Memakna Pendidikan Islam

Redaksi 18 Agustus 2021 | 16:07 36
Memakna Pendidikan Islam

Nursanjaya Abdullah

Oleh: Nursanjaya Abdullah
Dosen Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

OPINI | Koranindependen.co -- Dalam Islam, ada 2 istilah yang sangat menonjol perbedaan maknanya yang dipakai sebagai istilah pendidikan, yakni TARBIYAH dan TA’DIB. Secara rinci, keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut. TARBIYAH secara semantik tidak khusus ditujukan pada makna mendidik manusia, melainkan dapat dipakai pada spesies lain, seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, dan hewan. Tarbiyah berkonotasi material, mengandung arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil yang sudah matang, dan menjinakkan.

Adapun TA’DIB cenderung mengacu pada pengertian AL-‘ILM (pengetahuan), TA’LIM (pengajaran), dan TARBIYAH (pengasuhan) itu sendiri. Mudah dipahami bahwa ta’dib adalah sebuah sistem pendidikan Islam yang di dalamnya berkumpul 3 subsistem, yakni ‘Ilm, ta’lim, dan tarbiyah. Dengan kata lain, tarbiyah dalam konsep pendidikan Islam adalah salah satu subsistem dari TA’DIB.

Sementara itu, istilah TA’LIM lebih luas jangkauannya dan lebih umum dibandingkan dengan istilah TARBIYAH. Beberapa argumentasi dapat saya paparkan, yakni bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri diutus oleh Allah untuk menjadi mu’allim (guru) yang mengajarkan Al-Kitab dan al-Hikmah kepada umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah:151:

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu dan mensucikanmu, mengajarkan kamu al-Kitab dan al-Hikmah serta mengajarkan kamu apa-apa yang belum kamu ketahui”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memandang proses ta’lim lebih universal daripada proses tarbiyah, karena ketika mengajarkan tilawah al-Qur’an kepada umatnya, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bukan hanya terbatas pada kemampuan membacanya, melainkan juga berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab, dan penanaman amanah. Dengan hal seperti ini, Rasul membawa para sahabat dan kaum muslimin yang semasa dengan beliau pada tazkiyah (penyucian diri), yakni penyucian hati dari segala noda dan dosa, sehingga para sahabat menjadi mudah menerima al-Hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat bagi dirinya dan masyarakat serta alam sekitar. Zaman inilah yang kemudian kita kenal dengan zaman terbaik umat Islam.

-Hikmah tidak bisa dipelajari secara parsial atau secara sederhana, sambil lalu, hanya sekedar datang dan duduk mendengar kajian saja, melainkan mencakup keseluruhan ilmu secara integratif. Sebab, jika kita menilik akar kata al-Hikmah, kata ini berasal dari kata al-Ihkam, yang berarti kesungguhan di dalam ilmu, iman, dan amal shalih, yang dalam istilah paedagogik disebut kognitif, afektif, dan psikomotor. Karenanya, al-Hikmah ini hanya Allah berikan kepada orang-orang pilihan, yakni ULUL ALBAB, sebagaimana Allah sendiri nyatakan dalam QS. Al-Baqarah:269:

“Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Sementara itu, akar kata tarbiyah dalam bentuk fi’il ditemukan dalam al-Qur’an hanya di dua tempat, yakni QS. Al-Isra’:24 dan Asy-Syu’ara:18.
Dalam QS. Al-Isra’:24, Allah berfirman:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".
Dan dalam QS. Asy-Syu’ara:18, Allah berfirman:

“Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu”.

Kedua ayat tersebut menjelaskan pengertian tarbiyah, yaitu proses persiapan pengasuhan pada fase pertama pertumbuhan manusia atau menurut istilah psikologi perkembangan disebut fase bayi dan kanak-kanak. Penggunaan kata tarbiyah pada ayat pertama (QS. Al-Isra’:24) menunjukkan bahwa pendidikan pada fase ini menjadi tanggung jawab keluarga. Ibu dan ayah bertanggung jawab mengasuh dan mengasihi anak-anak mereka yang masih kecil dan berada dalam situasi ketergantungan. Orang tua bertanggung jawab memenuhi kebutuhan biologisnya, makan, minum, rasa nyaman, dan mengajarkan tatakrama (akhlak) anak-anak. Orang tua bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian anak. Karena itu, adalah kewajiban bagi anak ketika ia dewasa membalas kebaikan kedua orang tuanya serta mendoakan keduanya.

Dalam ayat kedua (QS. Asy-Syu’ara:18), Fir’aun menyebut-nyebut kebaikannya terhadap Nabi Musa ‘alaihissalam, bahwa ia telah mendidiknya semasa kecil dan tidak memasukkannya ke dalam golongan anak-anak yang dibunuh ketika itu. Fir’aun juga mengingatkan Musa bahwa ia telah berada dalam naungan keluarga untuk beberapa tahun lamanya. Dialog Fir’aun dengan Musa ini terjadi ketika Allah menyuruh Musa pergi menghadap Fir’aun untuk menyampaikan risalah-Nya.

