Tim RFA Berkunjung ke Rumah Suci dan Syukri

Redaksi 18 September 2021 | 19:24 41
Tim RFA Berkunjung ke Rumah Suci dan Syukri

Foto : Istimewa

BANDA ACEH | Koranindependen.co -- Kelompok relawan yang tergabung dalam komunitas Relawan Filantropi Aceh (RFA), Jumat (17/9/2021) siang mengunjungi dua rumah penerima santunan di Kota Banda Aceh, yakni Suci dan Syukri. Suci tinggal di Gampong Punge Jurong, Kecamatan Meuraxa, sedangkan Syukri berdomisili di Gampong Lambhuk, Kecamatan Ulee Kareng.

Berkumpul di rumah Cut Aishah, salah seorang anggota RFA, di depan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh di kawasan Blower pukul 14.30 WIB, tim relawan yakni Teuku Zopan Mustika (Ketua), Murni Mustari (Bendahara), Fatmawati, Afif (Cameraman), dan Cut Aishah sudah siap berikut bantuan logistik (sembako) yang dibeli dengan uang iuran bulanan anggota RFA, dan satu paket nasi kotak sumbangan kiriman dari Rio Marselindo (anggota RFA yang berhalangan hadir karena ada agenda lainnya) yang akan diberikan kepada Suci dan Syukri.

Berangkat dengan mobil Cut Aishah, destinasi pertama terlebih dahulu menuju rumah Suci di Punge Jurong, yang lebih dekat dengan Blower. Ketika tim bertamu ke rumah Suci, di rumah hanya ada Suci dan ibundanya. Sementara ayah tiri Suci sudah berhari-hari tidak pulang ke rumah karena berlayar mencari ikan di laut.

Suci mengatakan, ayah tirinya biasanya 7 sampai 14 hari melaut. Namun, itu pun belum tentu membawa hasil. Uang hasil penjualan ikan tangkapan tidak cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Bahkan dengan ikut berjuangnya sang ibu mencari nafkah, juga belum memadai. “Kami hanya bisa sabar dan berdoa,” kata gadis yang duduk di bangku kelas II SMP 1 Banda Aceh ini.

Hal ini dikuatkan oleh ibundanya sendiri. “Untuk kebutuhan sehari-hari saja belum cukup. Belum lagi uang SPP dia (Suci), belum lagi uang buku-bukunya, biaya ini dan itu, banyak lagi. Jadi sayang kan Suci-nya,” keluh Sang Ibu.

Saking susahnya kehidupan Suci dan ibundanya, rumahnya kecil berkonstruksi kayu, ruang tamunya begitu sempit hanya selebar satu gang. Terhimpit di antara rumah-rumah bantuan tsunami yang sudah permanen.

Ibunda Suci menambahkan, “Tanah rumah ini pun dalam status sengketa dengan tetangga depan rumah. Padahal saya tahu betul, tanah ini saya beli dengan uang saya sendiri. Namun ketika itu pengurusan tanah dan rumah di lingkungan ini diserahkan ke tetangga depan tersebut, jadi ya dengan seenaknya mereka mengklaim tanah rumah ini milik mereka,” ungkapnya dengan sedikit terisak.

Tim relawan hanya bisa menghibur Suci dan ibunya, dan membujuk agar bisa bersabar. “Kalau masalah sengketa tanah hanya bisa diselesaikan melalui jalur hukum, minimal hubungi dulu geuchik (kepala desa-red) di sini,” kata Cut Aishah kepada sang ibu.
Rumah Syukri.

Sekitar pukul 15.30 WIB, setelah memberikan santunan dan sembako kepada Suci, Cut Aishah dan kawan-kawan bergegas naik mobil kembali lalu pergi ke rumah Syukri di Lambhuk. Rumah Syukri juga sederhana, namun kondisinya jauh lebih baik.

Syukri merupakan penyandang disabilitas “seribu wajah”. Bicaranya tidak jelas, seolah dia memiliki kosakata sendiri. Mulutnya tidak mampu berbicara normal. Namun dia mengerti apa yang orang lain bicarakan. Ketika tim relawan senyum kepadanya, dia pun membalas senyuman, dan dia bisa berkomunikasi dengan “bahasanya sendiri”. Artinya, otaknya masih merespons dengan normal.

Dalam kesempatan itu, Syukri yang kini berusia 26 tahun juga melakukan video call via HP Murni dengan Teuku Yusra Dharma, founder RFA, yang berada di Tangerang.

Ibunda Syukri, Marzizah Hasan, menyebutkan, anaknya itu masih bisa diajak bicara baik-baik. “Dia (Syukri) orangnya tidak bandel, tidak keluar rumah rumah jauh dari jangkauan, kecuali di lingkungan dekat rumah saja,” ujar Marzizah. Sebab, kebanyakan penyandang seribu wajah sulit terkontrol dan bisa saja membabi buta mengganggu orang lain.

“Namun dia sejauh ini aman-aman saja,” tutur sang ibu. “Namun kehendaknya harus kita turuti. Terkadang dia marah kalau kita tidak menuruti keinginannya,” lanjutnya.

Setelah lama berbincang-bincang dengan Syukri dan ibunya, saatnya tim relawan RFA menyerahkan santunan kepada Syukri, lalu berfoto bersama. (*)