India, seperti Gujarat, Bengali dan Malabar, yang disebut-sebut sebagai asal masuknya Islam di Nusantara. Teori ini dikenal dengan nama teori Gujarat. Dalam L’arabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan bahwa teori ini didasarkan pada pengamatan tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab yang ada dalam Islam pada masa-masa awal, yakni abad ke-12 atau 13 M. Sebenarnya Snouck hanya menjiplak teori yang dikemukakan oleh Pijnappel, seorang sarjana studi ilmu-ilmu Islam dari Universitas Leiden, Belanda.

Teori kedua adalah teori Persia. Sebab, Persia (Parsi) disebut-sebut sebagai tempat awal Islam datang di Nusantara. Teori ini didasarkan adanya kesamaan budaya yang dimiliki oleh beberapa kelompok masyarakat Islam dengan penduduk Persia (Iran sekarang yang menganut paham Syi’ah). Sebut saja misalnya, peringatan 10 Muharram (hari Asyura), Maulid Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, peringatan Isra’ Mi’raj, Tahun Baru Hijriyah, dan lain-lain. Teori ini meyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13 Masehi dan wilayah yang pertama adalah Samudera Pasai (Aceh Utara).

Teori ketiga disebut juga teori Arabia. Teori ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia datang langsung dari Makkah atau Madinah. Waktu kedatangannya pun bukan pada abad ke-12 atau 13 Masehi, melainkan pada awal abad ke-7 Masehi. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal abad pertama Hijriyah, bahkan pada masa Khulafa ar-Rasyidin telah beberapa kali terjadi pengiriman duta dakwah ke Indonesia. Sumber-sumber literatur Cina menyebutkan bahwa menjelang seperempat abad ke-7 Masehi, sudah berdiri perkampungan Arab-Muslim di pesisir pantai Sumatera.

Dalam kitab sejarah Cina, Chiu T’hang Shu, disebutkan bahwa Cina pernah mendapat kunjungan diplomatik dari orang-orang Ta Shih (sebutan untuk orang Arab) pada tahun 651 Masehi atau tahun 29 Hijriyah. Empat tahun kemudian, datang lagi duta dakwah dari Arab yang dikirim oleh Tan mi mo ni’ (sebutan untuk Amirul Mukminin). Dalam catatan tersebut, duta Tan mi mo ni’ menyebutkan bahwa mereka telah mendirikan Daulah Islamiyah dan sudah tiga kali berganti kekhalifahan. Artinya, duta Muslim tersebut datang pada masa Utsman bin ‘Affan menjadi khalifah.

Lalu bagaimana dengan buku sejarah kita yang menjadi bahan ajar guru dan siswa di Sekolah?

Ada usaha-usaha jahat yang tersistematis untuk membelokkan sejarah Islam dan kaum Muslimin sejak awal yang dilakukan oleh penjajah Belanda dan antek-anteknya. Mereka menulis bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-13 Masehi, padahal realitanya Islam sudah ada sejak abad ke-7 Masehi. Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, masih sebagai pedagang, sudah berkenalan dengan pedagang-pedagang dari Nusantara. Karena itu, ketika Muhammad diangkat menjadi Rasulullah, para pedagang Indonesia (umumnya adalah pedagang dari Aceh dan Makassar), sudah tidak asing lagi dengan beliau dan masuk ke dalam Islam pada saat itu.

Jadi, masuknya Islam ke negeri kita terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih berada di Makkah, pada awal diperkenalkannya Islam. Bukan dari Gujarat atau Persia, karena Gujarat dan Persia adalah pusatnya Syi’ah Rafidhah. Islam ke Indonesia pertama kali masuk ke Samudera Pasai, karenanya tidak mungkin Samudera Pasai itu beraliran Syi’ah. Sebab fakta dan data yang diungkapkan oleh Ibnu Battutah menunjukkan bahwa Samudera Pasai itu berpaham ahlussunnah wal jama’ah (madzhab yang empat).

