Workshop Silvofishery and Blue Carbon Hadirkan Pakar Korea, Bahas Teknologi Pemetaan hingga Forest Wellness

29 Apr 2026 - 18:24
2 dari 3 halaman

Dr. Kim memaparkan pengalaman pemetaan di 21 kawasan taman nasional di Korea menggunakan drone resolusi 50 cm dan sistem GIS. Longsor dideteksi melalui perubahan tutupan lahan, terutama munculnya area bare land di tengah vegetasi rapat.

Selain longsor, citra drone juga mampu mendeteksi kanopi hutan yang mengering, yang diduga berkaitan dengan gangguan penyakit atau serangan patogen. Data ini kemudian dapat dikembangkan menjadi berbagai peta tematik untuk kebutuhan rehabilitasi dan mitigasi bencana.

Ia menyoroti tiga pertanyaan penting pascalongsor, yakni apakah lahan terbuka perlu direhabilitasi, apakah vegetasi rusak dibiarkan pulih alami atau direstorasi, dan apakah rekonstruksi lereng perlu dilakukan sebagai langkah pencegahan masa depan. Menurutnya, integrasi drone dengan kecerdasan buatan akan sangat membantu analisis cepat dan akurat.

Korea Berhasil Bangkit dari Hutan Gundul ke Forest Wellness

Sesi terakhir disampaikan oleh Jong-woon Kim, Direktur Asia Forest Institute dengan tema Leap-Frogging to Green Wellness: Shifting from Greening to Experience Through Korean Forest Development.

Prof. Jong-woon menjelaskan bahwa di United Kingdom dan Germany, alam telah menjadi bagian dari sistem kesehatan. Di Inggris, dokter mulai mendorong terapi di ruang terbuka. Di Jerman, masyarakat yang aktif memanfaatkan alam untuk rekreasi dan pemulihan kesehatan memperoleh insentif dari asuransi.

Ia kemudian menceritakan pengalaman South Korea. Pada 1950-an, Korea merupakan negara miskin dengan GDP sekitar US$57 per kapita. Ketergantungan pada kayu bakar membuat hutan gundul parah pada 1960-an. Namun sejak 1973, pemerintah memulai gerakan nasional penghijauan yang melibatkan seluruh rakyat. Hasilnya, pada 2005 kondisi hutan Korea pulih dengan tutupan kanopi yang rapat dan sehat.