Pada kesempatan tersebut, Kak Na menegaskan, segala aktifitas yang ia lakukan di masa panik, masa tanggap darurat dan masa pemulihan bencana bukanlah sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan pengakuan atau penghargaan, tetapi sebuah gerakan yang murni dilakukan karena rasa kemanusiaan.
Apalagi, dirinya juga berada di pusat bencana hidrometereologi, yang terjadi pada akhir November 2025 lalu. Sebagaimana diketahui, saat bencana terjadi, Kak Na berada di Aceh Utara, usai menyerahkan Bufferstok bencana ke sejumlah kabupaten dan kota.
“Saat bencana terjadi, saya berada di Seunuddon Aceh Utara. Jadi, saya memahami bagaimana kepanikan warga saat itu. Jalur transportasi dan komunikasi putus total. Tak ada sarana yang bisa kita gunakan untuk menghubungi dunia luar. Karena itu, begitu berhasil menembus lokasi banjir, saya berusaha sekuat tenaga untuk melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu masyarakat,” ungkap Kak Na.
Meski demikian, Kak Na meyakini, apa yang dilakukan oleh penerima penghargaan bukan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan pengakuan, tetapi murni sebagai sebuah gerakan yang dilakukan untuk mendukung upaya pemulihan bencana serta penataan sektor-sektor lainnya.