Fakta lain adalah ada yang salah dengan buku sejarah nasional kita. Sebab, yang ditulis dalam buku sejarah kita yang didahulukan adalah unsur Hindu dan Budha, Islam belakangan. Dalam buku sejarah juga ditulis bahwa akar dan budaya dasar bangsa Indonesia adalah Hindu dan Budha. Padahal, Islam datang satu langkah lebih dulu daripada kedua agama itu. Catatan sejarah yang menyatakan Hindu lebih dahulu datang dengan bukti prasasti Raja Purnawarman yang disebutkan ada pada abad ke-5 Masehi perlu dikoreksi dan dipertanyakan lagi, karena penggunaan huruf Sanksekerta baru dikenal di India pada abad ke-10 Masehi, jadi ada hal yang sangat rancu dengan sejarah nasional bangsa ini.

Pembelokan sejarah inilah yang menyebabkan umat Islam menjadi malas dan tidak mau membela agamanya sendiri. Kita dipesonakan oleh budaya Hindu dan Budha, sehingga lebih banyak yang sibuk berwisata ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan, pusat penyembahan kaum musyrik di Indonesia.

Padahal jumlah prasasti itu jauh lebih sedikit daripada jumlah masjid yang tersebar di Indonesia. Bahkan untuk mendukung teori ini dimunculkan penjelasan baru yang sangat konyol, yaitu bahwa pesantren itu terinspirasi oleh sistem pendidikan yang ada di Hindu. Hindu tidak punya konsep pesantren dan sampai sekarang di Bali itu tidak ada yang namanya pesantren Hindu. Pesantren ini asalnya dari Timur Tengah, yang dikenal dengan nama madrasah atau ma’had.

Selain itu, kalau kita mengikuti pola Hindu dan Budha, maka nama-nama kita semua pasti memakai nama binatang. Sebut saja seperti Hayam Wuruk, Gajah Mada, Munding Laya, Kebo Ampel, dan lain-lain. Sedangkan Islam mengajarkan agar kita memberikan nama pada anak dengan nama-nama yang baik. Jadi, tidak benar bangsa ini berbudaya Hindu.

Proses pembelokan dan perusakan sejarah ini dilakukan oleh Belanda dan antek-anteknya karena umat Islamlah yang paling keras mengadakan perlawanan terhadap penjajah. Umat Islam Indonesia punya sejarah panjang tentang perlawanan terhadap penjajah. Ketika Malaka dikuasai Portugis, umat Islam dari Indonesia (Aceh dan Demak) menyerang Portugis untuk membebaskan Malaka. Ketika Portugis masuk ke Sunda Kelapa, langsung dihadang oleh menantunya Sunan Gunung Djati, Fatahillah, yang membebaskan Sunda Kelapa dari penjajahan Portugis lalu mengganti nama Sunda Kelapa dengan nama Fathan Mubina yang diambil dari QS. Al-Fath: 1.

Jadi bukan kota Jayakarta atau Jakarta seperti yang selama ini ditulis dalam buku sejarah kita dan menjadi ibukota negara.
Bahkan sebelum penjajah datang, umat Islam sudah memiliki identitas bendera, warnanya merah dan putih. Ini juga terinspirasi oleh bendera Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang juga berwarna merah dan putih yang dipakai beliau ketika terjadi perang Khaibar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Allah telah menundukkan dunia padaku, timur dan barat. Aku juga diberi warna yang sangat indah, yakni  al-ahmar (merah) dan al-abyan (putih)”.

Karena itu, kita perlu pertanyakan dan koreksi kembali sejarah nasional kita yang ada di dalam Monumen Nasional (Monas), kenapa dalam diorama di Monas ditampakkan bahwa Protestan dan Katolik itu adalah pemersatu bangsa? Sedangkan Islam hanya ditampilkan dan diwakili oleh Muhammadiyah dalam gerakan nasional saja.

NU, Persis, Al-Irsyad, Sarekat Islam, dan lain-lain tidak disebutkan sama sekali. Mana ada dalam sejarah bangsa ini Protestan dan Katolik itu berperang melawan penjajah yang seagama dengan mereka? Justru mereka sendiri sudah hidup enak dalam perlindungan penjajah dan tidak punya sedikitpun cita-cita untuk merdeka.

