*Bu Siti* (menyela dengan semangat): "Ya, itu tantangan kita. Tapi kita bisa kok, Pak Almani! Kita punya semangat yang kuat di Pidie. Kalau Tugu Aneuk Mulieng bisa berdiri kokoh, kenapa produk kita nggak bisa jadi kebanggaan dunia? Jangan jadi penghalang, yuk bantu kita yang optimis!"
*Pak Isa* (dengan senyum bijak): "Benar, Bu Siti. Kita harus optimis. Tugu Aneuk Mulieng ini bukan hanya simbol, tapi juga panggilan untuk kita semua. Ini bukan hanya soal kerupuk mulieng, tapi tentang kebanggaan kita sebagai masyarakat Pidie. Kita harus menjaga dan melestarikan apa yang kita punya."
*Almani Balqis* (tersenyum pahit): "Ya sudah lah, saya sih ikut saja. Tapi nanti kalau emping Pidie beneran go internasional, saya yang pertama minta hak paten, ya?"
*Teuku Anwar* (tertawa keras): "Jangan lupa, Pak Almani. Nanti kalau jadi terkenal, kita bikin franchise 'Emping Mulieng Pidie' di seluruh dunia. Siapa tahu bisa jadi kaya raya, kan?"
Mereka semua tertawa bersama, meskipun ada yang masih ragu, tetapi semangat untuk memperjuangkan dan mengembangkan emping melinjo Pidie tetap menyala. Tugu Aneuk Mulieng yang berdiri kokoh di Sigli kini menjadi simbol kebanggaan dan harapan bagi mereka, bahwa suatu hari produk
lokal mereka bisa merambah dunia.