Workshop Silvofishery and Blue Carbon Hadirkan Pakar Korea, Bahas Teknologi Pemetaan hingga Forest Wellness

29 Apr 2026 - 18:24
1 dari 3 halaman

Banda Aceh | KORANINDEPENDEN.CO — Workshop bertema Silvofishery and Blue Carbon menghadirkan sejumlah pembicara dari Korea Selatan yang memaparkan pengalaman dan inovasi terbaru di bidang ekologi, kehutanan, geospasial, serta pemanfaatan alam untuk kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran pengetahuan penting bagi pengembangan mangrove, pesisir, dan kehutanan berkelanjutan di Indonesia, khususnya Aceh.

Pemetaan Mangrove Bali dengan Satelit Resolusi Tinggi

Sesi pertama disampaikan oleh Min-kyu Moon dari Kangwon National University dengan topik Mapping Mangrove in Bali using High Resolution Satellite Imagery.

Prof. Moon menjelaskan penggunaan citra satelit Landsat 8 yang dipadukan dengan Planet Dove/PlanetScope Imagery beresolusi tinggi hingga 3 meter. Menurutnya, citra ini sangat baik untuk analisis spasial detail, meski akses datanya masih terbatas dan relatif mahal. Untuk meningkatkan akurasi, data tersebut dikombinasikan dengan Sentinel-2, khususnya kanal SWIR Band dan pendekatan vegetation index reflection.

Riset terapan dilakukan di kawasan mangrove Bali yang memiliki tekanan penggunaan lahan cukup tinggi. Hasil penelitian menunjukkan metode ini mampu membedakan mangrove dengan vegetasi pesisir lainnya secara akurat. Selain itu, perubahan tata guna lahan selama periode 2020–2024 dapat dipetakan dengan presisi tinggi. Model ini juga diperkuat dengan pendekatan Hidden Markov Model sehingga menghasilkan citra yang lebih tajam dan jelas.

Drone dan GIS untuk Deteksi Longsor

Materi berikutnya dibawakan oleh Myong-jun Kim dengan judul Mapping Landslide Using Drone.