Meningkatkan Literasi Agama Guna Meminimalisir Pelecehan Seksual Pada Dunia Kampus

Redaksi 30 November 2021 | 04:41 70
Meningkatkan Literasi Agama Guna Meminimalisir Pelecehan Seksual Pada Dunia Kampus

Oleh :  Yasin Bayla, Chindy Natalie Dan Teuku Maulana Yarmin Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Langsa.


OPINI | Koranindependen.co - Senin, 8 November 2021 Universitas Riau mulai membentuk Tim pencari Fakta dan akan mulai bekerja, Guna menangani dan menyelidiki dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakuan Oleh Dekan FISIP Universitas Riau terhadap salah satu mahasiswinya. Pemeberitaan pelecehan Seksual seolah olah saling berlomba lomba menghiasi pemberitaan media, baik pelecehan seksual yang terjadi ditengah Lingkungan Masyarakat, Dunia Perkuliahan, bahkan tidak dapat dipungkiri dalam Lingkungan Keluarga pun perbuatan keji ini telah terjadi dan ditampilkan oleh  media sebagai bukti kebenarannya yang menegaskan bahwa bukan opini semata melainkan suatu peristiwa yang benar benar terjadi berdasarkan fakta dilapangan yang menimbulkan korban.

Kekerasan dan pelecehan Seksual dilingkungan kampus berdasarkan survei yang dilakukan oleh kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi Indonesia Tahun 2020, sebanyak 77% dosen di Indonesia mengatakan bahwa kekerasan Seksual pernah terjadi dikampus. Namun 63% diantaranya tidak speak up (mengangkat suara kepublik) dan tidak melaporkan perbuatan Tersebut karena Khawatir akan stigma negatif dan keberlangsungan kehidupan Akademiknya. Bahkan data terbaru berdasarkan  hasil riset lembaga IPSOS Indonesia (Perusahaan Riset pasar dan Konsultasi multinasional paris, prancis) sebanya 82% kasus pelecehan Seksual dialami oleh wanita di Indonesia pada ruang Publik, hal ini jelas menjadi sesuatu yang memilukan sekaligus memalukan mengingat Negeri yang menjunjung Tinggi Hak Asasi manusia dan menjunjung Tinggi eksistensi kaum hawa mengalami kasus pelecehan Seksual yang terbilang Tinggi.

Secara Definitif Pelecehan Seksual adalah segala tindakan baik melalui Lisan, Tulisan atau aktifitas fisik dan isyarat seksual yang tidak dinginkan dan tanpa perstujuan korbannya. Secara sederhana pelecehan seksual berarti segala tindakan yang berkaitan dengan Seksual terhadap seseorang yang tidak menghendakai dan menyetujui perbuatan tersebut baik melalui Verbal maupun tindakan fisik. Berdasarkan hal ini maka apapun kegiatannya baik melalui tulisan, lisan ataupun aktifitas Fisik yang bertujuan kepada perbuatan seksual tanpa adanya kehehendak dan ketidakinginan korban dinamakan pelecehan Seksual.

Didalam kehidupan perkuliahan intraksi antara lawan jenis adalah suatu hal yang lazim terjadi hal ini bisa melalui diskusi kelompok, sharing pengetahuan dan pengalaman, kegiatan organisasi  yang sudah jelas intraksi melalui media sosial baik melalui wa, Instagram, telegram dan aplikasi aplikasi media sosial lainnya. Akan tetapi maraknya kasus pelecehan sesksual yang seakan akan berlomba menghiasi media hari ini menjadi bukti bahwasanya melalui intraksi yang lumrah tersbut terjadi hal keji yang sangat tidak diinginkan dan sengat merendahkan harkat dan martabat kaum wanita, sejatinya hal ini terjadi semata mata bukan dikarenakan terbuka luasnya kesempatan sebagaimana sebuah slogan klasik yang berbunyi ‘’ Kejahatan Terjadi bukan dikarenakan ada niat melainkan ada kesempatan” akan tetapi disebabkan  minimnya moral dan etika yang tidak berjalan lurus dengan keilmuan yang dimiliki. Dari banyak kasus pelecehan Seksual yang terjadi pada Lingkungan kampus didominasi oleh Oknum dosen yang menyalahgunakan wewenang dan otoritasnya terhadap mahasiswi, melalui data terbaru yang dialami oleh mahasiswa Fisip Unri yang mengaku dilecehkan seksual oleh dosennya saat melakukan Bimbingan skripsi. Berdasarkan hal ini semakin menguatkan bahwa Pelecehan Seksual yang terjadi dilingkungan kampus bukan diasebabkan oleh terbuka luasnya kesempatan, melainkan disebabkan oleh Minimnya akhlak, Etika yang dialami oleh beberapa oknum dosen sehingga melakukan pelecehan seksual kepada mahasiwanya.

