Anak Perempuan Yang Tumbuh Dewasa Tanpa Seorang Ayah

Redaksi 03 November 2022 | 09:16 509
Anak Perempuan Yang Tumbuh Dewasa Tanpa Seorang Ayah

Cerpen Karangan : Lidia Nurliana

Kategori : “Anak Perempuan Yang Tumbuh Dewasa Tanpa Seorang Ayah”, (Cerpen Kehidupan dan Motivasi). 

 

Sosok ayah yang katanya sebagai cinta pertama anak perempuan nya tidak sepenuhnya benar, tidak sedikit anak perempuan yang tidak merasakan cinta seorang ayah dari kecil. Mungkin memang karena ayahnya sudah tiada sejak kecil atau memang tidak mengetahui siapa sosok ayahnya. Tapi sebagai anak perempuan yang memang kehilangan sosok ayah dari kecil, aku menuliskan ini. Mungkin kurang lebih dirasakan oleh para Anak perempuan lainnya yang tidak mendapatkan sosok ayah di dalam hidupnya atau di sebagian hidupnya. 

Hidup adalah sebuah hal yang sangat penting dan berguna bagi setiap manusia. Salah satunya adalah ketika mempunyai kehidupan yang sederhana, akan tetapi sangat bermakna untuk dijalani. Memiliki keluarga yang lengkap dan sempurna adalah keinginan terbesar ku hingga saat ini. aku selalu bermimpi mempunyai keluarga yang lengkap dan bahagia, berharap itu menjadi sebuah kenyataan. Huh... Ternyata aku salah, semua itu hanya mimpi yang mustahil menjadi nyata. 

Aku hanya seorang anak perempuan biasa yang sejak kecil tinggal bersama ibu dirumah yang sangat sederhana dan jauh dari kata sempurna. Seiring berjalan nya waktu aku mulai tumbuh menjadi seorang gadis kecil yang menyebalkan bagi ibu. Walaupun menyebalkan tetapi ibu tetap menyayangi ku dan menjagaku di setiap waktu. Namun demikian, aku selalu bertanya dimana Ayah?... Mengapa aku tidak pernah melihat nya, setiap hari aku menanyakan hal yang serupa kepada ibu, Namun ibu tidak pernah menjawab pertanyaan yang selalu aku tanyakan. 

Sehingga pada suatu hari, aku mengatakan kepada ibu “ibu, mengapa ibu tidak pernah menjawab pertanyaan ku, apa salah aku bertanya soal ayah. Aku hanya ingin tahu bu, terkadang aku melihat anak perempuan lain yang selalu bersama ayahnya, Mengapa aku tidak seperti itu ibu? “.... Entah karena hal apa sepertinya ibu sudah tidak ingin lagi mendengar pertanyaan ku dan berkata “Sudah cukup pertanyaan mu! Ibu sudah muak mendengar kata-kata itu”..... Seketika aku terdiam, saat itu aku sudah berusia 12 tahun. 

Setelah hari itu, Ibu mengatakan bahwa ia akan menceritakan sedikit dari pertanyaan yang belum terjawab. “Nak, ibu akan menjawab pertanyaan mu sekarang akan tetapi ibu tidak bisa mengatakan semua nya. Dulu saat kamu masih didalam kandungan sekitar 8 bulan, ayah pergi meninggalkan ibu Nak, ayah mu masih ada namun tidak tahu dimana keberadaan nya”..... Hanya itu yang dikatakan oleh ibu. Lalu aku menjawab “Apakah ayah tidak menginginkan ku ibu sehingga ia pergi meninggalkan kita, Mengapa ayah setega itu ibu? “... Dengan wajah sedih dan menangis ibu tidak menjawab lagi dan aku menatap wajah ibu yang dipenuhi dengan kesedihan. Setelah itu, aku tidak bertanya lagi kepada ibu karena mungkin ada hal yang sangat menyakiti perasaan ibu sebelumnya. 

Setelah mendengar Jawaban dari ibu, aku mengambil sebuah kesimpulan bahwa aku harus membahagiakan ibu tanpa membuatnya mengeluarkan air mata kesedihan. Aku ingin menjadi wanita yang mandiri, kuat, berkarakter, dan bertanggung jawab seperti ibuku. Karena kebiasaan ku adalah menulis, jadi aku menulis diary seperti ini : 

“Ku jalani hari dengan kesendirian... 

Tanpa seorang ayah yang mengisi ruang dan waktu... 

Rasanya ku tertanam menahan luka yang dalam.. 

Hampir saja ku ingin putus asa.... 

Melihat keadaan ku saat ini... 

Namun aku harus tetap tegar demi masa depan”..... 

Hari demi haripun berlalu, kini aku sudah melewati masa-masa kecilku dan berganti dengan masa remaja yang akan menjadi tumbuh dewasa. “Ternyata berat yahh... Melewati semua fase sendirian, berjuang melawan keadaan “... Kataku dalam hati. Tetapi aku harus bisa karena ini semua demi masa depan dan keinginan terbesar ibuku agar aku bisa selalu berusaha untuk menggapai cita-cita yang selama ini aku mimpikan. 

