Proses Embrio dalam Rahim Sang Ibu

Redaksi 30 Juni 2020 | 08:36 103
Proses Embrio dalam Rahim Sang Ibu

Siti Dania Binti Mohd Nazri Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Siti Dania Binti Mohd Nazri
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh

Proses persenyawaan bermula daripada percantuman benih laki-laki (sperma) dan benih wanita (ovum). Bukan hanya benih laki-laki seperti kepercayaan kebanyakan saintis sehingga abad ke-18 meneruskan konsep 'preformation'.

Hal ini telah disebutkan menerusi firman Allah yang berbunyi, "Sesungguhnya kami mencipta manusia daripada nutfah yang bercampur." (Surah al-Insan : 2)

Perkataan nutfah membawa dua makna, yaitu satu titisan dan air mani. Manakala perkataan amsyaaj dalam ayat ini berarti 'yang tercampur'.

Menurut Imam Ibn Khatir, perkataan ini berarti percampuran benih laki-laki dan benih wanita. Setelah kedua-dua benih ini bercampur, ia akan membentuk zigot dan seterusnya embrio atau dalam Bahasa Arab disebut sebagai 'alaqah.

'Alaqah mempunyai tiga definisi, yaitu lintah, sesuatu yang melekat atau tergantung, serta segumpal darah. Satu perkataan ini sahaja sudah cukup untuk menjelaskan proses pembentukan embrio karena kayanya Bahasa Arab serta kebijaksanaan Allah yang Maha Pencipta. 

Dalam hal ini akan menghuraikan makna 'alaqah. Makna pertama 'alaqah adalah lintah, ketika embrio berusia lebih kurang 24 hingga 25 hari, ia menyerupai seekor lintah yang tergantung pada dinding rahim ibu atau dikenali sebagai endometrium pada uterus.

Embrio ini bukan sahaja menyerupai bentuk lintah, malah ia mengambil nutrisi daripada darah ibu serupa dengan lintah yang menghisap darah manusia. 

Seterusnya, makna kedua 'alaqah adalah sesuatu yang melekat atau tergantung. Ia selari dengan embrio yang menempel pada dinding rahim. Ia dihubungkan oleh saluran darah yang kemudiannya membentuk tali pusat bayi, seolah-olah ia tergantung di dalam rahim ibu. 

Selain itu, makna ketiga 'alaqah adalah darah beku. Hal ini juga benar karena ketika embrio berumur 2 hingga 3 minggu, ia terbentuk daripada jaringan salur darah yang banyak dan hanya mula mengalir selepas minggu ketiga, sama seperti darah beku.

Proses ini disebut secara kronologi dalam firman Allah yang berbunyi, "Kemudian Kami ciptakan air benih itu menjadi 'alaqah, lalu Kami ciptakan 'alaqah itu menjadi mudghah, kemudian Kami ciptakan mudghah itu menjadi beberapa tulang, kemudian Kami balut tulang-tulang itu dengan daging.

Setelah sempurna kejadian itu, Kami bentukkan ia menjadi makhluk yang lain sifat keadaannya. Maka nyatalah kelebihan dan ketinggian Allah sebaik-baik Pencipta." (Surah al-Mu'minun : 14) 

Dalam hal ini juga membahaskan tentang mudghah. Mudghah dalam Bahasa Arab membawa maksud seketul daging yang dikunyah.

Ia selari dengan bentuk embrio ketika berumur kira-kira 26 hari. Professor Keith Moore, seorang pakar embriologi dari University of Toronto serta menulis dalam tulisan beliau berjudul The Developing Human yaitu yang menjelaskan bahwa "Kita dapat melihat struktur somites pada bagian belakang embrio menyerupai kesan gigitan."

Seterusnya terbentuklah tulang dan cartilage (tulang rawan) yang terjadi daripada somatic mesoderm sebelum otot-otot menyelaputinya dan membentuk sebuah janin atau fetus. 

Professor Keith Moore berkata lagi, "Selama tiga tahun, saya telah bekerja di  Embryology Committee of King Abdulaziz University di Jeddah, Arab Saudi dan membantu mereka menafsirkan banyak kenyataan dalam Al-Qur'an dan sunnah yang menyentuh tentang proses persenyawaan manusia. 

Hal ini karena, proses pembentukan ini tidak mungkin diketahui lebih 1400 tahun dahulu oleh seorang Nabi yang tidak tahu membaca (ummiy), melainkan ia benar-benar diwahyukan oleh Tuhan yang Maha Mengetahui segala isi dan kandungan alam semesta. Nah !