Pada sisi yang lain Keberadaan Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset Dan Teknologi Nomor 30 tahun 2021 menjadi upaya penanggulangan dan minimalisir perilaku Pelecehan seksual yang terjadi dikampus sekaliugus menjadi payung Hukum baru yang akan melindungi mahasiswa dari perbuatan keji tersbut. Kendatipun peraturan tersebut menuai Pro dan Kontra ditengah Masyarakat setidaknya menjadi harapan bagi para mahasiswa akan keterjaminan hak akademis selama perkuliahannya untuk meberanikan diri jikalau seandainya perbuatan Pelecehan Sesual ini terjadi menimpa dirinya atau bahkan sudah menimpa dirinya. Akan tetapi apalah arti daripada sebuah perturan tertulis jikalau tidak dibarengi dengan kesadaran Perilaku oleh para pengajar dan juga seluruh objek yng dimaksudkan untuk meminimalisir Perbuatan Pelecehan Seksual.

Didalam salah satu hadisnya Baginda Rasulullah Saw bersabda :

“Bertakwalah kamu kepada Allah dimanapun kamu sedang berada, iringilah kejelekan yang telah kamu lakukan dengan kebaikan, yang akan menghapus kejelekan tersebut, dan peraguliah orang lain dengan akhlak yang baik ( Hadis Riwayat Ahmad, At tirmidzi  no1987) didalam hadis ini Baginda Rasul saw telah mengingatkan kita agara senantiasa takut dan mengingat Allah dimanapun kita berada, baik sedang sendiri ataupun sedang beramai ramai, baik sedang dirumah ataupu diluar rumah, dan juga baik ketika menjadi dosen ataupun menjadi mahasiswa, baginda Rasul juga mengingatkan dalam hadis ini agar mengiringi perbuatan buruk yang telah dilakukan dengan perbuatan baik yang bertujuan agar perbuatan buruk yang dilakukan mendapat ampunan dari Allah, serta berperilaku baiklah kepada seluruh manusia.

Nyatanya bila kita korelasikan dengan perbuatan pelecehan Seksual yang marak terjadi belakangan ini, salah satu hal yang melatar belakanginya adalah minimnya moral oleh beberapa oknum dosen yang seolah olah lupa akan Allah disaat menjalankan aksinya. Pelecehan seksual yang dilakukan oleh beberapa oknum dosen tidak terjadi dikarenakan minimnya pengetahuan sebab sudah pasti para dosen adalah insan terpelajar dan sudah memahami betapa berharganya martabat seorang wanita dan betapa kejinya perbuatan pelecehan seksual yang dilakukan.

Dari segi kelestarian Lingkungan Hidup sejatinya perbuatan pelecehan Seksual menimbulkan dampak psikologis yang amat mendalam kepada korban, hal ini bervariasi bentuknya mulai dari ketidak beraniaan korban bertemu dengan lawan jenis, ketidak mauan korban mengikuti perkuliahan oknum dosen pelaku, bahkan lebih parahnya terdapat bebarapa korban yang tidak mau lagi melanjutkan studynya disebabkan malu akan perbuatan pelecehan seksual yang menimpanya.

Konskuensinya hal ini berdampak pada lemahnya berfikir generasi muda yang tidak mau melanjutkan studynya sebab beban psikolgis yang dia alami sehingga dikemudian hari nanti yang seharusnya menjadi harapan bangsa dalam menjaga kelestarian Lingkungan hidup akan keberadaan insan terdidik dan terpelajar tidak terpenuhi, oleh sebab itu menurut penulis cara yang paling efeketif menanggapi Perilaku Pelecehan seksual yang terjadi saat ini ialah dengan meningkatkan literasi agama agar semakin timbuh rasa takut pada Allah sehingga menyadarakan betapa keji dan berdampak negatifnya perbuatan tersebut sehingga salah satu dampaknya ialah merusak kelestarian Lingkungan hidup. (*)