Menakar Profil Leader Pemuda Muhammadiyah

Redaksi 07 November 2019 | 09:15 201
Menakar Profil Leader Pemuda Muhammadiyah

Oleh Teuku Azhar Ibrahim, Lc.
Wakil Direktur dan Guru Tauhid di Pesantren Baitul Arqam Muhammadiyah Sibreh, Aceh Besar

Menurut Dr. Muhammad Fathi dalam bukunya The Art of Leadership in Islam. Ada sepuluh karakteristik yang harus dimiliki oleh seorang leader untuk memimpin umat. Antara lain;  ikhlas, beriman, berilmu, tawakal, hilm (murah hati), berkelakuan baik, sabar dalam penderitaan, berkeadilan, dan tiga lagi diwakili dari tujuh karakter tertera. 

Bila karakter itu ada dalam diri seorang pemimpin, maka amanlah perjalanan sejarah umat, khususnya dalam hal ini masa depan Muhammadiyah di Aceh.

Diakui atau tidak, perjalanan Persyarikatan Muhammadiyah di Aceh punya tantangan tersendiri yang mungkin tidak ada di daerah lain. Dan tantangan itu sebuah dinamika yang dibutuhkan untuk memompa semangat lebih kuat dalam rangka mencapai tujuan. 

Cara pandang seorang pemimpin terhadap tantangan juga tidak lepas dari tujuh sifat pemimpin yang telah dirunut oleh DR. Muhammad Fathi dalam bukunya. Seseorang yang well educated, beriman, ikhlas, berakhlak mulia tentu punya padangan beda mengenai sebuah tantangan dibanding seorang pecundang yang dari pagi sampai pagi lagi sibuk menyalahkan orang lain.

Tiap majlis ia duduk, selalu punya list panjang kesalahan orang lain untuk diupat. Sementara ia sendiri hanya punya pepes kosong yang diiklan di jagad raya. 

Pemuda hari ini, Pemimpin Besok

Organisasi otonom (ortom) Pemuda Muhammadiyah termasuk bagian penting dari keseluruhan persyarikatan Muhammadiyah. Hari ini pemuda, esok akan jadi figur penting dalam tubuh Muhammadiyah dan menjadi cermin Muhammdiyah keseluruhan, termasuk Pemuda Muhammadiyah Aceh.

Dalam Bahasa Arab sering didengungkan “syabab alyaum, rijal ghadan.” Pemuda hari ini akan jadi pemimpin hari esok. Tentu saja tantangan spesefik itu harus ditangani oleh pemimpin khusus pula.  

Seorang pemimpin tidak selamanya harus seorang orator yang menggetarkan podium, sekedar dapat menjelaskan ide dan buah pikiranya secara runtun sudah cukup, dalam diam ia bisa menyelesaikan masalah-masalah pelik berkaitan dengan orang lain. Kembali lagi ke Art of Leadership; ikhlas, berilmu, murah hati, sabar. Karena itu adalah bahasa komunikasi yang sangat efektif.

Orang yang ikhlas apa saja yang ada dalam hatinya akan sampai ke hati orang lain. Sabar akan membuat dia keluar sebagai pemenang dalam pertempuran apapun, punya pengatahuan luas akan melihat persoalan dari persepktif berbeda sehingga gejolak-gejolak kecil  internal bisa selalu punya ending yang elegan. 

Muhammadiyah bersentuhan dengan pihak lain karena masalah-masalah khilafiah kadangkala tidak dimengerti oleh pihak lain, terutama level terntentu yang seumur hidup hanya berpegang teguh pada alei puntong, dogma atau pemahaman tertentu ia sendiri tidak mengerti asal-usul.

Tentu seorang Pemimpin Pemuda Muhammadiyah  harus memiliki pengetahuan yang luas agar dapat menjelaskan dengan baik, ilmiah dan bersandar pada dalil quran dan hadist yang sudah menjadi tradisi keilmuan dalam Muhammadiyah.

Pada saat tertentu ia pun harus mampu mempertahankan sikap argumentatif  yang sudah menjadi identitas Muhammadiyah, tidak sekedar meuron-ron mengikuti keinginan orang ramai. 

Dakwah, Umat dan Amal 
Muhammadiyah sebuah organisasi massa Islam yang memiliki aset terbanyak di tanah air, dan itu lahir dari sebuah perjalanan panjang, buah karya para pendahulu yang terbukti sepanjang sejarah memiliki sifat Ikhlas, murah hati, sabar dalam penderitaan, dan asas paling utama level keimanan yang tinggi, tawakal dalam berusahan, setiap amal usaha yang diperjuangkan dari awal sudah diniatkan untuk dakwah dan umat.

Banyaklah contoh sudah terukir dalam sejarah Muhammadiyah; Seorang pemimpin Muhammadiyah ia tidak punya apa-apa dalam daftar aset kekayaan pribadi, tapi untuk persyarikatan apa-apa tentu punya.  

Itulah mereka para pemimpin Muhammadiyah yang luhur, mencerahkan, dirasakan manfaat sepanjang sejarah. Beda dengan mental pecundang  hanya fokus pada amal usaha yang sudah ada dan berfikir keras untuk bisa menggerogoti tanpa berfikir efek buruk dari amal usaha tersebut, bahkan tidak peduli sama sekali dengan misi dakwah Muhammadyah, hanya jadi sebuah batu loncatan untuk karir politik, atau media keuntungan bisnis. 

Ternyata karakteristik yang disusun oleh Dr. Muhammad Fathi, menjadi sangat inpiratif bila dijadikan takaran dalam membangun leadership dalam tubuh organisasi-organisasi dakwah Islamiyah.

Dalam bahasa lebih sederhana; Ketua Pemuda Muhammadyah, minimal bisa jadi imam shalat rawatib, lebih baik mampu jadi khatib dan paham selawat bagian dari rukun, punya pengalaman terlibat dalam amal usaha Muhammadiyah yang butuh kesabaran ekstra, tidak lari karena alasan finansial. Muhammadiyah Aceh ke depan butuh seorang pemimpin yang tangguh, Nah, semoga! 

Selamat Bermusyawarah dengan Gembira, Wahai Pemuda Muhammadiyah dari Seluruh Aceh di Langsa, pada 8 - 11 November 2019, Mari !