Perayaan Maulid Nabi di Era Pandemi

Redaksi 21 November 2020 | 19:02 80
Perayaan Maulid Nabi di Era Pandemi

Rodhi Ilham Wahyudi Mahasiswa UIN Ar-Raniry

Oleh Rodhi Ilham Wahyudi
Mahasiswa UIN Ar-Raniry

COVID-19 adalah jenis penyakit baru yang disebabkan oleh virus dari golongan coronavirus. Kasus pertama penyakit ini terjadi di kota Wuhan, Cina, pada akhir Desember 2019. Setelah itu, COVID-19 menular antarmanusia dengan sangat cepat dan menyebar ke puluhan negara, termasuk Indonesia, hanya dalam beberapa bulan.

Penyebarannya yang cepat membuat beberapa negara menerapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown untuk mencegah penyebaran virus Corona. Di Indonesia, pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan penyebaran virus ini.

COVID-19 awalnya ditularkan dari hewan ke manusia. Setelah itu, diketahui bahwa infeksi ini juga bisa menular dari manusia ke manusia. Penularannya bisa melalui cara-cara berikut:
•    Tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) yang keluar saat penderita COVID-19 bersin atau batuk
•    Memegang mulut, hidung, atau mata tanpa mencuci tangan terlebih dulu, setelah menyentuh benda yang terkena droplet penderita COVID-19
•    Kontak jarak dekat (kurang dari 2 meter) dengan penderita COVID-19 tanpa mengenakan masker
Faktor Risiko COVID-19

COVID-19 dapat menginfeksi siapa saja, tetapi efeknya akan lebih berbahaya atau bahkan fatal bila menyerang orang lanjut usia, ibu hamil, perokok, penderita penyakit tertentu, dan orang yang daya tahan tubuhnya lemah, seperti penderita kanker.

Karena mudah menular, penyakit ini juga berisiko tinggi menginfeksi para tenaga medis yang merawat pasien COVID-19. Oleh karena itu, tenaga medis dan orang yang melakukan kontak dengan pasien COVID-19 perlu menggunakan alat pelindung diri (APD).

Di era pandemi  ini kita bisa tau bahwa dengan adanya gejala pandemi  ini tersebut bisa tengganggu dalam melakukan aktifitas kita sehari-hari dan kita tidak boleh mendekati tempat-tempat yg berkerumunan atau  ditempat yang berkumpul seperti di tempat pusat perbelanjaan atau pasar, tempat menuntut ilmu atau juga bisa dibilang sekolah, pemilu, demo dan lain-lain.

Terkurung di rumah dan rutinitas sehari-hari kita dilucuti, banyak dari kita yang melakukan isolasi mandiri mendapati bahwa waktu menjadi sesuatu hal yang aneh dan tak berbentuk, yang tidak dapat didefinisikan dengan kalender. "Manusia adalah makhluk dengan kebiasaan, maka memiliki jadwal tetap kapan kita bekerja dan kapan kita memiliki waktu luang bisa membantu kita mengurangi ketidakpastian, terutama di saat sekarang yang penuh dengan ketidakpastian."  

Maka dari itu kita semua dianjurkan untuk harus mematuhi protokol kesehatan seperti berjaga jarak antara satu dan lainnya, sering-sering mencuci tangan saat menyetuh benda apa pun,menggunakan handsanitizer, memakai masker saat berpergian keluar, dan yang lain-lain.

Bagaimana jika kita lihat dari perspektif-perspektif orang-orang yg tinggal dari desa terpencil tepatnya di desa cot gud dalam menjalankan hidup mereka masing-masing di era new normal ini. Di desa cot gud pandemi ini menurut warga-warga yg dimana mereka percaya dengan adanya pandemi ini tapi ada juga dari sebagian warga juga ada yg kurang percaya atau bankan ada juga yang tidak tahu apa itu covid-19.

Faktor-faktor warga yang kurang percaya tentang adanya covid-19 yaitu seperti di desa belum ada warga-warga yang terjangkit penyakit covid-19. Dan juga belum terlihat adanya gejala-gejala penyakit tersebut maka dari itu sebagian warga tidak percaya tentang adanya covid-19.