Pada suatu hari, aku sedang duduk di taman kota untuk menghilangkan sedikit beban dan ingin menikmati suasana sejenak. Di situ aku melihat ada seorang perempuan seusiaku bersama dengan ayah dan ibunya. Betapa bahagianya wanita itu bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang seorang ayah, dukungan dari seorang ayah untuk anaknya yang selama ini aku harapkan. Ketika itu aku sedang duduk sambil menulis diary seperti biasa di buku harian. Langsung air mataku jatuh, ingin rasanya aku teriak mengeluarkan semua yang aku pendam. “Ingin rasanya aku memeluk sosok ayah dan berkata aku tak sanggup melewati semua ini sendirian, sampai kapan aku mampu bertahan... Ya Allah bagaimana rasanya dekat dengan ayah, mendapatkan kasih sayangnya, dan di dukung olehnya.. Terkadang, aku selalu berfikir mengapa aku tidak seperti mereka yang mempunyai segalanya untuk seorang ayah. Aku punya seorang ayah, tetapi aku kehilangan perannya sebagai seorang ayah. Ibu adalah segalanya bagiku, ia ayah sekaligus ibu dari dulu hingga saat ini”... 

“Semandiri apapun aku, pasti ada waktu dimana aku ingin... 

Menjadi wanita manja seperti wanita lainnya.... 

Bisa bersandar dan menangis dalam pelukan seorang Ayah... 

Ketika semua terasa berat dan melelahkan... 

Tetapi keadaan memaksaku harus menjadi wanita kuat dan mandiri.... 

Harus tersenyum pada dunia setelah apapun masalah... 

Yang menimpa dan rintangan yang menghadang.... 

Harus bisa mengusap air matanya sendiri”...... 

Begitulah seterusnya, aku menjalani hari-hariku sebagai wanita yang harus mandiri dan mampu melewati setiap kesulitan yang terkadang menghampiri, hingga saat ini aku sudah tumbuh dewasa tanpa seorang ayah. Ibu mengatakan kepada ku untuk menganggap bahwa aku sudah tidak memiliki seorang ayah, akan tetapi rasa ingin tahu dan penasaran di benakku selalu muncul ingin mengetahui bagaimana sosok Ayah yang sudah tega meninggalkan kami. Hari demi hari, waktu demi waktu, berlalu dengan cepat, aku sudah mencari kemana-mana tanpa sepengetahuan ibu. Akan tetapi, aku tidak menemukan nya. Meskipun ibu sudah menganggap nya tiada, aku masih ingin mencari nya. 

Walaupun demikian, aku tetap menganggap ada walaupun aku sudah kehilangan perannya sebagai ayah dari kecil. Mencari dan terus mencari, tetap berusaha kuat dan tegar meski terpaksa oleh keadaan. Meninggalkan ibu demi mewujudkan impianku menjadi wanita yang mandiri dan berkarakter. Terkadang orang bertanya : “Mengapa kamu bisa sekuat ini menghadapi semua yang kamu alami? “... Aku menjawab : “Ini tidak seberapa dan tidak sebanding dengan perjuangan ibuku membesarkan ku sendirian, berjuang mati-matian agar aku bisa seperti sekarang ini”. Ini saatnya aku ingin membahagiakan ibuku dengan menjadi wanita mandiri demi menggapai impianku dan mengangkat derajat ibu yang sudah merawatku dari kecil tanpa melibatkan orang lain dalam memikul beban dan bekerja keras menafkahi ku. Aku juga bertahan sejauh ini karena aku ingin bertemu dengan ayah, walaupun aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku hanya ingin melihat apakah dia memang tidak menginginkan ku sebagai anaknya atau ada alasan lain mengapa ia meninggalkan ibuku. Pertanyaan ini masih terlintas di fikiran ku karena aku belum menemukan jawabannya. 

Disini aku selalu bersyukur dengan semua yang ada, karena belum tentu anak perempuan lain sekuat diriku. Tanpa aku sadari sebenarnya aku adalah sosok yang kuat. Mengapa demikian? Karena ketika anak perempuan lain bisa merasakan pelukan seorang ayah, tapi aku dengan begitu kuatnya dapat menghadapi semuanya tanpa pelukan dari seorang ayah. 

Pesan moral dari cerpen diatas yang bisa disimpulkan adalah :

Kamu harus bersyukur karena kamu masih memiliki seorang ibu. Sosok yang begitu amat sangat mulia, yang seharusnya menjadikan ibu sebagai sosok Cinta pertama mu yang begitu kamu muliakan. Sebagai anak perempuan yang harus tetap sabar dan kuat menjalani lika-liku kehidupan tanpa seorang ayah. Selalu berusaha dan berdo'a agar bisa tetap mandiri dan penuh semangat untuk menggapai sebuah mimpi yang belum terwujud. Senantiasa tetap tersenyum selalu dalam kondisi dan situasi apapun itu, Agar dunia bisa melihat bahwa wanita kuat seperti kamu bisa sukses dan berkarakter walau tanpa seorang ayah.