2 dari 2 halaman
Kini, pertanyaan besar mengemuka: apakah pemerintah ingin menjadikan pajak sebagai sarana membangun, atau sekadar menutup lubang defisit tanpa memperhatikan keadilan sosial? Jika yang kedua yang terjadi, maka protes yang bermunculan bukanlah sekadar ekspresi amarah, melainkan tanda bahwa kontrak sosial antara rakyat dan negara sedang retak.
Pemerintah harus segera mengoreksi kebijakan ini. Pajak bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan representasi kepercayaan. Dan sekali kepercayaan itu hilang, akan sangat sulit untuk dikembalikan. [*]