Keahlian Teuku Nyak Puteh dalam menari dan melantunkan syair-syair Aceh membuat namanya cukup dikenal di kawasan Lhokseumawe. Namun sebuah peristiwa dalam pertandingan Seudati yang menggunakan sistem tunang atau taruhan mengubah jalan hidupnya.
Dalam tradisi tersebut, pihak yang kalah harus meninggalkan kampung halamannya. Setelah mengalami kekalahan, Teuku Nyak Puteh memilih memegang teguh kesepakatan yang telah dibuat. Dengan menanggung rasa malu, ia meninggalkan Aceh dan berlayar menggunakan kapal barang dari Pelabuhan Pusong, Lhokseumawe menuju Pulau Pinang.
Setibanya di Pulau Pinang, ia bekerja sebagai kelasi kapal sebelum kemudian memperoleh pekerjaan pada instansi yang berada di bawah administrasi kolonial Inggris.
Lahirnya Sang Legenda
Sekitar lima tahun setelah menetap di Pulau Pinang, Teuku Nyak Puteh menikahi Chek Mah Hussein. Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra pada 22 Maret 1929 yang diberi nama Zakaria.
Kelak, nama Zakaria berkembang menjadi Ramlee Puteh, sebelum akhirnya dikenal luas dengan nama panggung P. Ramlee, singkatan dari "Puteh". Nama inilah yang kemudian melegenda dalam sejarah perfilman dan musik Malaysia.