Oleh: Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST. MT (Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe)
Koranindependen.co - Ramadhan selalu datang tanpa gegap gempita, tetapi ia mampu menggetarkan jiwa-jiwa yang peka. Ia bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah jeda peradaban. Sebuah bulan di mana manusia diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk kembali menata arah hidupnya.
Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, mulai dari kompetisi ekonomi, ambisi politik, dan tuntutan sosial, Ramadhan hadir sebagai ruang kontemplasi kolektif. Ia mendidik manusia bukan dengan ceramah panjang, melainkan dengan pengalaman: menahan lapar, mengendalikan emosi, mengatur kata, dan menjaga pandangan. Lapar menjadi bahasa universal yang menyadarkan; bahwa tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap rezeki dan kenyamanan.