Wali Santri MTsS Nurul Falah Meulaboh Keluhkan Fasilitas Belajar, Program Ibda’ Kitab, dan Digitalisasi

“Kalau hanya belajar kitab beberapa menit, lalu dilanjutkan dengan kegiatan refreshing, rasanya itu tidak efektif. Akan lebih baik jika kegiatan tersebut dilakukan di sekolah saja dengan mendatangkan tengku pengajar, atau di pesantren yang masih berada di wilayah Aceh Barat,” ungkap wali santri lainnya dengan nada kecewa.
Program ini juga dianggap kurang memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan santri. Jarak yang jauh serta biaya tambahan yang harus dikeluarkan wali santri menjadi beban tersendiri, apalagi jika manfaat yang dirasakan tidak sepadan dengan pengorbanan tersebut.
Kepala MTsS Nurul Falah Meulaboh, Alhadi, saat dikonfirmasi, Minggu (27/7/25) menjelaskan bahwa keterlambatan penyediaan kursi dan meja disebabkan oleh keterlambatan dari pihak produksi.
“Kursi dan meja memang agak terlambat siapnya, karena kita memesan kursi dan meja tempahan. Kita sudah memesan dari jauh hari, tapi dari pihak produksi tidak bisa menyelesaikan tepat waktu,” jelasnya.
Terkait program Ibda’ Kitab, ia menyebut hal itu merupakan kewenangan pimpinan pesantren. “Masalah Ibda' Kitab saya teruskan ke pimpinan pesantren, karena itu merupakan kebijakan mereka,” tambahnya.
Keluhan lain juga datang dari wali santri terkait program digitalisasi. Mereka mengungkapkan bahwa sejak dua bulan lalu, mereka sudah diminta melunasi biaya program digital sebesar Rp999.000, namun hingga saat ini, fasilitas program tersebut belum tersedia.