Social Distancing vs Social Dipancing

Redaksi 04 Mei 2020 | 09:02 543
Social Distancing vs Social Dipancing

r. M. Iqbal Rasyidin

Oleh: dr. M. Iqbal Rasyidin
Anggota FAMe Pidie dan Ketua Forum Pemuda Pidie

Social distancing merupakan salah satu langkah pencegahan dan pengendalian infeksi virus Corona dengan menganjurkan orang sehat untuk membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Kini, istilah social distancing sudah diganti dengan physical distancing oleh pemerintah.

Ketika menerapkan social distancing, seseorang tidak diperkenankan untuk berjabat tangan serta menjaga jarak setidaknya 1 meter saat berinteraksi dengan orang lain, terutama dengan orang yang sedang sakit atau berisiko tinggi menderita Covid-19.

Selain itu, ada beberapa contoh penerapan social distancing yang umum dilakukan, yaitu:

1. Bekerja dari rumah (work from home)
2. Belajar di rumah secara online bagi siswa sekolah dan mahasiswa
3  Menunda pertemuan atau acara yang dihadiri orang banyak, seperti konferensi, seminar, dan rapat, atau melakukannya secara online lewat konferensi video atau teleconference
4. Tidak mengunjungi orang yang sedang sakit, melainkan cukup melalui telepon atau video call

Selain social distancing, ada pula istilah lain yang berkaitan dengan upaya pencegahan infeksi Covid-19, yaitu self-quarantine (karantina) dan self-isolation (isolasi).

Self-quarantine
Self-quarantine ditujukan kepada orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona, misalnya pernah kontak dengan penderita Covid-19, tetapi belum menunjukkan gejala.

Orang yang menjalani self-quarantine harus mengarantinakan diri sendiri dengan tetap berada di rumah selama 14 hari.

Dalam masa ini, orang yang menjalani self-quarantine diminta untuk tidak menerima tamu, tidak berbagi penggunaan alat makan dan alat-alat pribadi dengan orang lain, menjaga jarak setidaknya 1 meter dengan orang yang tinggal serumah, mengenakan masker saat berinteraksi dengan orang lain, serta selalu menjaga kebersihan diri dan sering mencuci tangan.

Self-isolation
Self-isolation diberlakukan pada orang yang sudah terbukti positif menderita penyakit Covid-19. Biasanya, self-isolation merupakan upaya penanganan alternatif ketika rumah sakit tidak mampu lagi menampung pasien Covid-19. Menerapkan self-isolation tidak bisa sembarangan dan harus dengan arahan dokter.

Dalam prosesnya, penderita Covid-19 harus mengisolasi dirinya sendiri di ruangan atau kamar khusus di rumah dan tidak diperkenankan keluar agar tidak menularkan virus Corona kepada orang lain.

Siapa pun yang ingin berinteraksi langsung dengan penderita hanya diperkenankan selama 15 menit dan harus mengenakan masker atau alat pelindung diri, serta menjaga jarak sejauh 1 meter.

Barang yang digunakan penderita, mulai dari sikat gigi hingga tempat makan, harus dibedakan dengan barang yang digunakan oleh orang lain yang tinggal serumah dengannya. Penderita pun wajib untuk selalu mengenakan masker, terutama saat berinteraksi dengan orang lain.

Social Dipancing
Setelah semua urusan diatur sedemikian rupa dengan upaya-upaya pencegahan lewat social distancing, masyarakat pada akhirnya akan berbenturan dengan berbagai fenomena sosial yang memancing individu untuk tetap berkumpul, bisa jadi ini adalah sebuah pancingan sosial yang susah dihindarkan. Atau ini adalah bukti kelengahan masyarakat untuk tetap menjaga interaksi sosialnya. Berbagai fenomena sosial yang sering dilakukan, yaitu:

1. Berjabat tangan
Berjabat tangan dengan penuh kekeluargaan adalah salah satu ciri khas bangsa ini yang menunjukkan betapa ikatan sosial itu masih kuat (strong social ties). Dalam aktivitas keseharian mulai dari tempat kerja, aktivitas sosial, aktivitas ibadah di rumah ibadah berjabat tangan sambil mengucapkan salam, membuktikan betapa bangsa ini masih punya nilai persaudaraan (value of brotherhood) yang sangat bagus.

Masyarakat dengan budaya timur, khususnya bangsa kita hidup dalam sebuah ikatan sosial dan kekeluargaan yang sangat kuat. Bangsa Indonesia punya budaya yang sangat khas dalam hal bersalaman atau berjabat tangan, saling peluk karena kasih persaudaraan yang sangat tinggi.

2. Pasar tradisional
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.

Ini merupakan fenomena sosial yang lazim dilakukan masyarakat, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar rumah tangganya.

3. Kafe
Kafe secara harfiah adalah (minuman) kopi, tetapi kemudian menjadi tempat untuk minum-minum yang bukan hanya kopi, tetapi juga minuman lainnya termasuk minuman yang beralkohol rendah.

Di era modern ini tempat nongkrong seperti, coffe shop, kafe, kedai kopi hampir bisa kita temui di setiap tempat, bermunculan kafe-kafe dengan berbagai konsep yang menarik dan didukung sajian minuman dan makanan membuat eksistensi kafe semakin digemari oleh para remaja.

Ini adalah fenomena sosial yang cendrung lebih digandrungi anak-anak muda. Apalagi mereka berfikir usia muda jauh lebih tidak rentan terjangkit infeksi dibanding mereka yang berusia tua.

4. Aktivitas Keagamaan
Agama mempunyai peran yang cukup penting dalam menghadapi segala aspek kehidupan. Dalam situasi apapun, kegiatan keagamaan menjadi wujud dari eksistensi komunitasnya.

Jamaah Tabligh menggelar acara Ijtima Ulama Dunia Zona Asia (19-22 Maret 2020) di Pakatto (Kabupaten Gowa), Sulawesi Selatan. Pesertanya berasal dari 48 negara. Tak kurang dari 8.000 jamaah hadir di acara tersebut. Padahal saat ini Indonesia sedang berupaya mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) yang sudah menjadi pandemi ini.

Jamaah yang mengikutinya merupakan kelompok yang tidak jauh berbeda dengan perkumpulan yang diadakan di Malaysia pada 1 bulan lalu. Mereka telah menginfeksi Covid-19 kepada lebih dari 500 orang, termasuk warga Brunei sebanyak puluhan orang dan Indonesia sebanyak 696 orang.

Seperti inilah perseteruan yang tak habisnya, antara Social Distancing dan Social Dipancing, kembali pada logika dan alur berfikir kita, apakah akan tetap disiplin menerapkan social distancing atau akan ikut dalam fenomena sosial yang mudah terpancing tersebut? Nah!