Kita dan Sampah

Redaksi 14 Oktober 2022 | 13:50 115
Kita dan Sampah

Birratul Walidaini  Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam UIN Ar-raniry.

Oleh Birratul Walidaini 
Mahasiswa Prodi Pengembangan Masyarakat Islam
UIN Ar-raniry.

Selasa jam 16:35 WIB matahari mulai tenggelam, di keramaian Kota Banda Aceh di mana semua orang di sibukkan dengan urusannya masing-masing, dua mahasiswi Universitas Ar-raniry Banda Aceh menulusuri jembatan Lamnyong Kecamatan Syiah Kuala untuk refreshing.

Di sana mereka di kelilingi oleh suara bising sepeda motor sambil melihat indahnya langit dan menikmati sejuknya angin di sore hari.

Setelah sampai di persimpangan Jalan Tanggul Krueng Lamnyong, terhirup bau menyengat yang membuat cacing di perut beraduk, bahkan bagi yang tidak terbiasa akan mengeluarkan sisa makanan yang sudah masuk ke lambung, bau tersebut berasal dari tempat pembuangan sampah yang masih berserakan di samping jalan.

Di bawah jembatang Lamnyong, terdapat pasar malam yang para pengunjungnya kurang inisiatif untuk menjaga kebersihan. Tanpa rasa malu mereka membuang sampah plastik yang mereka gunakan di sembarang tempat, membuat mata tidak asri untuk di pandang.

Saat hari mulai cerah, plastik yang berserakan di area pasar malam terlihat lebih jelas. Menurut pendapat para pengunjung hal tersebut terjadi karna kurang inisiatif para pemilik stand untuk menyediakan tong sampah di setiap stand yang mereka buat, sehingga pengunjung kebingungan untuk membuang sampahnya.

Di sepanjang Jalan Tanggul Krueng Lamnyong pemandangan yang di dapatkan tidaklah sesuai harapan, karna sampah plastik yang menghiasi sepanjang perjalanan yang di lewati,ini dapat menyebabkan rusaknya pemandang, mendatangkan bau tak sedap, berkemungkinan terjadi banjir level rendah juga mendatangkan berbagai penyakit dan mencemari lingkungan.

Sesampai di jembatan Krueng Cut tidak terlihat lagi sampah plastik berserakan di samping jalan yang membuat mata kembali asri untuk memandang. Mereka terus menulusuri jalan tanpa ada tujuan hingga sampai di persimpangan putar arah dan memutuskan untuk menuju tempat wisata tepi sungai Alue Naga.

Sesampainya di sana terlihat kios kayu yang menjual udang pancing menurut pemilik kios tersebut banyak pelanggannya pada saat itu ingin memancing di sungai Alue Naga.  

Di depan kios kayu ada gerobak bakso bakar yang aromanya tercium sampai ke cacing-cacing yang ada di perut, Di samping sungai ada rumput-rumput yang menjadi tempat persembunyian ikan tetapi ada suatu kendala yang tidak elok di pandang yaitu banyak sampah plastik yang berserakan, ini dapat menyebakan tercemarnya air saat hujan turun karna sampah yang di buang di atas rumput akan turun ke sungai dan dapat meracuni ikan yang ada di dalam sungai tersebut.

Sesampai di bebatuan samping danau, terasa angin menderu kencang membuat hati terasa sejuk. Terlihat banyak pengunjung yang duduk di bebatuan sambil makan bakso bakar, ada yang sedang berpacaran ada juga yang bersama teman-temannya berbincang-bincang tertawa riang.

Terlihat jelas sampah plastik dan lidi bakso bakar berserakan di atas batu dan sudah pasti ulah pengunjung yang masih minimnya akan rasa sadar diri terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

Seandainya semua pengunjung yang berdatangan ke tempat ini memiliki kesadaran atau menjaga sampahnya sendiri, mungkin tempat ini akan menjadi tempat wisata yang ramah lingkungan juga elok dipandang. Bukan hanya pengunjung yang menikmati keindahan tetapi juga masyarakat yang melintas.

Sebenarnya, kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan dengan tidak membuang sampah sembarangan dapat dinilai masih sangat minim, kurangnya kesadaran ini selain dapat merugikan diri sendiri, juga dapat merugikan masyarakat umum lainnya.

Sehingga diperlukan inisiatif untuk menerapkan tata pikir pola bagaimana dalam menjaga kebersihan agar tetap asri dan terawat.

Mulailah dari diri sendiri dengan menjaga sampah sendiri juga mencoba mengurangi penggunaan sampah plastik seperti mencoba membiasakan membawa tubler. Nah!