Emping Melinjo Pidie: Dari Tugu Aneuk Mulieng Menuju Pasar Dunia

1 Jun 2025 - 19:43
2 dari 3 halaman

*Bu Siti* (tertawa kecil): "Pak Almani, jangan pesimis begitu. Kita UMKM di Pidie sudah punya niat baik, meskipun belum ada yang beli, tapi yang penting kita terus berusaha. Yang penting jangan menyerah, toh Tugu Aneuk Mulieng saja berdiri kokoh meskipun ada yang pro dan kontra, kenapa emping melinjo nggak bisa?"

*Pak Sulaiman* (dengan serius tapi penuh humor): "Tunggu dulu, Bu Siti. Kalau kita mau serius, kita harus kembali ke kebun melinjo kita. Kalau pohon melinjo terus menua, kita nggak akan punya bahan baku yang cukup. Kalau saya perhatikan, pohon melinjo sekarang ini banyak yang kena penyakit, kadang-kadang malah jadi sarang musang. Bisa-bisa, emping kita jadi 'emping musang', Alias emping luwak lho!"

*Pak Isa* (tertawa): "Iya, Pak Sulaiman, jangan sampai nanti emping melinjo kita jadi ada rasa musangnya. Tapi benar, untuk menjaga kualitas, kita harus serius meremajakan pohon-pohon itu. Dan kalau perlu, pemerintah harus turun tangan, jangan cuma jadi penonton."

*Teuku Anwar*: "Nah, itu dia! Kalau pemerintah mendukung, kita bisa perkenalkan emping melinjo Pidie ke pasar internasional. Kita bisa bikin brand yang kuat, kayak 'Mulieng Crunch', atau 'Mulieng Supreme', siapa tahu kan?"

*Almani Balqis* (masih skeptis): "Ah, kalau brand-brand gitu sih gampang, tapi kalau logistiknya gimana? Kirim emping ke luar negeri, nanti bisa-bisa rusak, entar orang luar sana malah nggak tahu cara makan empingy yang bener."