Menelusuri Jejak Spiritual, Rasionalitas Ilmiah, dan Relevansi Sosial dari Sebuah Ibadah Lintas Zaman
PUASA: Dari RITUAL PURBA ke LABORATORIUM TUBUH MANUSIA
Oleh: Yusrizal Ibrahim Lamno *)
Sejak kapan manusia berpuasa? Barangkali sejak ia pertama kali menyadari bahwa hidup bukan sekadar soal mengisi perut. Dalam hampir setiap peradaban kuno, kita menemukan jejak praktik menahan makan -- entah untuk berkabung, menyucikan diri, atau mendekat kepada Yang Transenden. Puasa bukan monopoli satu agama. Ia adalah bahasa purba umat manusia ketika berhadapan dengan misteri kehidupan.
Dalam tradisi Yahudi, misalnya, terdapat Yom Kippur, hari penebusan dosa yang dijalani dengan puasa penuh sekitar 25 jam. Umat Kristen mengenal masa Lent, empat puluh hari menjelang Paskah, dengan berbagai bentuk pantang dan pengendalian diri. Di dunia Hindu dan Buddha, puasa menjadi latihan disiplin spiritual -- mendidik tubuh agar tunduk kepada kesadaran batin.
Islam datang bukan membawa praktik baru, melainkan menegaskan kesinambungan sejarah itu. Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan bahwa puasa telah diwajibkan atas umat-umat sebelum Nabi Muhammad. Yang membedakan Islam adalah penetapan satu bulan kolektif: Ramadhan. Mengapa Ramadhan? Karena pada bulan itulah Al-Qur’an diturunkan -- sebuah momentum sejarah spiritual yang kemudian diabadikan menjadi kalender disiplin tahunan. Puasa bukan sekadar ritual individual, melainkan pengalaman sosial serentak. Pada jam yang sama, jutaan orang menahan lapar. Pada waktu yang sama, jutaan tangan terangkat berdoa.
Ada sesuatu yang khas dalam puasa Islam: ia adalah ibadah yang nyaris tak terlihat. Shalat punya gerak. Zakat punya angka. Haji punya perjalanan. Puasa hanya punya kesunyian. Orang bisa saja berpura-pura lapar di depan publik, tetapi yang mengetahui apakah ia benar-benar menahan diri hanyalah dirinya dan Allah. Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah berfirman: Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan Aku sendiri yang akan memberikan balasannya" (HR. Bukhari dan Muslim). Di sini, dapat kita lihat bahwa puasa itu merupakan laboratorium keikhlasan.