Resensi Film

NOEH (Pasung): Melucuti Rantai, Menguliti Prasangka

15 Feb 2026 - 16:15
Penulis menonton Film NOEH di dalam hujan lebat. Insert: para penonton sebelum dan setelah hujan. (Foto: Ral-Edt)
2 dari 3 halaman

Dramaturgi film itu tidak meledak-ledak. Struktur konfliknya cenderung linear dan datar -- barangkali karena latar belakang sutradaranya yang kuat di dokumenter. Namun justru di situlah letak wataknya: ia lebih memilih jalur edukatif ketimbang sensasional. Kamera tidak mengeksploitasi penderitaan Ishak, melainkan memosisikannya sebagai subjek yang bermartabat. Film tersebut terasa seperti brosur kemanusiaan yang difilmkan -- terang, lugas, dan fungsional.

Yang menarik, film itu tidak hanya diperankan oleh seniman-seniman dari Taman Seni Budaya Aceh saja, tetapi juga melibatkan pasien dan petugas RSJ sendiri. Ada Zefa, Kuratu, R. Aulia, Isma Bahari, Muna, dan sejumlah nama lain yang tampil dengan akting wajar, bahkan jujur. Kehadiran mereka memberi tekstur autentik: batas antara fiksi dan realitas menjadi tipis. Seolah-olah layar tidak sedang menampilkan cerita orang lain, melainkan potongan hidup yang sehari-hari ada di sekitar kita.

Simbolisme film tersebut cukup terasa. Ishak bukan hanya individu yang dipasung, melainkan metafora bagi masyarakat yang terbelenggu ketakutan dan prasangka. Dalam tafsir yang lebih luas, ia bisa dibaca sebagai sindiran atas realitas sosial yang terjerat beban -- hutang, stigma, dan warisan cara pandang lama. Namun film itu tidak memaksakan tafsir, ia cukup memberi ruang bagi penonton untuk merasakannya.

Peristiwa pemutarannya sendiri menjadi bab penting. Hujan lebat tak membubarkan penonton -- sebuah “hutbar” (hujan tak bubar) yang menjadi antitesis dari misbar (gerimis bubar). Sekat kursi di antara penonton lelaki dan perempuan, yang lazim dalam banyak acara, pun luluh oleh cuaca tanpa menghadirkan kegaduhan yang selama ini dikhawatirkan. Malam itu, solidaritas mengalahkan kecanggungan. Film menjadi terapi kolektif: pasif bagi yang menonton, aktif bagi yang terlibat.

Pada akhirnya, NOEH (Pasung) bukan film yang hendak memukau lewat teknik sinematik canggih. Ia bekerja lewat ketulusan pesan. Ia mengingatkan bahwa pasung bukan solusi medis, melainkan ironi sosial -- lahir dari ketakutan dan minimnya akses layanan, namun justru memperparah keadaan. Film tersebut mungkin tidak menawarkan kompleksitas psikologis yang dalam, tetapi ia berhasil menyampaikan pesan dasarnya dengan terang: ODGJ bukan untuk dikurung, melainkan dirawat dan dipulihkan dengan martabat.