Ustadz Bukhari M.Ali, Pemimpin Dambaan Masyarakat Gampong Peunyerat

Redaksi 04 Mei 2020 | 17:19 446
Ustadz Bukhari M.Ali, Pemimpin Dambaan Masyarakat Gampong Peunyerat

Ustadz Bukhari M.Ali

Banda Aceh, - Pemimpin  merupakan seseorang yang memimpin suatu masyarakat atau memimpin suatu negara yang bisa disebut juga dengan sebutan AMIR, AMIR dalam bahasa Arab artinya yang memerintah dan diperintah. Senin. 4/05.

Pemimpin itu diperintah oleh masyarakat, menampung apa yang dikehendaki oleh masyarakat, dan aspirasi masyarakat. Kemudian seorang pemimpin membimbing dan memerintah masyarakat untuk mengikuti langkahnya. 
Jadi pemimpin itu adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, Khususnya kecakapan dan kelebihan itu mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu, demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. 

Inilah yang dimiliki oleh sosok Bukhari M.Ali,S.Ag yang akrab disapa dengan Ustad Bukhari yang sangat jarang dimiliki oleh pemimpin -pemimpin lain. Beliau kelahiran Aceh Besar dan menikah dengan salah seoran anak mantan keuchik ke 4 gampong Peunyerat dan sekarang berdomisili tetap digampong Peunyerat.

Beliau juga pernah menjadi Keuchik Peunyerat periode 2008-2014. Aktivitas beliau sehari-hari adalah dakwah,mulai mengajarkan anak-anak sekolah sampai dengan  berceramah di masjid,vmeunasah,mushalla,instansi swasta, instansi pemerintah dan juga memenuhi undangan ceramah di setiap acara-acara peringatan hari-hari besar keagamaan.

Semasa beliau keuchik walau banyak kesibukan,beliau tetap mengutamakan kepentingan gampongnya. Sangat banyak perubahan dimasa beliau pimpin gampong Peunyerat,terutama dibidang agama. Ini bisa dilihat dari jumlah jamaah di meunasah seblum adanya mesjid,jamaah meunasah dari satu shaf yg kadang tidak penuh,seiring dengan berjalannya dakwah beliau shaf bertambah menjadi 3 sampai 4 shaf.

Keberkahan pimpinan beliau juga Allah mudahkan berdirinya sebuah mesjid yang kokoh yang diberi nama masjid Nurul Huda yang artinya cahaya petunjuk,dengan harapan bisa menjadi cahaya petunjuk bagi masyarakat Peunyerat. Atas Usaha dan jasa-jasa beliaulah mesjid Nurul Huda dalam waktu yang singkat lebih kurang setahun dibangun langsung bisa digunakan untuk shalat. Namun terkadang manusia ini tidak berterimakasih atas jasa-jasa orang lain. Hari ini masyarakat Peunyerat kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh dibuat kecewa oleh sikap pemerintah gampong setelah dicoretnya nama ustad Bukhari dari imam rawatib pada sk keuchik Nomor 7  tanggal 6 Maret 2020.

Masyarakat Peunyerat tidak setuju dengan sikap pemerintah gampong yang mencoret ustad bukhari dari imam rawatib, hal ini dibuktikan oleh poling yang dibuat oleh Forum Pecinta Mesjid yang dikoordinir oleh Afrizal.

Menurutnya dari hasil poling 102 suara,menunjukan 97,1 persen (99 suara) tidak setuju ustad Bukhari dicoret dari imam rawatib,sedangkan hanya 2,9 persen (3 suara) yang setuju dicoretnya Ustad Bukhari  dari imam rawatib mesjid Nurul Huda gampong Peunyerat Kecamatan Banda Raya Kota Banda Aceh.

"Beranjak dari itulah masyarakat mulai kecewa dengan pemimpin desa sekarang yang tidak mengakormodir keinginan masyarakatnya. Dicoretnya ustad bukhari dari imam rawatib  dengan alasan karena beliau imum mukim itu merupakan alasan yang tidak logis yang tidak diterima oleh masyarakat. Masyarakat kecewa berat dengan sikap pemimpin desa sekarang. Masyarakat  menginginkan kembali sosok leadership seperti Ustad Bukhari memimpin kembali Gampong Peunyerat kedepan," kata Afrizal, warga Peunyeurat, Banda Aceh.

Menurut kebanyak warga,beliau pemimpin yang tegas dan bertanggungjawab yang tidak bisa di obok-obok oleh pihak manapun. Sayyidina Ali mengatakan bahwa pemimpin yang baik itu adalah seorang yang sebelum jadi pemimpin, dia telah membaur dengan masyarakatnya, membimbing mereka seakan-akan dialah PEMIMPINNYA. Tetapi begitu menjadi pemimpin, dia membaur dengan masyarakatnya, seakan-akan dia bukan pemimpinnya tapi salah seorang dari mereka.

Jadi ada pembauran sehingga dia dapat meresap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Jika seseorang telah berhasil menjadi pemimpin, berarti sudah siap juga menjadi pelayan bagi masyarakat banyak dan menjadi tantangan tersendiri untuk melayani banyak masyarakat, memperjuangkan aspirasi dan mengutamakan perubahan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Dan jangan pernah berasumsi menjadi seorang pemimpin itu akan bebas memerintah dan melakukan apa saja, namun pada hakikatnya, pemimpin harus meminta izin dulu kepada masyarakat untuk mengambil suatu keputusan, kebijakan yang bermuara pada pelayanan publik. Karena kebijakan yang dibuat oleh pemimpin haruslah bertujuan untuk kepentingan umum bukan untuk kepentingan pribadi dan golongan. (Red/Azl)