Dengan demikian, istilah tarbiyah pada kedua ayat tersebut berkaitan erat dengan proses persiapan dan pemeliharaan pada masa kanak-kanak di dalam keluarga. Dan tentu saja tarbiyah berbeda dengan pengertian ta’lim.
Ta’lim mencakup aspek-aspek pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam hidupnya serta pedoman perilaku yang baik. Allah berfirman dalam QS. Yunus:5, yakni:

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (maksudnya: Allah menjadikan semua yang disebutkan itu bukanlah dengan percuma, melainkan dengan penuh hikmah). Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

Ilmu yang semacam ini memiliki berbagai aspek, antara lain ilmu falak, yakni pengetahuan teoretis tentang perbintangan, pergerakan matahari dan bulan, serta segala pengetahuan yang dijabarkan darinya, seperti pengetahuan tentang penanggalan, dan lainnya. Pengetahuan ini juga mengandung aspek lain, yakni pembuktian bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah al-Khaliq (Maha Pencipta). Allah yang menciptakan alam jagad raya yang tak mampu dijangkau oleh pengetahuan manusia, dan diarahkan-Nya untuk kemanfaatan bagi manusia. Allah menciptakan alam ini sebagai peringatan bagi mereka yang dijuluki ULUL ALBAB agar mengkaji dan mempelajari ilmu pengetahuan untuk semakin mengenal Allah dan semakin taat beribadah kepada-Nya (lihat QS. Ali Imran:190-192).

Islam memerintahkan penganutnya agar benar-benar belajar dan menuntut ilmu pengetahuan secara terintegratif dengan keimanan, karena hanya orang beriman dan yang berilmu pengetahuan yang diangkat derajatnya oleh Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sangat menekankan hal ini dalam sabdanya, “Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim dan muslimah”. Dalam Shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallaahu ‘anhu berkata, TAFAQQAHUU QABLA AN-TUSAWWADUU (Galilah ilmu sebelum kalian dijadikan pemimpin).

Saya cenderung mendudukkan istilah pendidikan dengan kata ta’lim yang mengandung makna yang sangat luas, karena ilmu yang ditransfer kepada subyek didik bukan hanya untuk pengembangan ilmu itu sendiri, melainkan ilmu yang dapat diamalkan untuk kemanfaatan duniawi dan ukhrawi, ilmu yang melahirkan al-hikmah. Ada juga pendapat lain yang berkembang bahwa istilah pendidikan dengan kata ta’dib lebih sesuai dan mengakomodir kata ta’lim dan tarbiyah. Pengertian ta’dib ini yang kemudian terus terpakai sepanjang masa kejayaan Islam sehingga semua ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh akal manusia disebut dengan ADAB, baik yang langsung berhubungan dengan ilmu Fiqh, Tafsir, Tauhid, dan lain-lain, maupun yang tidak berhubungan langsung seperti ilmu Fisika, Astronomi, Kedokteran, Farmasi, dan lain-lain. Semua ilmu ini disebut dengan KUTUB AL-ADAB, sehingga terkenallah kitab AL-ADAB AL-KABIR, dan AL-ADAB ASH-SHAGHIR, yang ditulis oleh seorang tokoh pendidikan bernama IBN AL-MUQAFFA, dijuluki MU’ADDIB, wafat pada tahun 760M.

Ketika zaman semakin berkembang dan terus berjalan, banyak para ahli yang kemudian menjurus pada bidang spesialisasi dalam ilmu pengetahuan, hingga menyebabkan pengertian ADAB menyempit dan dipakai hanya untuk ilmu kesusasteraan dan etika (akhlaq). Konsekuensi dari perubahan ini menyebabkan TA’DIB sebagai basis utama pendidikan Islam hilang dari peredaran dan tidak dikenal lagi hingga saat ini. Apalagi sekarang, ketika ahli pendidikan Islam bertemu dengan istilah EDUCATION dari Barat, mereka langsung saja menerjemahkannya dengan Tarbiyah tanpa penelitian yang mendalam terhadap sejarah perjalanan Islam.

Sungguh, hari ini kita tidak lagi melihat model pendidikan Islam yang dikembangkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Beliau memulainya dengan membentuk masyarakat Arab lewat dakwah yang komprehensif, tidak hanya sekedar menyampaikan ajaran tapi juga berlaku paternalistik (memberi contoh), melatih keterampilan, memberi motivasi dan membangun lingkungan sosial yang mendukung pelaksanaan ide pembentukan pribadi Muslim.
Masyarakat Arab yang sebelumnya penyembah berhala, musyrik, kafir,kasar dan sombong, maka dengan usaha dan kegiatan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam meng-ISLAM-kan mereka, lalu perilaku masyarakat Arab berubah menjadi penyembah Allah Rabbul ‘Alamin, menjadi mukmin yang kuat dalam keimanan dan amal shalih, berlemah-lembut dengan sesama muslim dan bermuamalah dengan baik terhadap kaum kafir. Keberhasilan Rasulullah dalam mendidik, membentuk kepribadian muslim sejati sesuai dengan ajaran Islam menjadi sebab kemenangan dan kegemilangan umat Islam dalam meluaskan dakwah hingga sampai ke tengah-tengah kita hari ini. Generasi pertama umat ini telah berhasil mendidik diri dan keluarga serta masyarakat mereka menjadi generasi Rabbaniyun, generasi yang berbuat, berperilaku dan berkata sesuai dengan pemahaman al-Qur’an dan Sunnah yang diajarkan Rasulullah.

Syariat Islam tidak akan bisa dihayati dan diamalkan jika hanya sebatas diajarkan saja, akan tetapi harus dididik melalui proses pendidikan yang terintegrasi antara ilmu, iman, dan amal shalih. Bahkan Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Perumpamaan ilmu yang tidak diamalkan seperti harta yang tidak dinafkahkan di jalan Allah”. Bukankah ketika manusia mati semua amalannya akan terputus, kecuali tiga, yang salah satunya adalah ILMU YANG BERMANFAAT?
Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mendidik masyarakat Arab saat itu untuk beriman dengan benar, mengajarkan kepada mereka beramal shalih yang sesuai tuntunan, berakhlak dengan akhaqul karimah, dengan berbagai metode dan pendekatan. Sudah saatnya umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah mempelajari dan mendalami dengan baik pendidikan Islam yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish-shawwab. (*)

Penulis juga merupakan Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Langsa