Saat proklamasi pun, peran umat Islam sangat besar. Tanggal 17 Agustus 1945 hari Jum’at, bertepatan dengan tanggal 19 Ramadhan 1364 Hijriyah, Soekarno pada saat itu didesak untuk memproklamasikan negara ini oleh para ulama. Sebut saja KH. Hasyim Asy’ari (NU), Abdul Mukti (Muhammadiyah), dan lain-lain. Masjid Syuhada Yogyakarta juga menjadi saksi bisu bahwa umat Islam yang memerdekakan republik ini.

Patung Pangeran Diponegoro yang ada di Monas juga menjadi lambang bahwa Islam dan Kaum Muslimin yang mengawal dan memerdekakan negara ini dari tangan penjajah. TNI juga tidak mungkin ada jika bukan karena desakan ulama-ulama pendiri PETA yang berjumlah 68 batalyon (awalnya bernama Badan Keamanan Rakyat, lalu diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 3 Oktober 1943), seperti KH. Mas Mansyoer, Tuan Guru H. Mansoer, Tuan Guru H. Jacob, H. Moh. Sadri, KH. Adnan, KH. Djunaedi, Dr. H. Karim Amrullah, dan lain-lain.

Tanggal 23 Oktober 1945, NU mengeluarkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan republik Indonesia dari serbuan Belanda dan tentara sekutu. Tanggal 7 November 1945, Masyumi didirikan dan menyatakan bahwa 60 juta Muslim Indonesia siap berjihad fi sabilillah. Tanggal 10 November 1945 meletus perang terhadap agresi Belanda dan Sekutu (AS dan Inggris), dimana pada perang fi sabilillah ini Bung Tomo menjadi tokoh nomor satu yang paling dicari penjajah karena keberaniannya dalam membentuk pasukan bom syahid. Dalam sejarah Perang Dunia II, tidak ada Jenderal dari tentara Sekutu yang terbunuh kecuali di Indonesia. Satu di Surabaya, satu lagi di Bojong Kukusan. Ini merupakan catatan sejarah yang paling memalukan bagi Inggris dan Amerika.

Penipuan dan kedustaan lain dalam buku sejarah nasional kita adalah bahwa Nasrani juga turut berjuang dalam mengusir penjajah. Mereka mengambil contoh Pattimura atau Thomas Mattulessy. Ini sungguh dusta yang sangat menggelikan, karena tulisan tentang Pattimura hanyalah omong kosong dusta dari seseorang yang bernama M. Sapija (lihat tulisan Agung Pribadi, Pattimura itu Muslim Taat, 2003; lihat juga tulisan Drs. M. Nour Tawainella: Menjernihkan Sejarah Pahlawan Pattimura, dalam Majalah Panji Masyarakat Edisi 11 Mei 1984). Jadi, tidak ada yang namanya Thomas Mattulessy. Yang ada adalah Kapiten Ahmad Lussy atau dikenal dengan Mat-Lussy, seorang Muslim taat yang memimpin perjuangan rakyat Maluku melawan penjajah Belanda.

Bahkan Sisingamangaradja XII juga adalah seorang Muslim, tetapi Nugroho Notosusanto cs berkata bahwa Sisingamangaradja XII adalah penganut agama Sinkretis (pelbegu). Nugroho Notosusanto dan kawan-kawannya membuat pemalsuan sejarah nasional yang paling spektakuler, dia memalsukan sejarah PKI, sejarah Sjarekat Dagang Islam, sejarah Jong Islamieten Bond yang didirikan tahun 1925 (lihat dalam Sejarah Nasional Indonesia jilid V, hal, 195-196).

Pembelokan sejarah emas umat Islam Indonesia ini telah membuat kita kehilangan kepribadian. Karena sejarah itu sama dengan ingatan, apa jadinya manusia tanpa ingatan. Karenanya, kita perlu membangkitkan kesadaran sejarah Muslim Indonesia yang luar biasa ini. Ironis memang, tapi inilah fakta mengapa umat Islam hari ini terutama generasinya menjadi generasi yang malas membela agamanya sendiri, generasi yang lebih suka mencorat-coret baju ketika selesai UN, bahkan menjadi generasi yang ringan hati dan badan meninggalkan shalat, generasi yang mempertuhankan syahwat, generasi pengikut dan pemuja setan. Wallahu a’lam bish-shawwab.

Penulis merupakan Dosen di Universitas Malikussaleh dan warga Muhammadiyah Aceh, berdomisili si Kota Langsa.