Aceh dan Moderasi beragama

Redaksi 28 Oktober 2021 | 14:50 44
Aceh dan Moderasi beragama

Oleh : Nurul Aini

OPINI | Koranindependen.co - Hari ini isu tentang agama merupakan isu yang bukan hanya dibicarakan di Aceh tetapi ditingkat global. Masalah berbasis mayoritas minoritas, ketidakadilan, kekekerasan, diskriminasi dalam 20 tahun terakhir menguat secara mendunia. Di media, tak bisa kita pungkiri begitu banyak berita tentang tema-tema berbasis agama, terlepas apakah betul penyebabnya hanya agama saja, penulis tidak membahas itu didalam tulisan ini. Namun didalam tulisan ini, tema berbasis agama itu penulis kemas kedalam ranah yang lebih mikro yaitu di Aceh sendiri.

Aceh dengan berbagai macam suku, ras, agama, keyakinan, paham dan lain-lain berbaur dan punya ciri khas tersendiri. Penduduk di Aceh tidak hanya beragama Islam, tapi juga Kristen, Budha, Hindu. Suku di Aceh juga tidak hanya suku Aceh, tetapi ada Aneuk Jamee, Gayo, Kluet dan lain sebagainya. Namun, perbedaan itu tentu kita sebagai masyarakat Aceh khususnya, dan masyarakat Indonesia pada umumnya, punya rumah yang mempersatukan kita, yaitu pancasila. Pancasila sebagai falsafah negara untuk memupuk rasa toleransi untuk menjaring persatuan dan juga perdamaian.

Perlu diketahui bahwa berbicara tentang moderasi ini bukan hanya berbicara tentang perbedaan agama, si A Islam si B Kristen (antar umat beragama), tetapi juga didalam umat beragama sendiri (intra). Misalnya Islam punya 4 mazhab, Syafi, Hanafi, Hambali, Maliki. Tentu diantara ke empat mazhab itu punya perbedaan, kekurangan, kelebihannya masing-masing, dan yang paling penting adalah agama Islam mengakui ke empat mazhab itu. Perbedaan-perbedaan di dalam paham tersebut, sering kali menjadi akar diskriminasi. Misalnya di Aceh dengan mayoritas paham Syafii, ketika seseorang melaksanakan tata cara ibadah dengan mazhab yang lain, langsung di klaim dengan sesat, dan terkesan berbeda.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba membuat konsep tentang moderasi beragama. Di masyarakat Aceh, konsep tentang moderasi menurut hemat penulis bisa diibaratkan dengan gulai Pliek, gulai khas Aceh yang terbuat dari berbagai macam campuran sayur, mulai dari nangka, melinjo, dan lain sebagai nya dipadu satu menjadi gulai, yang dinamakan gulai pliek. Ketika kita mengambil satu sendok makan nangka, ternyata rasa nya tidak berubah, akan tetap nangka, ketika kita mengambil melinjo, maka namanya tetap melinjo dan rasanya juga tidak mengubah cita rasa dari buah itu sendiri. Begitulah toleransi, berbaur bersatu padu, tetapi masih punya ciri khas sendiri, tidak melebihi.

Isu moderasi beragama merupakan isu yang sensitif dibicarakan di tengah masyarakat. Masyarakat yang terbiasa memang bersikap biasa saja, tapi yang tidak terbiasa eksistensinya tidak mengakui keberadaan yang berbeda. Step didalam masyarakat muncul diawali dengan tidak menerima perbedaan, rasa curiga, berlebih-lebihan dalam beragama dan berujung pada diskriminasi. Kita sering mendengar bahwa “sesuatu yang berlebihan adalah tidak baik” tak terkecuali berlebihan dalam beragama, menganggap dirinya satu-satunya yang paling benar yang lain salah. Padahal perbedaan adalah sunnatullah.

