Koranindependen.co | Puluhan pegiat pelestarian warisan budaya, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, berkumpul dalam sebuah lokakarya bertajuk Rural Cultural Landscape of Koto Gadang yang berlangsung di Sumatera Barat pada 18–22 Agustus 2025. Kegiatan ini bertujuan mendokumentasikan kekayaan budaya serta lanskap desa bersejarah Koto Gadang, yang terletak di lereng Gunung Singgalang.
Lokakarya ini merupakan hasil kerja sama antara organisasi lokal Kage Sumbar dengan 13 institusi, termasuk sejumlah lembaga nasional dan internasional seperti Pan-Sumatra Network for Heritage Conservation (Pansumnet), ICOMOS Indonesia, Heritage Hands-on dari Belanda, dan Community Tourism Development Association of Tainan City dari Taiwan.
"Kami memiliki empat tujuan utama: pendokumentasian kultur dan lanskap Koto Gadang, peningkatan kesadaran masyarakat lokal, pemberdayaan pemuda, dan revitalisasi desa," jelas Hasti Tarekat dari Heritage Hands-on Belanda, selaku inisiator kegiatan tersebut, pada Selasa, 20 Agustus 2025.
Para peserta yang memiliki latar belakang dari berbagai bidang keilmuan—seperti arsitektur, arsitektur lanskap, pariwisata, ekonomi, hingga komunikasi—dibagi ke dalam tiga kelompok kerja. Mereka menggunakan pendekatan Rapid Scanning dari metode Historic Urban Landscape (HUL) untuk mengevaluasi warisan budaya berwujud, tak berwujud, pariwisata, dan aspek lanskap.
Koto Gadang menyimpan potensi besar sebagai tujuan wisata budaya. Terletak tidak jauh dari Ngarai Sianok, desa ini masih memiliki rumah-rumah bergaya Indische peninggalan kolonial. Selain itu, masyarakat setempat masih melestarikan tradisi kerajinan perak dan sulaman yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.