Kasus dan Isu Keagamaan di Aceh Seperti di Film James Bonds

Redaksi 30 Januari 2020 | 14:35 171
Kasus dan Isu Keagamaan di Aceh Seperti di Film James Bonds

Muzadi

Koran Independen | Banda Aceh, - Provinsi Aceh dengan predikat provinsi syariat di Indonesia, tapi penyelenggaraan keagamaan belum seperti yang didapatkan itu, antar kelompok sesama Islam masih saja berbeda walau itu fitrah dalam Islam.

Kasus terbaru peristiwa di masjid Almakmur atau masjid Oman pada Senin malam(22/01), Mereka yang datang tidak hanya membubarkan pengajian. Mereka juga membuat keonaran dalam masjid dan menyebut warga yang mengikuti pengajian itu “sesat”.

Di luar Aceh, preseden ini membuat banyak orang bertanya-tanya tentang pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Mudahnya orang yang mengklaim pihak lain sesat untuk bertindak kasar di dalam masjid merupakan sebuah tindakan tidak terpuji. Jika terus dibiarkan, Aceh akan diklaim sebagai daerah yang tidak toleran. Bukan terhadap agama lain, melainkan kepada sesama muslim.

Pemerhati politik dan keagamaan di Aceh, Muzadi memandang kasus keagamaan di Aceh konon seperti film legendaris James Bonds. Banyak agen-agen  jadi pendakwah. Ada agen pendakwah yg berperan sebagai pencaci, ada agen dakwah yang berprofesi sebagai penyerang.

"Semuanya bekerja untuk materi atau pihak lain ? Yang berantam orang awam atau pejuang pejuang yang murni untuk agama. Pencetusnya hanya satu atau dua orang,

Plt. Gubernur Aceh juga harus bertanggung jawab mengadu domba "mazhab" yang bervariasi di Aceh, dengan Surat Edaran itu," papar Muzadi. Kamis, (30/01) di Banda Aceh

Paska adanya insiden upaya penghentian kegiatan pengkajian, Pemkot Banda Aceh akhirnya mengambil alih pengelolan masjid ini, untuk menghindari keributan. Pengambil alihan kepengurusan masjid ini sampai dengan adanya penyelesaian yang baik, sehingga tempat sujudnya ummat ini tidak lagi menjadi ajang perselihan pendapat yang menjurus kepada keributan.

"Pak Ptl itu, bekerja untuk kepentingan politik ke depan. Urusan keagamaan mana mau pikir amat-amat dia," kata Muzadi.

Muzadi juga berharap kepolisian jangan ragu bertindak. Personil kepolisian semestinya mencegah masuk orang-orang yang tidak setuju dengan kajian itu (di masjid Oman). Padahal mereka ada intelijen untuk mendeteksi ancaman penyerangan atau kekisruhan di dalam masjid.

Konon, beberapa jam sebelum pengajian itu dimulai, pesan berantai lewat media jejaring sosial beredar luas. Isinya memberitahukan tentang rencana massa yang akan masuk dan membubarkan pengajian di masjid itu. (*)