Si Dungu dan Si Baik Hati: Refleksi Banjir Sumatera dan Dosa Ekologis Bangsa

15 Dec 2025 - 11:54
2 dari 2 halaman

Banjir Sumatera, menurut penulis, seharusnya menjadi i‘tibar atau pelajaran nasional. Hari ini korban terbesar adalah masyarakat kecil, namun ke depan dampaknya bisa menimpa siapa saja. Di tengah keterbatasan negara, solidaritas rakyat tampak nyata melalui gerakan donasi dan bantuan langsung di lapangan. Namun, ia menilai peran pemerintah masih perlu diperkuat, baik dalam penetapan status bencana, mitigasi, maupun rehabilitasi jangka panjang.

Dengan kondisi geografis Indonesia yang berada di jalur Sesar Semangko dan kawasan “ring of fire”, ancaman bencana tidak pernah jauh. Oleh karena itu, kesiapsiagaan, perlindungan hutan lindung, moratorium serius terhadap perusakan hutan, serta penguatan sistem penanggulangan bencana dinilai sebagai keharusan, bukan pilihan.

Tulisan tersebut ditutup dengan ajakan moral: bangsa ini diminta memilih menjadi “si baik hati” yang berbudi kepada alam dan kehidupan, bukan “si dungu” yang abai terhadap hutan dan keselamatan masa depan generasi Indonesia. [*]