Tradisi Ngeralang Terutung di Tanah Keluwat Aceh Selatan

Redaksi 13 Maret 2021 | 22:49 35
Tradisi Ngeralang Terutung di Tanah Keluwat Aceh Selatan

Foto : Durian tidak boleh dipanjat, tidak boleh di lempar, tidak boleh serkit, yang intinya durian itu hanya boleh dinikmati kalau sudah jatuh secara alami.

Oleh M. Maulidun
Anggota KOMPAKK

Keluwat adalah salah satu etnis yang hidup di Selatan Aceh, yang dewasa ini lebih akrap kita dengar etnis Kluet, namun masyarakat setempat menyebut Suku Keluwat.

Sebagai suku tentunya Keluwat memiliki adat dan resam atau tradisinya tersendiri, adat dan resam Keluwat sangat menarik untuk kita bincangkan, disebabkan jarangnya tersentuh oleh diskusi- diskusi akademis, seperti yang dinyatakan oleh Kak Essi Hermaliza BPNB "apapun tentang Keluwat ini masih sangat seksi untuk kita bahas."

Salah satunya adat atau tradisi di Keluwat yang akan kita ulas kali ini, tradisi Ngeralang Terutung, setidaknya sampai penghujung tahun 1999 Tradisi ini masih berlaku di kecamatan Kluet Timur.

Sebagai pengetahuan awal kita bersama secara singkat perlu kita jabarkan dahulu terjemahan dari judul tulisan ini, Ngeralang dapat kita artikan menjaga, atau terlarang bagi orang selain yang ditunjuk, terutung mempunyai arti durian, Keluwat nama suku, atau salah satu etnis di Provinsi Aceh.

Dahulu ada aturan adat di Tanah Keluwat bahwa setiap buah durian itu tidak ada pemiliknya, pemilik hanya berhak terhadap pokok durian, dan buah duriannya adalah milik adat.

Durian tidak boleh dipanjat, tidak boleh di lempar, tidak boleh serkit, yang intinya durian itu hanya boleh dinikmati kalau sudah jatuh secara alami.

Aturan ini berlaku pada setiap orang termasuk pemilik pokoknya, apabila aturan ini dilanggar maka akan di kenakan hutang adat satu ekor kambing.

Nah sekarang bagaimana Ngeralang Terutung ini berjalan?

Ketika musim Durian tiba, dan kira-kira telah banyak buah durian yang jatuh, maka pemangku adat akan mengadakan rapat adat, dan menunjuk petugas yang akan mengatur siapa saja yang mendapat jatah ngeralang terutung.

Sebelum digilir kepada masyarakat pemuda gampong akan  pertama mendapat giliran ngeralang terutung untuk memantau dan memastikan apakah sudah layak diadakan ngeralang tertung atau belum.

Setelah dicek oleh pemuda gampong dan dinyatakan layak, baru akan digilir per malam 10 atau 15 orang permalamnya, sampai semua masyarakat mendapat gilirannya, setelah semua masyarakat mendapat gilirannya,

Kemudian giliran pemuda gampong mendapat giliran satu kali lagi, sebagai penutup adat ngeralang terutung, atau di sebut ngapusi terutung, dimana pada malam ini semua buah durian itu akan diturunkan oleh pemuda gampong.

Kenapa disebut ngeralang terutung, atau terlarang bagi orang lain?

Pada Tradisi Ngeralang Terutung ini, mempunyai aturan, setiap buah durian yang jatuh di malam itu tidak boleh diambil selain yang mendapat jatah ngeralang terutung pada malam itu, termasuk pemilik pokoknya pun tidak diperbolehkan,

Bahkan durian yang jatuh didepan kitapun tidak boleh kita ambil, jika kita nekat mengambilnya maka kita akan dikenakan sangsi utang adat.

Kalau pagi sudah tiba dan yang Ngeralang belum pulang, mereka masih mempunyai hak disitu, bahkan jika ada yang datang pada pagi itu, kebetulan duriannya jatuh, mereka belum diperbolehkan mengambilnya kecuali sudah dipersilahkan oleh yang Ngeralang tadi malam.

Durian siapa saja yang kita larang setiap malam itu?

Semua durian yang ada diseluruh pelosok gamong itu adalah milik yang mendapat jatah Ngeralang terutung, kalau pagi sudah tiba barulah semua durian itu dikumpulkan dan dibagikan kepada semua anggota Ngeralang tadi malam.

Nah begitulah sekilas tentang Ngeralang Terutung di Tanah Keluwat. Mari!