Jika kita lihat dalam Islam, secara normatif Al-Quran turun sebagai rahmad, rahmatan lil alamin bagi seluruh alam. Apa yang dituliskan dalam Al-Quran, dan dipraktekkan oleh Rasulullah , dalam banyak Hadist juga Rasulullah mengajarkan penghormatan kepada seluruh manusia, berbagai macam keanekaragaman, tidak hanya secara etnis, ras bahkan secara agama, bagaimana penghormatan terhadap keberagaman. Namun dalam praktiknya sekarang ini, banyak sekali orang-orang menggunakan agama sebagai alat. Mengingat kejadian beberapa tahun terakhir bom bunuh diri oleh satu keluarga, bom Bali 2, yang menggunkan narasi-narasi  agama. Lalu di Aceh ada kejadian karena perbedaan mazhab, di tahun 2012, tgk Aiyub dibakar hidup-hidup di pesantren miliknya, karena dituduh menyebarkan ajaran sesat. Aksi-aksi tersebut dilegalkan oleh pelaku  bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah bentuk ketaatan kepada Allah untuk melukai orang-orang yang “berbeda” dengan mereka. Secara apa yang disebutkan dalam Al-Quran dengan apa yang terjadi adalah dua hal yang jauh sangat berbeda, padahal Islam itu adalah agama yang damai. Di tahun 2015, juga ada pawai menolak paham wahabi di Aceh, untuk pengukuhan mazhab Ahlussunnah wal jamaah, di Pidie baru-baru ini juga menolak ajaran ratep seribe yang di gagas oleh tgk Amran Wali dari Aceh Selatan.

Dalam intra umat beragama, ketika kita beragama berarti kita berTuhan, dan kita percaya bahwa Allah menciptakan manusia dengan keberagaman, dengan segala bentuk seluk beluk, bahwa semua itu adalah rahmad, bahwa perbedaan itu bukan sebagai musibah. Namun dalam kenyataannya, dalam menjalani kehidupan manusia sering sekali ingin terlihat sama, tidak menyukai perbedaan. Beberapa orang menganggap bahwa persamaan lebih oke daripada perbedaan. Pertanyaannya adalah apa yang merasuki kita? Kita bilang kita adalah seorang yang sangat agamis, namun diwaktu yang bersamaan kita menggunkan agama untuk tindakan kekerasan.

Berbagai kejadian-kejadian kekerasan berbasis agama sering terjadi beberapa tahun belakang itu, membuat mantan kementrian agama Lukman Hakim Saifuddin , mendengungkan tentang isu moderasi beragama ke publik. Di tengah pidatonya didepan ratusan mahasiswi dari sejumlah perguruan tinggi yang ada di Jakarta, “agama tidak perlu dimoderasi, namun cara kita dalam beragama yang perlu dimoderatkan (berada di tengah), mengamalkan ajaran agama tidak berlebih-lebihan. Baru-baru ini juga ada lomba yang digagas oleh Kemenag yang baru, Yaqut. Dengan tema moderasi beragama dalam berbentuk tulisan dan video. Dengan tujuan untuk menumbuhkan kesadaran dikalangan masyarakat, agar terciptanya Indonesia damai.

Lalu apakah tugas dalam menyuarakan isu moderasi ini adalah tugas pemerintah saja? Tentu saja tidak. Ini adalah tugas kita semua, sebagai mahasiswa, sebagai generasi muda, sebagai agen of change, sebagai masyarakat Indonesia.  Kita sering sekali menjadikan pemerintah sebagai sasaran atas kejadian-kejadian yang terjadi, padahal akar nya adalah masyarakatnya dimulai dari individu, ada tidak kesadaran untuk isu moderasi ini. Salah satu wadah yang menyuarakan isu moderasi ini adalah LABPSA yang merupakan Laboratorium Pengembangan Sosial Keagaman, yang digagas oleh sejumlah mahasiswa Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry Banda Aceh. 

Dalam menyuarakan isu moderasi ini, LABPSA selalu mengulang-ngulang narasi kedamaian, membangun narasi keagamaan adalah upaya mendukung perdamaian. Strategi yang dilakukan LABPSA adalah dengan memanfaatkan media sosial dan anak muda, dengan tujuan agar menjangkau seluruh lapisan masyarakat. LABPSA sadar bahwa agama merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya konflik, untuk itu butuh kerja sama, butuh kesadaran dari masyarakat untuk melakukan ini.

Penulis adalah mahasiswi Sosiologi Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.