Tradisi, Harapan, dan Keteguhan Jiwa Mualem

4 Jan 2026 - 22:14
1 dari 2 halaman

Oleh Bunyanus Marsus

Opini | Koranindependen.co – Ma’meugang bukan sekadar ritual menyembelih sapi. Ia adalah denyut nadi budaya Aceh yang telah hidup sejak era kesultanan. Sejarah mencatat, tradisi ini bermula dari kedermawanan para sultan yang membagikan daging kepada rakyatnya menjelang Ramadhan. Dari sana, meugang tumbuh menjadi “keharusan kultural”: memasak daging sapi—atau kerbau di beberapa daerah—sehari sebelum puasa sebagai penanda kebersamaan dan kegembiraan kolektif.

Tahun ini, meugang datang dalam suasana yang berbeda. Luka pascabencana banjir masih terasa di banyak wilayah Aceh. Rumah rusak, modal usaha hilang, dan duka belum sepenuhnya reda. Di tengah kondisi itu, tradisi meugang tak sekadar urusan pangan, melainkan pelipur lara—peunawa—bagi masyarakat yang sedang diuji.

Dalam sebuah rapat koordinasi pemulihan pascabencana di Banda Aceh, publik menangkap pemandangan sederhana namun bermakna: Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), membasahi ujung jari sebelum membalik lembar naskah sambutan. Tindakan kecil itu—dikenal sebagai friction enhancement—kerap dilakukan orang untuk memastikan halaman tak terlewat. Di balik kesederhanaannya, tersirat ketelitian dan kehendak agar setiap pesan tersampaikan utuh.

Mualem memang bukan orator yang gemar retorika. Saat membaca teks, ia tampak apa adanya, bahkan sesekali terbata. Namun di situlah otentisitasnya. Pesan yang disampaikan jujur, santun, dan membumi. Kekuatan Mualem justru terasa ketika berbicara tanpa teks—nada datar, lugas, berangkat dari realitas lapangan yang ia saksikan sendiri.