OpenAI Siapkan Fitur Parental Control di ChatGPT Usai Digugat Terkait Kasus Bunuh Diri Remaja

3 Sep 2025 - 16:57
1 dari 3 halaman

Koranindependen.co | OpenAI, perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI), mengumumkan bahwa mereka akan segera meluncurkan fitur Parental Control pada ChatGPT dalam waktu dekat. Langkah ini diambil menyusul kasus bunuh diri yang menyeret nama ChatGPT.

Pekan lalu, OpenAI digugat terkait kematian seorang remaja di Amerika Serikat (AS). Dalam gugatan tersebut, orangtua remaja itu menuduh ChatGPT turut andil memberikan saran mengenai rencana bunuh diri sang anak. Berangkat dari hal itu, OpenAI menyiapkan fitur Parental Controls. Sesuai namanya, fitur ini memungkinkan orangtua memiliki kendali lebih atas pemakaian ChatGPT oleh anak atau remaja. Nantinya, akun anak bisa dihubungkan dengan akun orangtua, sehingga mereka dapat membatasi respons ChatGPT, termasuk menonaktifkan fitur tertentu seperti memory dan riwayat percakapan.

Selain itu, orangtua juga bisa memperoleh notifikasi otomatis apabila sistem mendeteksi anak mereka sedang menyampaikan perasaan tertekan, stres, atau kondisi emosional berisiko lainnya kepada ChatGPT. OpenAI juga menegaskan bahwa mereka bekerja sama dengan pakar di bidang kesehatan remaja, mulai dari ahli gizi, spesialis gangguan makan, hingga pakar penyalahgunaan zat yang kerap digunakan untuk bunuh diri.

Tujuannya agar ChatGPT mampu memberikan tanggapan dan saran yang lebih tepat saat remaja memasukkan prompt terkait permasalahan hidup mereka. Terkait hal ini, OpenAI juga menyiapkan teknologi baru yang dapat mengalihkan pengguna dari model AI “reguler” ke model AI yang memiliki kemampuan penalaran lebih tinggi. Pengalihan tersebut dilakukan otomatis ketika ChatGPT mendeteksi percakapan sensitif terkait bunuh diri, kesehatan mental, dan sejenisnya.

“Model AI penalaran akan lebih konsisten dalam mengikuti pedoman keselamatan dan lebih tahan terhadap upaya penyalahgunaan,” tulis OpenAI dalam pernyataan di blog resmi. Mengutip KompasTekno dari Engadget, Rabu (3/9/2025), fitur Parental Controls diperkirakan hadir pada Oktober mendatang, sementara fitur keamanan tambahan untuk remaja dijadwalkan rilis dalam 120 hari ke depan.

"Kami akan berusaha menghadirkan semua fitur keamanan untuk membuat remaja aman di ChatGPT setidaknya hingga tahun ini," pungkas OpenAI.

Terkait

DEMA FUF dan HmI Ushuluddin Gelar Diskusi Publik Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh Banda Aceh | Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin (DEMA FUF) bekerja sama dengan HmI Komisariat Fakultas Ushuluddin menggelar Diskusi Publik di Warkop MK Kupi Premium, Ulee Kareng, pada 25 November 2025. Kegiatan ini mengusung tema “Menilai Kejujuran dan Kinerja Pemerintah Aceh dalam Politik Perjuangan Aceh.” Dalam forum tersebut, panitia menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Zulfata Al-Ghazali (Direktur Lembaga Inovasi Indonesia) serta Tengku Raja Aulia Habibi (Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry). Keduanya memberikan pandangan kritis terkait dinamika politik Aceh dan kualitas tata kelola pemerintah daerah Ketua DEMA FUF, Zuhari Alvinda Haris, menyampaikan apresiasinya terhadap para pembicara yang dinilai berhasil mendorong peserta untuk berpikir lebih kritis terhadap kebijakan Pemerintah Aceh. “Saya senang melihat bagaimana penyampaian para pemantik mampu menghidupkan diskusi hari ini. Seluruh keresahan peserta terkait isu-isu aktual di Aceh dapat disampaikan secara lugas,” ujar Zuhari, Selasa, 25 November 2025. Ia menambahkan, seharusnya terdapat perwakilan DPR Aceh yang turut hadir sebagai representasi legislatif. Namun, ketidakhadiran tersebut disebabkan oleh agenda rapat anggaran jelang paripurna DPRA pada 28 November 2025. Sementara itu, Ketua HmI Komisariat Ushuluddin juga menilai kegiatan ini sebagai langkah awal penguatan budaya intelektual mahasiswa. “Diskusi publik seperti ini penting untuk dirawat sebagai ruang pergerakan mahasiswa. Idealnya dilakukan secara berkala, setidaknya seminggu sekali agar semangat perjuangan dan kesadaran kritis tetap terjaga,” ungkapnya. Di balik penyelenggaraan diskusi ini, panitia menegaskan bahwa ruang-ruang seperti ini merupakan upaya membebaskan mahasiswa dari belenggu ketakutan untuk terlibat dalam perumusan arah kebijakan daerah. Selain itu, forum semacam ini menjadi wadah penting untuk menyalurkan aspirasi masyarakat yang seringkali tidak tertampung dalam mekanisme formal pemerintahan. Pada akhirnya, mahasiswa menegaskan kembali perannya sebagai perpanjangan tangan rakyat dalam mengawal stabilitas dan integritas kebijakan publik. Mereka menolak anggapan bahwa mahasiswa tidak layak dilibatkan dalam proses kebijakan. “Mahasiswa adalah agent of change, bukan ‘agent of peng’,” tegas Presiden Mahasiswa UIN Ar-Raniry. Maka dari itu, mahasiswa wajib menilai bagaimana kejujuran dan kinerja pemerintah Aceh dalam fase kepemimpinan sekarang. Dan mahasiswa harus sadar akan posisi yang dimilikinya. Zuhari menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah Aceh, karena tidak ada satupun dari pemerintah dan legislatif yang dapat berhadir. "Pada diskusi ini jelas pihak pemerintah tidak bisa memberikan kejelasan yang jujur kepada publik, karena kami sudah mencoba menghubungi pihak pemerintah dan legislatif untuk bisa berhadir dalam diskusi publik ini. Dan jelas publik ingin tahu bagaimana kejujuran pemerintah Aceh dalam bekerja untuk rakyat Aceh. Dan jujur pemerintah Aceh takut mengungkap kebenaran" Jelasnya. Oleh karena itu, Patut menjadi tanda tanya bagi masyarakat, apakah pemerintah Aceh sekarang telah menjalankan fungsi mereka sebagai pemimpin dan perwakilan rakyat di pemerintahan atau tidak. Bahkan mereka takut untuk menjelaskan kepada masyarakat bagaimana kinerja yang sebenarnya dari pemerintah Aceh sekarang ini.