Webinar Internasional HUT ke-20 Sukma Bangsa: Merawat Kolaborasi Global, Meneguhkan Pendidikan Transformatif
Salah satu pembicara internasional, Prof. Eero Ropo dari Finlandia, menyoroti pentingnya pendidikan dalam menghadapi krisis iklim yang kini menjadi persoalan global.
“Jika sekolah gagal mengajarkan kesadaran iklim hari ini, maka generasi mendatang akan mewarisi masalah yang jauh lebih besar daripada yang kita hadapi sekarang.”
Menurutnya, kurikulum masa depan tidak cukup hanya berisi pengetahuan, tetapi juga harus membentuk kesadaran, identitas, dan tanggung jawab peserta didik terhadap lingkungan dan keberlangsungan kehidupan manusia.
Sementara itu, akademisi asal Amerika Serikat, Dr. Tahir Schad, memberikan apresiasi terhadap perjalanan Sukma Bangsa selama dua dekade.
“Warisan terbesar sebuah sekolah bukan gedungnya, melainkan manusia yang dibentuknya.”
Ia menilai Sukma Bangsa telah menunjukkan bagaimana sekolah dapat menjadi ruang yang mempertemukan keberagaman, membangun kolaborasi lintas budaya, dan memperkuat hubungan kemanusiaan antarbangsa.
Dari Jepang, Prof. Yuji merefleksikan perjalanan panjang Sukma Bangsa sejak masa pemulihan pascatsunami hingga saat ini.
“Selama dua puluh tahun, Sukma Bangsa telah berkembang dari sekolah pemulihan pascabencana menjadi sekolah yang menyiapkan agen perubahan dan perdamaian.”
Ia menilai fase berikutnya adalah bagaimana Sukma Bangsa terus memperluas kontribusinya dalam menjawab tantangan pendidikan global sekaligus memperkuat perannya di tengah masyarakat.
Pada sesi pembicara nasional, Prof. Komaruddin Hidayat menegaskan bahwa budaya belajar harus dimulai dari para pendidik.
“Guru yang berhenti belajar sesungguhnya sedang menutup masa depan murid-muridnya.”
Menurutnya, pendidikan harus membantu peserta didik memahami identitasnya sebagai bagian dari masyarakat Aceh, bangsa Indonesia, sekaligus warga dunia yang memiliki tanggung jawab kemanusiaan.
Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Humam Hamid yang menilai bahwa kehadiran Sukma Bangsa merupakan bagian dari ikhtiar besar membangun kembali peradaban Aceh pascakonflik dan pascatsunami.
“Aceh pernah diuji oleh konflik dan tsunami. Sukma Bangsa hadir untuk memastikan pendidikan menjadi jalan lahirnya peradaban yang lebih kuat.”
Ia menegaskan bahwa kekuatan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari prestasi akademiknya, tetapi juga dari kemampuannya membentuk karakter dan integritas generasi muda.
Dr. Iryana dari Universitas Malikussaleh (UNIMAL) menekankan pentingnya sinergi antarlembaga pendidikan dalam membangun masa depan Aceh yang lebih baik.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak dapat diselesaikan oleh satu lembaga saja. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara sekolah, perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap pendidikan yang berkualitas.