Dikarenakan juga warga-warga di daerah desa-desa terpencil tetap memegang teguh kelogikaan mereka yang bahwa pandemi ini hanyalah politik dari politikus negara yang memanfaatkan rakyat dari pendemi ini.
Tidak mengherankan bahwa kenyataan yang ada kini sangat memprihatinkan. Kita semua seakan fokus pada bagaimana mengupayakan sebuah cara baru mengembangkan kebudayaan di tengah pandemi.

Bahkan kita juga, yang sudah cukup mumpuni dalam memahami kebudayaan, diuji tentang cara mengembangkan sebuah budaya baru. Ya, pandemi Covid-19, tidaklah akan dianggap sebagai penyebab mutlak dari semua fakta saat ini, tapi memang harus kita amini, bahwa hal tersebutlah yang menyebabkan semua berubah.

Sebagaimana kita ketahui bahwa, interaksi sosial dan kebudayaan akan senantiasa mengalami perubahan berdasarkan perkembangan zaman. Interaksi sosial dan budaya itu akhirnnya harus menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Bahkan perubahan-perubahan di segala lini itu, sangat cepat berlangsung ketika dunia berubah, sementara yang lain seperti melambat. Kita pun mengetahui bahwa ada pula perubahan interaksi sosial dan budaya yang terjadi secara tidak direncanakan atau tidak disengaja.

Pandemi yang kita alami sekarang memang tidak pernah direncanakan, toh tidak direncanakan, kita harus tetap memikirkan bagaimana mengatasinya. kondisi sekarang kita masih memiliki ikatan nilai-nilai budaya sebagai wujud kearifan lokal yakni solidaritas sosial. 

Kita semua pasti sudah tahu Bahwa pandemi covid-19 ini adalah musibahnya para umat-umat manusia di seluruh dunia yang dimana umat manusia akan di landa dengan masalah-masalah yang berjangka panjang. Selain itu, penyebaran virus Covid-19 juga berpotensi pada perayaan umat Islam yang jatuh pada 12 Rabiul Awal atau 28 hingga 29 Oktober 2020 lalu karena bisa mengumpulkan massa.

Padahal, saat ini kita masih ada ditengah pandemic covid-19 yang penularannya menjadi semakin mudah ketika ada banyaknya orang-orang yang berkumpul ditempat yang sama. Dimana sekarang semua umat manusia tentunya akan di landanya kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan dengan adanya musibah ini.

Protokol kesehatan juga nganjurkan untuk tidak "berkumpul atau tidak boleh berkerumunan" kita juga sering kali melihat atau tidak asing lagi mendengar yang dinamakan dengan maulid nabi, bagi para umat muslim yang melakukan kebudayaan dari jaman dahulu sampai jaman sekarang ini yang dimana mereka masih malakukan kewajiban mereka untuk memperingati atau merayakan ulang tahunnya nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang dimana oleh Umat-umat muslim di seluruh dunia memberi nama memperingati maulid nabi, maka dari itu apa jadinya kalau misalnya umat muslim di seluruh dunia merayakan maulid nabi. Yang dimana Maulid sebelum pandemi biasanya dilakukan oleh khalayak ramai.

Akan tetapi pelaksanaan Maulid di era pandemi ini tidak sama dengan di era sebelumnya.  Pelaksanaan Maulid Nabi sekarang harus mematuhi protokol kesahatan yang sudah dianjurkan oleh pemerintah. Warga juga harus berjaga jarak dan memakai masker serta menghindari kerumunan demi menekan angka penyebaran COVID-19 disaat acara Maulid sedang berlangsung. Pemerintah juga menghimbau kepada masyarakat yang akan melakukan atau memperingati pengajian Maulid Nabi untuk tetap mematuhi menerapkan protocol kesehatan, termasuk dalam membatasi jumlah jamaah-jamaah yang hadir di tempat tersebut.

Pada masa pandemi ini, merupakan waktu yang penting dalam memberikan  informasi sebagai kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, menguatkan hubungan antara masyarakat dan pemerintah. Hal ini, bisa menjadi bekal bagi pembangunan pasca-pandemi COVID-19.

Dengan kondisi seperti ini masyarakat pedesaan harus mampu memahami keadaan dan mulai beradaptasi dengan sistem sosial budaya yang sedikit bergeser tanpa menghilangkan nilai yang sudah ada. Menghadapi pandemi tanpa ada rasa panik, namun tetap waspada sesuai anjuran pemerintah. Semoga!