Moderasi Beragama: Menuju Jalan Tengah yang Moderat

Redaksi 02 April 2021 | 14:52 23
Moderasi Beragama: Menuju Jalan Tengah yang Moderat

Zul Hilmi, Sekretaris Forum Pemuda Lintas Beragama Provinsi Aceh & Kader IMM Aceh.

Oleh:Zul Hilmi
Sekretaris Forum Pemuda Lintas Beragama Provinsi Aceh & Kader IMM

Kata moderasi berasal dari Bahasa latin moderatio yang berarti ke-sedang-an (tidak berlebihan dan tidak kekeurangan). Kata itu bermakna penguasaan diri (dari sikap sangat berlebihan dan kekurangan).  Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia ) kata moderasi, bermakna: pengurangan kekerasan dan penghindaran keekstreman. Jika dikatakan “orang itu bersikap moderat”, kalimat itu berarti bahwa orang itu bersikap wajr, biasa-biasa saja, dan tidak ekstrem. dalam Bahasa Inggris, kata moderation, sering digunakan dalam pengertian average (rata-rata). Secara umum, moderat berarti mengedepankan keseimbangan dalam hal keyakinan,moral, dan watak, baik ketika memperlakukan orang lain sebagai individu, maupun ketika berhadapan dengan institusi negara.

Sedangakan dalam Bahasa Arab, moderasi dikenal dengan istilah wasath atau wasathiyah, yang makannya tengah-tengahan. Orang yang menerapkan pronsip wasathiyah bias disebut wasith. Allah SWT berfirman:

“ Demikianlah kami jadikan kamu umat yang tengahan, supaya kamu menjadi saksi atas manusia ( Q.S. Al-Baqarah:143).

Dalam perjalanan turunya agama Islam mengajarkan bahwa akidah,ibadah, perilaku serta hubungan sesama manusia maupun dalam perundang-undangan harus berada dijalan tengah.  Sikap tengah (moderat) perlu dipahami sebagai sikap beragama yang seimbang antara pengalaman agama sendiri (ekslusif) dan penghormatan kepada Praktik beragama orang lain yang berebeda keyakinan (inklusif).  Keseimbangan atau jalan tengah dalam praktik beragama ini niscaya akan menghindarkan kita dari sikap ekstrem berlebihan fanatic dan sikap revolusioner dalam beragama. Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan perilaku selalu mengambil posisi ditenga-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama.

Moderasi beragama memiliki prinsip dasar yang harus dibangun. Oleh karena itu prinsip ini dibangun secara adil dan berimbang. Hal ini telah dipraktikan dalam konteks bernegara dan berbangsa. Seperti yang dilakukan oleh para tokoh  BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) demi menjaga keutuhan, persatuan dan kesatuan wilayah Republik Indonesia menyepakati dan menyetuji usulan dari masyarakat Indonesia Timur untuk tidak mencatumkan “tujuh kata” (dengan kewajiban menjalakan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya).

Sikap moderat yang dibangun para tokoh-tokoh terdahulu ini mencerminkan sikap yang sangat moderat dalam membangun bangsa dan negara. Melalui bekal keagamaan yang mumpuni serta memiliki sifat terbuka dalam menyikapi keragaman dan perbedaan. Sehingga terciptanya negara yang moderat.

Di dunia serba apatis dan ekstrem saat ini. Banyak hal  yang kita khawatirkan dan membuat kita resah. Berbagai macam teknologi dan informasi serta cepatnya pemberitaan, membuat kita mengalami over dosisi informasi, saling tuduh dan kafir-mengkafirkan sesama kita. Lahirnya kanal-kanal pengetahuan amatiran di media sosial dan kritik saput jagat ikut turut membanjiri di kanal media sosial saat ini.

Sehingga membuat hilangnya atau matinya sebuah disiplin ke-ilmuan dan membuat seseorang menjadi pakar dakakan di media sosial. Memang di era sekarang siapa pun bisa jadi pakar walaupun hanya sebatas omong kosong. Sumber-sumber anonim dalam penggunaan sosial media pun ikut turut membanjir dan terjun di media sosial. Belum lagi pengguna buzzer yang menggiring opini nitezen untuk setuju dengan pendapat mereka dan memaki yang berbeda. Selain itu didunia digital bertebaran berita hoaks (bohong) yang tersebar diberbagai media sosial, baik itu Facebook, YouTube, Whatapps dll.

Menurut data yang dirilis oleh Microsoft pada akhir Februari yang dilansir kompas.com tingkat kesopanan digital pengguna Internet di Indonesia sangat buruk di Asia Tenggara. Kemununduran tingkat kesopanan paling banyak dirorong penggunan usia dewasa dengan persentase 68%. Ada tiga faktor yang memengaruhi risiko kesopanan di Indonesia. Pengaruh paling tinggi adalah hoaks dan penipuan yang naik 13 poin ke angka 47 persen. Kemudian, faktor ujaran kebencian naik 5 poin, menjadi 27 persen.

Yang ketiga adalah diskriminasi sebesar 13 persen, mengalami penurunan sebanyak 2 poin dibanding tahun lalu. Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-29 dari 32 negara yang disurvei. Femomena tersebut menunjukkan bahwa warga net kita belum memahami penggunaan media sosial dengan baik dan benar.

Moderasi beragama sangat penting untuk dipahami sehingga sikap apatis dan ekstrem bisa kita hindari. Banyak di antara kita menentang sikap ekstrem namun lupa terhadap sikap apatis. Padahal kedua-duanya merupakan sikap yang harus dihindari. Kita mununtut bahwa menjadikan masyarakat yang moderat dan bijaksana dan meninggalkan sikakp ektrem, keras, dan apatis. Para pembesar juga harus membersihkan diri dari tindakan-tindakan kemunafikan, pertentangan,  mencegah dari perkataan dusta, adu domba dan saling fitnah tanpa ada bukti.

Menurut Yusuf Al-Qardhawi tanda-tanda sikap berlebhan dalam beragama ada beberapa hal yaitu:
1.    Fanatik suatu pendapat dan tidak mengakui pendapat-pendapat lain
2.    Kebanyakan orang mewajibkan atas manusia sesuatu yang tidak diwajibkan Allah SWT atas mereka
3.    Memperberat yang tidak pada tempatnya
4.    Sikap kasar dank keras
5.    Buruk sangka terhadap manusia
6.    Terjerumus ke dalam jurang pengafiran

Oleh karena itu jalan menuju sikap Moderasi Beragama tidak hanya dilakukan oleh tokoh-tokoh agama. Namun juga masyarakat dan para pembesar ikut dalam bersikap moderasi beragama dan tidak terjebak dalam lingkarang apatis dan ekstrem.  sebagai negara  Darul Ahdi Wa Syahadah (negara kesepakatan) tentu sekiranya kita menunjukkan sikap Moderasi Beragama,  tidak hanya dilakukan di dunia Luring melainkan juga di dunia daring juga.