Festival QRIS 2026 Jadi Ruang Nyata Inklusi Ekonomi, FKM BKA YWU Buka Akses Pasar, Karier, dan Ruang Ekspresi bagi Penyandang Disabilitas
Kerja tersebut juga sejalan dengan agenda FKM BKA YWU dalam SDG 5 tentang Kesetaraan Gender, SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Inklusif. Dalam kerja monitoring sebelumnya bersama APWLD, FKM BKA YWU menemukan bahwa perempuan dengan disabilitas menghadapi hambatan struktural dalam memperoleh pekerjaan, penghasilan, pelatihan keterampilan, layanan publik, serta ruang pengambilan keputusan.
Melalui kerja-kerja Development Justice bersama APWLD, FKM BKA YWU tidak berhenti pada pengumpulan data. Organisasi mendorong perempuan dengan disabilitas untuk menjadi bagian dari proses monitoring, menyampaikan pengalaman mereka dalam dialog publik, dan memengaruhi kebijakan. Pengalaman tersebut menghasilkan People’s Development Justice Report yang mendokumentasikan kesenjangan terkait pekerjaan, aksesibilitas perkotaan, serta pengalaman perempuan dengan disabilitas di Aceh.
Dalam fase berikutnya, pendekatan tersebut diperkuat melalui program “Inclusive Data, Inclusive Future: Strengthening Women with Disabilities’ Voices in SDG Monitoring in Aceh”, yang diajukan FKM BKA YWU dalam APWLD Alumni Sub-grant 2026–2027. Program ini diarahkan untuk memperbarui data terpilah gender dan disabilitas, memperkuat community-led monitoring, membangun kapasitas perempuan dan perempuan muda dengan disabilitas, serta memperkuat dialog dengan pemerintah terkait implementasi UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Qanun Aceh No. 7 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan.
Karena itu, keterlibatan FKM BKA YWU di Festival QRIS 2026 dapat dilihat sebagai salah satu bentuk nyata dari agenda yang lebih luas: mengubah inklusi dari sekadar wacana menjadi kesempatan yang benar-benar dapat digunakan oleh penyandang disabilitas. Data dan advokasi dibutuhkan untuk mendorong perubahan kebijakan, sementara ruang seperti festival, pasar, booth karier, dan kegiatan publik memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk melihat langsung kemampuan dan kontribusi penyandang disabilitas.
Arah tersebut juga konsisten dengan Strategic Plan FKM BKA YWU 2026 yang menempatkan inclusive livelihoods and economic empowerment sebagai salah satu tujuan strategis organisasi. FKM BKA YWU menargetkan penguatan keterampilan praktis bagi penyandang disabilitas, perluasan akses terhadap pasar, mentoring dan dukungan usaha, serta penguatan hubungan dengan pemangku kepentingan untuk mendukung inisiatif ekonomi yang inklusif.
Bagi FKM BKA YWU, perjuangan untuk pembangunan yang inklusif membutuhkan dua hal yang berjalan bersama. Pertama, memastikan pengalaman dan kebutuhan perempuan dengan disabilitas terlihat dalam data, perencanaan, penganggaran, dan kebijakan. Kedua, memastikan mereka memperoleh ruang untuk tampil, bekerja, berkarya, berusaha, dan mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Pada malam hari, 14 anak penyandang disabilitas juga mendapatkan kesempatan tampil dalam fashion show yang menjadi bagian dari rangkaian festival. Kegiatan tersebut menjadi ruang ekspresi sekaligus kesempatan bagi anak-anak untuk tampil di ruang publik dan membangun kepercayaan diri.
Fashion show yang merupakan kolaborasi SLB dan komunitas perias memperlihatkan bahwa inklusi tidak selalu harus dimulai dari program yang besar. Memberikan kesempatan kepada seorang anak untuk tampil di depan publik, kepada seorang ibu penyandang disabilitas untuk menjual produknya, atau kepada pelaku UMKM disabilitas untuk bertemu langsung dengan konsumen merupakan langkah konkret untuk mengurangi stigma dan membuka akses.
Hal ini juga sejalan dengan prinsip M&E FKM BKA YWU yang menempatkan partisipasi, akuntabilitas, transparansi, pembelajaran, dan keterlibatan penerima manfaat sebagai prinsip penting dalam pelaksanaan program. Sistem M&E organisasi juga menekankan pengumpulan data terpilah gender, keterlibatan kelompok marginal, serta penggunaan temuan untuk memperbaiki kualitas program dan pengambilan keputusan.
Dengan demikian, Festival QRIS 2026 bukan hanya tentang bagaimana masyarakat melihat karya penyandang disabilitas, tetapi juga tentang bagaimana ruang ekonomi dan ruang publik mulai dibuka lebih setara. FKM BKA YWU melihat bahwa pembangunan yang inklusif tidak cukup hanya dengan mengundang penyandang disabilitas hadir dalam sebuah kegiatan. Mereka harus memiliki kesempatan untuk mengambil peran, menentukan pilihan, memperoleh penghasilan, mengembangkan keterampilan, menyampaikan pendapat, dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.