Emping Melinjo Pidie: Dari Tugu Aneuk Mulieng Menuju Pasar Dunia

1 Jun 2025 - 19:43
1 dari 3 halaman

 

Di sebuah warung kopi di Sigli, sekelompok orang tengah duduk mengobrol. Di antara mereka ada Pak Isa Alima, mantan anggota DPRK Pidie yang dikenal sebagai pemerhati dan pejuang produk lokal, Teuku Anwar yang seorang pengusaha sukses, Almani Balqis yang pesimis, Bu Siti yang punya usaha UMKM kerupuk mulieng, dan Pak Sulaiman, petani melinjo yang sabar.

*Pak Isa*: "Bapak Ibu tahu nggak? Tugu Aneuk Mulieng yang baru saja diresmikan itu sebenarnya simbol kebanggaan kita. Kalau kita serius, emping melinjo Pidie bisa jadi produk yang mendunia, bukan cuma sekadar cemilan di warung kopi. Bayangin, kerupuk mulieng dijual di luar negeri, bisa jadi kuliner internasional loh!"

*Teuku Anwar* (nyengir lebar): "Iya Pak Isa, tapi untuk sampai ke sana, kita harus mulai dari yang kecil dulu. Mulai dari kebun melinjo, kita harus peremajaan pohon-pohon tua yang makin jarang. Kalau nggak, nanti empingnya malah makin tipis, kayak harapan saya waktu muda dulu. Eh, tapi jangan-jangan, kalau mulieng makin tipis, harganya bisa jadi lebih mahal, ya?"

*Almani Balqis* (dengan suara pesimis): "Ah, saya sih nggak yakin. Sudah banyak yang bilang 'emping melinjo Pidie ke dunia', tapi nyatanya masih ada yang beli dari luar Aceh. Nanti kalau kita peremajaan pohon melinjo, eh malah banyak yang jual ke luar daerah, saya sih tetap pesimis."