HMTS UTU Gelar Baksos di Milad ke-13 Tahun

4 Mar 2021 - 01:29
Aceh
2 dari 3 halaman

"Kegiatan itu kita laksanakan pada Jum'at yang lalu di Aula Utama UTU 26 Februari 2021, kemudian sore dilanjutkan ziarah ke makam Alm Bang Hendrik Gunawan yakni ketua himpunan pertama sekaligus orang yang paling berperan penting berdirinya HMTS-UTU.

Serta silaturrahmi dengan ibunda beliau di komplek pemakaman pemda Aceh Barat Desa Ranto Panyang Timur, Kecamatan Meureubo dengan tujuan untuk merenung kembali bagaimana sejarah awal berdirinya himpunan sehingga terus berjalan sampai sekarang," ucap Riza Marzi

Kemudian bakti sosial mengecat kembali tugu persinggahan kedua jenazah Teuku Umar di dusun Cot Kandeh Gampong Lapang yang terkesan tidak terawat

"Kegiatan tersebut dilaksanakan panitia sehari setelah acara ceremony dan santunan anak yatim yaitu hari sabtunya dan selesai sore Senin (01/03/2021), dengan tujuannya adalah HMTS-UTU juga peduli terhadap sejarah,

Karena salah satu momentum terpenting lainnya pada bulan Februari adalah memperingati syahidnya Teuku Umar, menjadi icon utama kampus UTU menjadi sosok inspirasi utama bagi mahasiswa," katanya kepada media ini. Rabu,(03/03/2021).

Ia menyarankan di momentum Milad perlu merefleksikan kembali bagaimana perjalanan himpunan dari awal mulai dari masa pembentukan, sempat mengalami masa tranasisi karena vakum.

"Kemudian mulai bergabung dalam FORUM KOMUNIKASI MAHASISWA TEKNIK SIPIL INDONESIA (FKMTSI), memberanikan diri sebagai tuan rumah Temu wicara regional pada tahun 2015 dengan fasilitas kampus masih terbatas," ungkapnya

Lanjut Riza Marzi hingga sampai masa sekarang sudah mulai melaksanakan kegiatan-kegiatan tergolong besar seperti Civil Race and Exhibition (CRANE)

Terkait

DEMA FUF dan HmI Ushuluddin Gelar Diskusi Publik Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh Banda Aceh | Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (DEMA FUF) bekerja sama dengan HmI Komisariat Fakultas Ushuluddin menggelar Diskusi Publik di Warkop MK Kupi Premium, Ulee Kareng, pada 25 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh dalam Politik Perjuangan Aceh.” Dalam forum tersebut, panitia menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Zulfata Al-Ghazali (Direktur Lembaga Inovasi Indonesia) serta Tengku Raja Aulia Habibi (Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry). Keduanya memberikan pandangan kritis terkait dinamika politik Aceh dan kualitas tata kelola pemerintah daerah Ketua DEMA FUF, Zuhari Alvinda Haris, menyampaikan apresiasinya terhadap para pembicara yang dinilai berhasil mendorong peserta untuk berpikir lebih kritis terhadap kebijakan Pemerintah Aceh. “Saya senang melihat bagaimana penyampaian para pemantik mampu menghidupkan diskusi hari ini. Seluruh keresahan peserta terkait isu-isu aktual di Aceh dapat disampaikan secara lugas,” ujar Zuhari, Selasa, 25 November 2025. Ia menambahkan, seharusnya terdapat perwakilan DPR Aceh yang turut hadir sebagai representasi legislatif. Namun, ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh agenda rapat anggaran jelang paripurna DPRA pada 28 November 2025. Sementara itu, Ketua HmI Komisariat Ushuluddin juga menilai kegiatan ini sebagai langkah awal penguatan budaya intelektual mahasiswa. “Diskusi publik seperti ini penting untuk dirawat sebagai ruang pergerakan mahasiswa. Idealnya dilakukan secara berkala, setidaknya seminggu sekali agar semangat perjuangan dan kesadaran kritis tetap terjaga,” ungkapnya. Di balik penyelenggaraan diskusi ini, panitia menegaskan bahwa ruang-ruang seperti ini merupakan upaya membebaskan mahasiswa dari belenggu ketakutan untuk terlibat dalam perumusan arah kebijakan daerah. Selain itu, forum semacam ini menjadi wadah penting untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang seringkali tidak tertampung dalam mekanisme formal pemerintahan. Pada akhirnya, mahasiswa menegaskan kembali perannya sebagai perpanjangan tangan rakyat dalam mengawal stabilitas dan integritas kebijakan publik. Mereka menolak anggapan bahwa mahasiswa tidak layak dilibatkan dalam proses kebijakan. “Mahasiswa adalah agent of change, bukan ‘agent of peng’,” tegas Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Maka dari itu, mahasiswa wajib menilai bagaimana kejujuran dan kinerja pemerintah Aceh dalam fase kepemimpinan sekarang. Dan mahasiswa harus sadar akan posisi yang dimilikinya. Zuhari menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah Aceh, karena tidak ada satupun dari pemerintah dan legislatif yang dapat berhadir. "Pada diskusi ini jelas pihak pemerintah tidak bisa memberikan kejelasan yang jujur kepada publik, karena kami sudah mencoba menghubungi pihak pemerintah dan legislatif untuk bisa berhadir dalam diskusi publik ini. Dan jelas publik ingin tahu bagaimana kejujuran pemerintah Aceh dalam bekerja untuk rakyat Aceh. Dan jujur pemerintah Aceh takut mengungkap kebenaran" Jelasnya. Oleh karena itu, Patut menjadi tanda tanya bagi masyarakat, apakah pemerintah Aceh sekarang telah menjalankan fungsi mereka sebagai pemimpin dan perwakilan rakyat di pemerintahan atau tidak. Bahkan mereka takut untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana kinerja yang sebenarnya dari pemerintah Aceh sekarang ini.