Sabar itu Indah

Redaksi 15 Oktober 2020 | 16:05 101
Sabar itu Indah

Nurul Izzah Binti Ghazali Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Nurul Izzah Binti Ghazali
Mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Ar-Raniry Banda Aceh

***

Sabar adalah mentari dalam kehidupan kita, tanpa sabar kita selamanya berada dalam kegelapan. Sabar berarti tabah dalam menempuh sesuatu musibah atau kesukaran. Ia merupakan satu sifat terpuji sehinggakan sifat ini dianggap sebagai salah satu maqam yang tinggi dalam disiplin ilmu tasawuf dalam mencapai makrifatullah. 

Dalam Islam, sabar itu terbagi kepada tiga yaitu, sabar dalam menunaikan perintah Allah, sabar dalam meninggalkan larangan Allah, sabar dalam menghadapi musibah atau ujian daripada Allah.

Daripada pembagian sabar ini sahaja sudah cukup untuk membuktikan bahwa tanpa sabar kita tidak akan dapat mencapai matlamat ubudiyyah (penghambaan) kepada Allah. Dengan bersabar kita akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat, manakala tanpa sabar kita akan kehilangan segala-galanya. 

Peringkat sabar yang pertama adalah sabar dalam mentaati perintah Allah, yaitu bukan mudah untuk kita melakukan ketaatan karena ia sesuatu yang tidak disenangi oleh hawa nafsu yang Ada dalam diri kita sendiri. Usaha melakukan ketaatan samalah seperti "Berpegang" dengan diri sendiri.

Namun, bagi orang yang sabar, ia melihat bahwa ketaatan itu umpama ubat pahit tetapi itulah yang akan menyembuhkan, walau betapa pahit mujahadah, sanggup ditempuh jua karena mengharapkan manisnya syurga. Jika kita benar-benar mengharapkan syurga, sabarlah dalam menempuh jalan ketaatan ini sepertimana sabarnya Rasulullah dan 10 orang para sahabatnya yang telah dijamin syurga.

Mereka rela berkorban dan terkorban untuk beriman dan berhijrah di jalan Allah. Mereka juga sanggup hidup miskin, dihina, diboikot, meninggalkan Kampung halaman, hatta mengorbankan nyawa untuk mentaati Allah dan Rasul.

Peringkat sabar yang kedua yaitu sabar meninggalkan maksiat. walaupun meninggalkan maksiat tidak memerlukan tenaga berbanding melakukan ketaatan yang memerlukan tenaga, namun para Ulama menyatakan bahwa meninggalkan maksiat itu jauh lebih berat daripada melakukan ketaatan karena apa yang dilarang (diharamkan) adalah perkara yang lebih utama yang akan dilakukan oleh manusia berbanding dengan apa yang diperintahkan. Jadi sabar meninggalkan maksiat adalah perkara yang lebih berat daripada melakukan ketaatan karena terpaksa berperang dengan Hawa nafsu kita sendiri. 

Peringkat sabar yang ketiga adalah sabar ketika ditimpa musibah. Sabar jenis yang ketiga ini berada di luar ikhtiar manusia. Taat dan maksiat masih tergantung kepada kehendak manusia, tetapi musibah datang terus daripada Allah. Manusia tidak mampu menahan musibah, maka ketika itu hanya dengan bersabar kita boleh berhadapan dengannya. Jika sifat sabar sudah tersemat dalam hati, musibah dari luar yang sebesar apa pun akan dapat dihadapi dengan sebaik-baiknya. 

Ada pandangan yang mengatakan bahwa sabar jenis yang ketiga inilah yang paling tinggi darjatnya, justru kepedihan yang menimpa di hati sangat pedih. Orang yang boleh bersabar dengan kesusahan melakukan ketaatan dan meninggalkan maksiat, tetapi derita kegagalan, kematian, penyakit dan lain-lain musibah lebih menekan hati.

Namun Ada juga yang berpandangan, kesabaran jenis yang pertama dan kedua lebih sukar Karena ia adalah sabar yang bersifat ikhtiyari (secara sedar dan boleh membuat pilihan), manakala kesabaran jenis ketiga lebih bersifat ijbari (terpaksa, tiada pilihan). Apa pun hujahnya, ketiga-tiga jenis sabar itu sangat indah. Dan keindahan sabar itu paling terserlah dalam kehidupan Nabi Muhammad S.A.W. 

Sabar itu sesungguhnya akan memberikan keindahan pada fizikal kita. Sabar juga akan memberikan keindahan pada jiwa dan perasaan kita. Imam al-Ghazali menegaskan bahwa sabar itu ada dua. Pertama, bersifat badani (fizikal) berupa seksaan, penyakit dan kesusahan yang menimpa jasad.

Yang kedua bersifat rohani (spiritual) seperti ejekan orang, perpisahan, kekecewaan, kegagalan, kematian dan lain-lain yang kebanyakannya menekan nafsu dan bertentangan dengan kehendak diri.

Justru, jika seseorang mampu bersifat sabar, maka dia akan memiliki dua keindahan. Pertama keindahan fizikal Dan kedua keindahan rohani. Jika kita mampu menahan diri ketika melakukan ketaatan, meninggalkan maksiat dan ditimpa musibah, nescaya akan semakin indahlah wajah dan akhlak kita.

Biarpun terasa pahit, janganlah hendaknya tercalar tauhid, sesungguhnya sabar itu indah, didikan terus daripada Allah.Semoga !