New Era, Kutu Buku to Kutu Digital

Redaksi 27 Juli 2020 | 08:52 32
New Era, Kutu Buku to Kutu Digital

Anita Sari

Oleh Anita Sari, 
Mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Perkembangan teknologi masa kini, dunia digital banyak merubah pola hidup masyarakat dikarenakan begitu mudahnya mencari kebutuhan untuk mendukung berbagai pekerjaan, baik seputar informasi dunia maupun pembelajaran saat ini,

Di era digital saat ini tentunya memiliki berbagai dampak yang ditimbulnya khususnya dikalangan pelajar yang menimbulkan kemalasan dalam budaya membaca dan menulis, dikerenakan banyak pelajar senantiasa hanya mengandalkan 3 keyboard yaitu Ctrl C+V (Copy Paste),

Tidak dipungkiri hal tersebut terus menjadi tradisi turun temurun dikalangan pelajar, tidak menutup kemungkinan era digital ini juga mengalihkan para pelajar dari kutu buku menjadi kutu digital. 

Tentunya era digital ini memiliki berbagai keunggulan yaitu dapat membantu pelajar atau segenap tenaga kerja dalam memperoleh referensi, seperti (e-book) atau (e-journal), yang memfasilitasi buku buku dan hasil penelitian secara gratis. Namun banyak pengguna gudget khususnya bagi pelajar dunia digital yang menyalahgunakan kemudahan tersebut.

Adapun dibalik keunggulan tersebut dunia digital juga memiliki berbagai pengaruh yang ditimbulkan yaitu maraknya Plagiasi digital yang terus berkembang saat ini seolah menjadi hal yang lumrah dikalangan pelajar,

Dengan demikian banyak keberadaan digital disalahgunakan seperti kurangnya pemahaman dalam menempatkan perbedaan letak antaranya referensi sumber primer (rujukan pertama) yaitu Buku dan sumber sekunder (rujukan tambahan) via internet seperti PDF, E-book dan E-jounal sebagai pendukung referensi.

Dampak lain juga terlihat di berbagai gedung bacaan atau perpustakaan yang kian berkurang pengunjung, namun beralih ke berbagai warung kopi yang memiliki akses internet yang lebih luas.

Djamaludin Husita di Kompasiana menuliskan “Buku adalah gudang ilmu sedangkan membaca adalah kuncinya” kata kata tersebut bermakna dengan membaca buku kita akan mendapatkan kunci kesuksesan yaitu ilmu,

Sebab derajat orang berilmu itu sangat tinggi dibandingkan kekuasaan dimuka bumi ini, bahkan dalam hadist malaikat pun meletakkan sayap nya tanda penghormatan kepada orang yang berilmu.

Maka dari itu perbanyaklah membaca agar memperoleh ilmu, dan stop plagiasi yang akan membuatmu tidak tahu apa apa. Lalu apa perbedaan kutu buku dan kutu digital?

Jika dilihat sekilas terlihat sama dengan kacamatanya, namun memiliki perbedaan yang sangat jelas pada pola berpikirnya, penyampaian ide, serta bahasa yang digunakan.

Kutu digital tidak lain diakibatkan terlalu lama memandang layar monitor terutama smartphone, tablet, dan laptop yang membuat mata menjadi rusak serta menurunkan daya penglihatan karena cahaya radiasi yang dihasilkan dari smartphone tersebut. 

Namun jika dibandingkan dengan membaca buku akan terasa lebih nyaman dan sehat daripada membaca e-book dari gawai. Saat membaca dianjurkan dibawah cahaya yang terang agar mata tidak mudah lelah, karena pencahayaan yang redup dapat mengakibatkan rusak penglihatan mata.

Sejatinya proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja baik secara formal mauapun informal. Pembelajaran dapat dilakukan secara mandiri salah satunya dengan cara mencari informasi yang bisa diperoleh melalui banyak sumber salah satunya buku sebagai bahan bacaan yang terpercaya, kemudian sebagai referensi pendukung dari internet, namun tidak sembarang pendukung dari internet dapat diambil sebagai rujukan.

Carilah sumber sumber rujukan internet yang terpercaya tentunya yang memiliki nilai penelitian yang sudah di akui.

Dengan demikian,  perlu adanya strategi dalam pembelajaran yang dapat mengakomodasi dan mengarahkan para pelajar dalam memanfaatkan kemudahan yang disediakan oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih tersebut dan relatif mudah didapat. Nah !