Koranindependen.co | Kepercayaan publik adalah modal politik paling berharga bagi sebuah pemerintahan. Tanpa itu, kebijakan sebesar apa pun akan kehilangan legitimasi. Sayangnya, kebijakan pemangkasan anggaran daerah, lonjakan pajak, dan kemewahan tunjangan pejabat justru sedang mengikis habis modal kepercayaan tersebut.
Rakyat semakin sulit percaya ketika mereka diminta berkorban demi “kepentingan nasional”, sementara wakil mereka di parlemen menikmati tunjangan perumahan Rp 50 juta per bulan. Kontras semacam ini bukan hanya melukai perasaan, tetapi juga membangun kesan bahwa elit hidup di dunia paralel yang tidak tersentuh kesusahan rakyat.
Gelombang protes yang muncul di berbagai daerah adalah bukti nyata. Rakyat tidak sekadar menolak angka pajak yang tak masuk akal, tetapi juga menolak ketidakadilan yang terstruktur. Mereka menuntut konsistensi: jika rakyat harus berhemat, maka pejabat pun seharusnya menunjukkan solidaritas dengan menekan gaya hidup mewah dan fasilitas berlebihan.
Krisis kepercayaan ini berbahaya. Sebab ketika rakyat tak lagi percaya, bahkan kebijakan yang baik sekalipun akan dicurigai. Pemerintah bisa kehilangan pijakan moral, dan demokrasi kehilangan ruhnya.