_Namun Sarjani dan Al-Zaizi sadar: program saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah semangat baru._
Di balik megahnya nama Pidie, masih banyak cerita yang tertinggal. Seorang petani menatap langit, bertanya mengapa pupuk tak juga sampai. Seorang anak di pelosok menulis mimpi-mimpinya di halaman buku yang sudah lecek. Seorang ibu di puskesmas menunggu obat untuk bayinya, sementara seorang pegawai menumpuk laporan yang tak pernah dibaca.
Pidie bukan tidak punya potensi. Lahan ini subur. Lautnya luas. Gunungnya bijak. Manusianya cerdas. Tapi seperti benih yang ditanam di tanah gersang, potensi tak akan tumbuh jika tak dirawat dengan sungguh-sungguh.
Saatnya kita membalik halaman. Menulis babak baru.
Pidie harus tumbuh dari dalam. Dari guru yang tak menyerah. Dari perawat di pedalaman. Dari ASN yang jujur. Dari pemimpin yang berjalan bersama rakyat, bukan berdiri di atas panggung. Dari setiap warga yang percaya bahwa rumah ini masih bisa indah kembali.
Mari kita bangun kembali rumah ini. Dengan niat yang tulus, kerja keras yang ikhlas, dan semangat yang tidak mudah lelah.
Karena Pidie adalah rumah.
Dan rumah ini… pantas untuk diperjuangkan.
Untuk kita. Untuk anak-anak kita. Untuk masa depan yang lebih bermakna.