Menelusuri Jejak Spiritual, Rasionalitas Ilmiah, dan Relevansi Sosial dari Sebuah Ibadah Lintas Zaman

PUASA: Dari RITUAL PURBA ke LABORATORIUM TUBUH MANUSIA

17 Feb 2026 - 14:46
Yusrizal Ibrahim Lamno, Warga Banda Aceh yang Peduli pada Kemaslahatan Bangsa (Foto: Aga-KI.Co)
3 dari 3 halaman

Mana puasa yang terbaik? Bukan yang paling lama, bukan pula yang paling menyiksa. Puasa terbaik adalah yang memerdekakan manusia dari perbudakan naluri. Ia membuat seseorang mampu berkata “tidak” kepada dirinya sendiri. Dalam perspektif teologis, itulah makna takwa: kesadaran bahwa ada yang lebih tinggi daripada dorongan sesaat.

Akhirnya, puasa adalah perjalanan dari tubuh menuju makna. Ia bermula dari perut, tetapi berujung pada kesadaran. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan sekadar makhluk biologis yang harus terus diisi, melainkan makhluk spiritual yang justru tumbuh ketika belajar mengosongkan diri. Di situlah puasa menemukan keagungannya: bukan pada lapar dan hausnya, melainkan pada kebebasan yang lahir setelahnya. (* Penulis adalah pemerhati sosial, seni, budaya, dan politik)