Saatnya Bangkit

Redaksi 10 Juli 2021 | 09:48 51
Saatnya Bangkit

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Oleh : Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Pandemi Covid-19 telah mengubah kehidupan umat manusia di seluruh dunia menjadi serbadarurat. Tidak kecuali bagi warga bangsa khususnya anak-anak tercinta kaum milenial di Indonesia. Keadaan berubah drastis dari normal menjadi abnormal dengan segala kesulitan hidup.

Sekolah harus daring dalam segala kerumitan dan ketidakpastian. Keluar rumah jelas tidak boleh dan rawan, lebih-lebih yang berpotensi kerumunan. Penyaluran bakat, hobi, bisnis, dan kegiatan yg selama ini berjalan lancar harus dibatasi dan bahkan ada yg tidak dapat dilaksanakan.

Mungkin sebagian orang termasuk kaum milenial merasa “unfaedah”,merasa tidak berguna. Begini salah, begitu salah. Maju kena mundur kena. Hidup terasa boring alias membosankan. Bertemu kawan tidak mudah. Kegiatan di rumah dari itu ke itu, sehingga menjadi rutin dan menjenuhkan.

Benarkah? Saya percaya masih banyak yg tetap berpikir dan bersikap positif dalam menghadapi keadaan pandemi Covid-19 yg berat ini. Bilamana ada yg merasa bosan, pesimis, dan kehilangan harapan maka saatnya bangkit. Tidak boleh larut dengan keadaan.

Tentu tidak mudah hidup di tengah musibah. Tidak ada musibah karena wabah, bencana alam, dan apapun yang buruk itu menyenangkan. Lazim kalau terkena musibah kemudian orang tidak nyaman. Digambarkan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya manusia diciptakan suka berkeluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan, apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat” (QS Al-Ma'arij: 19-22).

Mari semua bangkit! Jangan larut dengan berkeluh kesah, jenuh, bingung, dan apalagi putus asa karena kondisi pandemi. Memang berat, tapi harus dijalani. Sikapi musibah dengan kesungguhan dan kesabaran. Sebagaimana diajarkan agama, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu” (QS Muhammad:31).

Bagi saudara sebangsa yg sedang duka dan berhadapan dengan kesulitan, jangan menutup pintu harapan. Allah itu Maha Rahman dan Rahim. Masih banyak warga yang peduli dan empati. Berpikirlah positif. alin komunikasi dengan sesama warga agar terbuka saling membantu dan meringankan. Di balik kesulitan, ada kemudahan.

Bagi yang masih diberi karunia, berpikirlah konstruktif dan ambil peluang berbuat kebajikan. Beruntung di antara kita yang masih diberi waktu dan kesempatan menjalani hidup di rumah dalam keadaan normal. Jadi, tidak ada alasan hidup menjadi jenuh dan kosong. Banyak kesempatan untuk hidup positif dan berbuat kebaikan bagi sesama. Menjaga diri, berbuat yang bermanfaat, dan menjadikan diri bermakna sangatlah utama di saat kondisi berat ini.

Bagi seluruh insan beragama, selain terus berikhtiar hadapi musibah, sama pentingnya berdo’a kepada Tuhan. Agar Allah meringankan dan mengangkat musibah berat ini atas Kuasa-Nya. Khusus bagi kaum milenial. Ananda semua adalah harapan terbaik orangtua. Sebagai generasi pewaris masa depan Indonesia. Jadilah insan yang senantiasa berjiwa pejuang, optimis, dan menjalani kehidupan dengan gigih dan tangguh. Jangan lembek dan mudah menyerah.

Mari bangkit. Alihkan energi untuk kegiatan-kegiatan positif. Tumbuhkan sikap peduli dan berbagi kepada sesama. Insya Allah hidup menjadi bermakna!