Workshop Silvofishery Dorong Integrasi Restorasi Mangrove dan Ekonomi Pesisir di Aceh

28 Apr 2026 - 17:59

Banda Aceh | KORANINDEPENDEN.CO — Upaya menyelaraskan konservasi lingkungan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir menjadi sorotan utama dalam workshop bertema “From Restoration to Sustainability: Integrating Mangrove and Aquaculture through Silvofishery System” yang digelar di Universitas Syiah Kuala.
Kegiatan ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemerintah, mitra internasional, hingga praktisi untuk membahas solusi terpadu dalam menghadapi degradasi ekosistem mangrove dan tekanan perubahan iklim.
Dekan Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala dalam sambutannya menegaskan bahwa mangrove memiliki peran strategis sebagai penyerap karbon alami sekaligus penopang keanekaragaman hayati. Namun, keberlanjutannya sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan aspek ekologis dengan kebutuhan ekonomi masyarakat pesisir.
“Silvofishery menjadi jembatan penting antara konservasi dan pemanfaatan ekonomi. Pendekatan ini memungkinkan rehabilitasi mangrove berjalan seiring dengan kegiatan budidaya perikanan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Rektor Universitas Syiah Kuala juga menekankan bahwa kerusakan mangrove akibat alih fungsi lahan, polusi, dan praktik budidaya yang tidak berkelanjutan tidak dapat lagi ditangani dengan pendekatan sektoral. Menurutnya, diperlukan strategi terpadu yang menghubungkan ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.
“Kita tidak bisa lagi memisahkan ekologi dari ekonomi. Jika hanya mengejar keuntungan jangka pendek, maka kita berisiko menghadapi kerugian jangka panjang,” kata Rektor saat membuka acara secara resmi.
Workshop ini juga mendapat dukungan dari kerja sama internasional, termasuk kontribusi dari proyek KOICA-ICAB yang dinilai berperan penting dalam mendorong pengelolaan pesisir berkelanjutan di Aceh.
Ketua panitia, Prof. Muhammad Irham, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman tentang restorasi mangrove dan praktik akuakultur berkelanjutan, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor. Ia berharap forum ini dapat menghasilkan rekomendasi strategis bagi penelitian dan kebijakan ke depan.
Berbagai studi kasus dipresentasikan dalam workshop ini, mulai dari pengembangan silvofishery di Sumatera Utara, rehabilitasi mangrove di Jawa, hingga riset di Aceh yang mengkaji stok karbon, fluks CO₂, produktivitas, dan partisipasi masyarakat. Selain itu, pemanfaatan teknologi seperti citra satelit dan UAV juga menjadi perhatian dalam mendukung akurasi perhitungan blue carbon.
Para peserta menilai bahwa pendekatan silvofishery tidak hanya relevan secara ekologis, tetapi juga menawarkan solusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Workshop ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi semata, melainkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kolaborasi, inovasi, dan implementasi nyata dalam pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan, khususnya di Aceh dan Indonesia secara umum. [*]