Kisah Seorang Pelayan Kapal Pesiar

Redaksi 11 Desember 2020 | 11:15 142
Kisah Seorang Pelayan Kapal Pesiar

Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Bireuen­Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

Oleh Chairul Bariah, 
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Bireuen­Aceh
dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen

***

Perjalanan hidup manusia semua telah ada dalam catatan. Hanya Allah yang tahu,  inilah rahasia yang belum mampu diketahui oleh manusia begitu juga dengan jodoh, pertemuan dan maut. Manusia diharuskan berusaha untuk menjadikan hidup ini lebih baik, bermanfaat bagi orang lain juga untuk Agama dan bangsa.

Setiap hari manusia berlomba­lomba mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan cara yang berbeda­beda. Ada yang menjadi bos, hanya tinggal telpon sana sini semua dapat terpenuhi.

Menjadi anak buah, harus tunduk dan patuh terhadap apapun yang di titahkan oleh atasan, tanpa mampu untuk membantah, walaupun sesungguhnya dia tahu itu salah dan melanggar aturan, namun keberlangsungan hidup menjadi alasan yang utama.

Menjadi pelayan, mungkin ini adalah jabatan yang rendah di mata orang yang melihatnya. Tetapi adakah yang terpikir, tanpa mereka semua yang telah di rancang sedemikian rupa akan mengalami kegagalan. Tempat yang bersih tanpa mereka akan menjadi hutan belantara.

Merekalah yang rela, merendah, namun tetap teguh dalam keimanan. Tetap menjalin tali persaudaraan, walau terkadang terlupakan, bahkan tersakiti. Tiada yang mampu untuk membelanya, apalagi mau berkorban untuknya, semua berpaling bahkan ada yang tak ingin melihat keberadaannya.

Tersebutlah kisah seorang pelayan Kapal Pesiar yang megah dan mewah. Dia berkesempatan untuk menjadi pelayan yang siap dalam segala situasi. Semua orang di luar sana cemburu akan kebebasannya untuk lalu lalang dalam kapal tersebut.

Hal ini menyebabkan banyak orang yang ingin masuk dan ikut berlayar bersama untuk mengarungi samudera luas, menikmati indahnya lautan. Mereka berharap dapat bernafas lega, mendapatkan semua fasilitas, termasuk dimanjakan oleh seorang pelayanan.

Sebelum keberangkatan kapal Pesiar, dengan penuh dedi kasihnya pelayan mempersiapkan dan memeriksa  segala kebutuhan  dan ketentuan jumlah penumpang, terutama makanan yang lezat untuk seluruh penumpag kapal Pesiar. Dia juga membersihkan seluruh sudut, agar para penumpang nyaman dalam menikmati indahnya perjalanannya.

Kapal pesiar dengan berbagai latar  belakang penumpangnya terus mengarungi lautan dan menikmati berbagai keindahan ciptaaanNya. Seluruh Crew yang ikut serta dalam pelayaran merasa senang karena tak ada yang kurang satu apapun. Mereka bahagia dan tertawa.

Suatu hari kapal pesiar mengalami ganguan di mesin. Sang nahkoda memanggil teknisi yang iku serta dalam pelayaran. Setelah selesai perbaikan, kapal pesiar melanjutkan perjalanan, melewai berbagai rintangan, karena lelah, Kapalpun berhenti di suatu pulau yang dipenuhi batang kelapa dengan buahnya yang lebat. Kemudian para penumpang tertawa bahagia.

Setelah itu kapal pesiar melanjutkan perjalanananya menuju samudera luas. Tiba­tiba kapal mengalami gangguan. Seluruh penumpang panik. kemudian teknisi datang untuk menyelesaikannya. Namun berbagai upaya telah dilakukan, kerusakan kapal pesiar belum dapat diperbaiki.

Setelah itu  pelayan ingat dengan apa yang telah dipersyaratkan sebelum penumpang naik ke dalam kabin,ternyata  berat yang mampu di tampung oleh kapal Pesiar sangat terbatas. Kemudian, pelayan menawarkan diri untuk turun di suatu pulau yang indah, agar yang lain terselamatkan.

Akhirnya, Nahkoda Kapal Pesiar menindak lanjuti usulan dari pelayan. Kemudian berhenti di satu pulau yang masih sedikit penduduknya dan menurunkan sang pelayan. Sambil melambaikan tangan seluruh penumpang merasa lega karena dapat melanjutkan perjalanan lagi.

Ini semua berkat pengorbanan seorang pelayan  yang rela membunuh rasa dalam dirinya demi menyelamatkan seluruh penumpang dan Nahkoda Kapal Pesiar. Semoga bermanfaat.

chairulb06@gmail.com